Skip to main content

Dunia Hanya Ada Untukku: New

Dunia Hanya Ada Untukku: New


-Tuan Putri #1 di Dunia-

Musim panas di pusat kota. Meski terik matahari membakar, orang-orang tetap lalu lalang seolah tak memedulikannya. Beberapa melambat, bahkan berhenti sejenak, memfokuskan pandangan mereka ke satu arah yang sama.


Ke arah area terbuka di antara gedung-gedung komersial menjulang. Terdapat individu yang menarik perhatian. Ia berdiri sendirian, tegak, seolah bukan bagian dari keramaian itu. Di antara mereka yang hanya bisa menatap diam, seorang laki-laki berlari menghampirinya.


“Hah–hah–hah. Maaf, aku terla–”


“Lambat! Sekali lagi kamu membiarkan aku–seorang tuan putri–menanti sendirian! Dan, pakaian apa yang kamu kenakan itu? Itu bukan pakaian seorang pangeran yang datang untuk menjemput tuan putrinya!”


... Maaf. Tapi, hari ini lagi panas banget, jadi aku milih pakai ini.”


Objek yang sejak tadi diperhatikan orang-orang itu rupanya seorang gadis muda dan cantik. Ia berdiri sendirian, memasang raut kesal, sesekali sempat terlihat menghentakkan jari tangannya. Jelas sedang menunggu seseorang yang tampaknya terlambat.


Ketika melihat orang yang ditunggunya datang, amarahnya tak lagi terbendung. Orang yang dinantinya itu datang hanya dengan mengenakan kaos longgar polos berwarna abu-abu dan celana dengan warna serupa yang panjangnya hingga selutut. Rambutnya tampak tidak terlalu rapi, banyak helai mencuat ke atas.


Lengkap dengan tas selempang berwarna hitam. Bagian rapi darinya mungkin hanya sepatu kasual yang dikenakannya. Bertali, dengan warna coklat kemerahan.


“Lalu, apa alasan keterlambatanmu?” tanya si gadis itu, tak berniat menyudahi perkara ini.


“Chat kamu–maksudku, aku agak tidak terlalu kenal wilayah ini,” jawab si cowok.


Singkatnya, ia sedikit tersesat di perjalanan.


“Hmm, padahal sudah kupetakan dengan rinci.”


Di zaman yang sudah modern ini?


Mendengar itu, si cowok membuka ponselnya dan melihat pesan yang dikirim oleh si gadis semalam. Pesan yang dikirimkan pada pukul sembilan malam tersebut berisi:

“Selamat malam, Pangeran.

Malam ini terasa begitu indah, langit bersih tanpa hujan dan awan, hanya bintang-bintang yang berkilau ditemani angin yang lembut. Esok pun pasti akan sama indahnya.

Kebetulan, esok aku memiliki waktu luang. Bisakah kita berjumpa dan menghabiskan hari bersama? Aku akan ada di alun-alun selatan kota, yang dikelilingi balai-balai megah para serikat dagang dari berbagai kerajaan.

Aku yakin esok akan sangat terik, membakar bahkan. Jadi mari kita berjumpa sebelum mentari naik hingga ke singgasananya.”

Mengingat sudah beberapa bulan mereka menjalin hubungan romantis ini, ia tak terkejut dengan pesan tersebut. Hanya sedikit kesulitan untuk ‘menerjemahkannya’ ke dalam bahasa yang normal. Kadang ia juga kesulitan menemukan gadisnya itu, yang gemar berganti gaya rambut.

Ada cara paling mudah untuk menemukannya, yaitu cari seseorang dengan penampilan mencolok dan banyak dikerumuni orang. Namun, di kota besar seperti ini, banyak orang berpenampilan modis dan mencolok, jadi cara itu tidak selalu bisa diandalkan.

Akan tetapi, hari ini, gadisnya sangat mudah ditemukan, yang berarti saat ini penampilan gadisnya itu sedang benar-benar mencolok.

“Kamu, seperti biasa, terlihat menawan, Tuan Putri.”

“...!”

Pujian itu membuatnya terkejut. Datang seperti air yang cepat memadamkan api amarahnya. Ia tersenyum gembira, meski berusaha menahannya agar tidak kelihatan terlalu girang.

Lagi pula, memang sudah seharusnya ia mendapat pujian tersebut, pikirnya.

Pakaian ini adalah set spesial, pertama kalinya ia kenakan. Bukan hanya pakaiannya, rambutnya pun hadir dengan warna dan gaya baru. Ia mengecat rambut panjangnya menjadi biru kehijauan terang, warna yang berkebalikan sejak kencan sebelumnya.

Rambutnya diikat dua kuncir panjang di sisi kanan dan kiri kepala, menjuntai sampai melewati lutut. Rambutnya terlihat halus, lurus, dan mengembang di bagian ujungnya. Di dekat ikatan rambut, ada aksesori kecil berwarna gelap seperti pita atau hiasan berbentuk runcing. Tentu, ia juga mengenakan dengan lensa kontak berwarna senada.

Ia mengenakan atasan berwarna putih krem berlengan pendek. Di bagian dada ada pita kecil berwarna hitam yang tergantung ke bawah. Bagian pangkal atasannya sedikit melebar seperti rok mini tipis yang menyatu dengan baju, memberi kesan ringan dan feminin.

Di bawahnya, ia memakai rok pendek berwarna hitam dengan model bertumpuk. Rok itu cukup pendek. Di tangan kirinya melingkar ikat rambut berwarna merah. Ia juga mengenakan stocking hitam panjang yang menutupi paha hingga ke bawah, menyisakan sedikit jarak antara pangkal rok dan bagian atas stocking.

Tak lupa sepatu merah mengilap dengan desain mencolok. Talinya berwarna merah, melilit hingga ke pergelangan kaki, membentuk simpul pita di depan. Ujung sepatunya agak runcing, dan bagian depannya memiliki detail kecil berwarna putih.

Keseluruhan setelan itu menarik perhatian semua orang padanya. Tak tahu dan tak peduli apa yang dipikirkan orang lain, selama mendapat perhatian yang diinginkannya, itu sudah cukup. Seorang tuan putri di tengah kota, sudah seharusnya mereka semua memperhatikannya.

“Pertama kali aku liat kamu pakai baju itu. Rambut itu, sepatu, dan semuanya…”

“Tentu saja! Aku selalu ingin terlihat sebagai tuan putri yang cantik sekaligus imut di matamu. Berbahagialah!”

“Aku tau. Aku mencintaimu.”

“... Bagus,” ucap si gadis, membuang muka ke samping. “Sepertinya kamu sudah banyak belajar dari kencan-kencan kita sebelumnya. Pintar.”

“Tentu,” balas si cowok itu, meraih tangan tangan si gadis.

Memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga kaki, memujinya, mengungkapkan cinta, lalu menggenggam tangannya sudah hampir menjadi hal otomatis bagi si cowok. Selama beberapa kencan sudah dilalui, ia hampir tak pernah mengeluh.

Sejak kencan menunggang kuda bulan lalu, tuan putrinya telah banyak berubah. Gadis itu semakin sering mengajaknya bertemu, semakin sering mengobrol, dan semakin banyak melakukan melakukan sentuhan kecil.

Hubungan mereka pun kian dekat, sebagaimana pasangan yang berpacaran pada umumnya. Setelah fase ini, si cowok itu berpikir tahap berikutnya adalah untuk mulai lebih sering mengutarakan keinginannya dengan bebas.

“Kamu ada rencana mau ke mana?” tanya si cowok, berjalan di depan sambil menggandeng tangan si gadis.

“Tidak ada. Aku hanya ingin kita menghabiskan waktu bersama.”

“Oke.”

“Tapi–”

Baru beberapa langkah, si gadis berhenti dan menahan tangannya. Bingung, si cowok menoleh ke belakang.

“Sebelum itu, kamu lihat banyak balai dagang megah di sekitar sini? Ayo kunjungi salah satunya dahulu.”

“Mall? Kamu mau belanja?”

“Ya. Pakaian. Untuk kamu.”

“Kenapa?”

“Aku, seorang tuan putri, tidak ingin berjalan dengan pangeran berpakaian lusuh seperti itu. Apa kata rakyat jelata yang melihatnya nanti?”

“... Baik.”

Tanpa pikir panjang, si cowok melangkah menuju salah satu mal di sana, tepatnya ke toko pakaian. Ia sadar pakaiannya kali ini pasti akan dikomentari si gadis. Namun mau bagaimana lagi, tadi saja ia hampir terlambat.

Ia datang bukan langsung dari rumah.

“... Dan, pakaian itu, apakah itu pakaian seorang tuan putri?”

Tidak bohong, si cowok sudah bertekad untuk harus lebih banyak mengungkapkan perasaannya, dan kini ia melakukannya.

“...” si gadis tidak langsung menjawab. Ia menatapnya sejenak dalam diam, entah sedang memikirkan apa.

“Tidak salah lagi, dari sudut mana pun kamu melihatnya, aku dengan setelan ini tampak seperti seorang tuan putri yang menawan. Ya, kan? Matahari terlalu terik, memaksaku berpakaian agak santai seperti ini.”

“Oh… Kalo gitu, aku juga sama, kan? Aku enggak ingin kepanasan.”

“Itu berbeda. Baiklah, aku mengerti. Tapi, setidaknya pakailah yang sedikit lebih layak!” balas si gadis.

“...”

Merasa puas dengan obrolan itu, si cowok kembali melanjutkan langkahnya. Ia sudah tidak memiliki banyak energi tersisa, sejak berlari menuju kemari tadi. Masuk ke tempat sejuk seperti mal mungkin bisa mengembalikan tenaganya.

Lagipula, apa yang diucapkan si gadis masuk akal, untuk tidak berpakaian yang biasa ia kenakan–gaun tebal dan membiarkan rambut terurai layaknya seorang Tuan Putri.

“Omong-omong, kamu jadi banyak bicara kali ini, pangeranku yang biasanya dingin.”

“... Maaf.”

“Aku… tidak bilang kalau itu salah, kan?”

“...!”

Ucapan itu sedikit mengejutkan si cowok. Nada si gadis terdengar lebih rendah dan malu-malu, lalu tanpa diduga ia mengeratkan genggaman tangannya. Sentuhan itu terasa lebih dalam, membuat si cowok merasakan kehangatan mengalir dari tangan si gadis, meski mereka sedang berada di dalam mal dengan hembusan dingin AC dari segala sisi.

Tiga puluh menit kemudian.

Di dalam toko baju, di depan ruang ganti, si gadis menunggu si cowok keluar dengan mengenakan pakaian yang telah dipilihnya. Ia yakin pakaian itu akan cocok, sebab itu dirinya menunggu dengan wajah tak sabar.

“Aku ingin tahu. Apa kamu sudah menyelesaikan tugas musim panas dari akademi?” tanya si gadis dengan tiba-tiba, memecah keheningan.

“Belum…”

“Oh, pangeranku bodoh?”

“Bukan. Aku udah mengerjakan sebagian, hanya belum semuanya. Aku… ada kesibukan lain.”

“Dan, apa kesibukan lain itu?”

“... Aku ambil pekerjaan di beberapa tempat.”

“Apakah itu alasan kamu berpakaian seperti tadi?”

“Ya…”

Tiba-tiba saja si gadis menanyakan tugas kuliah libur musim panasnya. Suara itu mengejutkannya yang sedang berganti pakaian.

Sehelai tirai pembatas seolah tak mampu menghalangi mereka, karena si cowok tahu persis ekspresi apa yang dibuat si gadis dan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Seorang pangeran sepertimu, bekerja di banyak tempat, dan dengan baju seperti tadi?! Baru pertama kali aku mendengar ini!”

“Aku… aku butuh pekerjaan-pekerjaan itu. Kamu tau, uh, saat ini ekonomi di kerajaanku sedang tidak baik. Aku butuh menghasilkan beberapa dana tambahan. Ada sesuatu yang ingin kubeli...”

“Hmm… Kalau memang seperti itu keadaannya, kamu bisa konsultasi denganku. Aku bisa bantu.”

“Ah, ketika aku bilang begitu, itu tidak seburuk yang kamu kira, kok. Jadi kamu enggak perlu khawatir.”

“... Baiklah, aku pegang kata-katamu itu… Memangnya kamu mau membeli apa sampai bekerja sekeras itu?”

“...!”

Tirai itu dengan baik menyembunyikan keterkejutan si cowok.

“Omong-omong, kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang kesibukanku?” tanya si cowok, mencoba mengalihkan perhatian.

“Oh, aku hanya tidak ingin kamu terlalu sibuk dengan tugas akademi sampai m-melupakanku–” gumam si gadis, sedikit tersipu.

“Tunggu, kamu mengelak dari pertanyaanku sebelumnya!”

Sret…

“...!!”

Suara tirai ruang ganti terbuka cepat dan nyaring. Si cowok muncul di hadapannya. Segera si gadis memperhatikannya dengan seksama tiap-tiap inci darinya. Si cowok berpikir hanya itu cara mengalihkan perhatian dari si gadis. Entah apa yang sedang disembunyikannya.

“Hmm… ya, begini lebih cocok,” ucap si gadis sambil mengangguk, bangga dengan pilihannya.

“Oke. Kamu tunggu di luar, aku yang ke kasir,” kata si cowok.

Ia kembali masuk ke dalam ruang ganti dan menghela napas lega. Segara ia merapikan baju dan celana yang dipakai sebelumnya. Sekalian, ia kembali menatap cermin. Si gadis memilihkan kemeja lengan pendek berwarna putih tulang. Kancing atas sengaja terbuka.

Keseluruhan, setelan ini terlihat santai namun tetap rapi. Di balik kemeja itu ada kaus biru sebagai dalaman. Ia juga dipilihkan celana panjang chino berwarna coklat muda yang membuat penampilannya sedikit lebih dewasa. Ia tidak membenci kombinasi ini.

Beberapa menit kemudian, si cowok berjalan keluar. Di sana si gadis menunggu dengan patuh. Ia menghampirinya dengan kedua tangan penuh–tas plastik berisi pakaian lamanya dan tas selempangnya.

Saat itu, ia sadar bahwa gadisnya tidak membawa tas atau apa pun sejenisnya.

“Maaf membuatmu menunggu.”

“Tidak apa. Kamu… bisa pakai tasmu kembali, karena kurasa akan tetap cocok.”

Tanpa berkata apa-apa, si cowok segera melaksanakan perintah sang Tuan Putri. Jujur, ia sempat mengira si gadisnya mungkin akan berkata seperti, “Tas itu tidak cocok kalau kamu pakai kembali,” atau semacamnya.

Berbicara soal tas…

“Kamu enggak bawa tas, Tuan Putri?”

“...! A-aku bawa, kok.”

“Di mana? Juga, HP kamu mana?” tanya si cowok, mengamatinya.

“Jangan bilang, dicuri?!” dan dengan cepat menyimpulkan hal tersebut.

“Bukan, bukan. Tasku… aku sedang titipkan!”

“Ke siapa?”

Grh! Sudah, ayo lanjutkan jalan dulu!” ucap si gadis, menarik tangan si cowok dan lanjut berjalan.

“Tunggu. Jawab aku dulu, ke siapa kamu titipkan barangmu?”

Kali ini, si cowok yang menarik tangan dan menghentikan langkah mereka. Ini bukan hal yang bisa diabaikan. Mengingat bagaimana kehidupan si gadis selama ini, pikirannya kini dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

“Aku tidak suka mengulangi perkataanku, kau tahu itu, kan?”

Gadis itu mengerutkan keningnya, menajamkan matanya.

“Aku tau…”

“Kalau begitu, ayo lanjut berjalan.”

“Ke mana? Tadi kamu bilang tidak ada rencana mau ke mana hari ini.”

“Perubahan rencana. Ada tempat yang ingin aku tuju sebelum kita melanjutkan kencan ini.”

“Oke…” jawab si cowok dengan tidak puas, masih mengharapkan penjelasan.

Si gadis kembali melangkah memimpin. Si cowok, yang tidak tahu akan ke dibawa ke mana, mengikuti di belakang dengan tangannya ditarik. Ia dibawa keluar mal, menyebrangi jalan besar, melewati beberapa tikungan, lalu menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah.

“Ini, kan…” ucap si cowok tak percaya, ketika si gadis tidak berhenti di loket tiket ataupun peron kereta.

Mereka justru berhenti di area luas dekat tangga. Tempat ini dipenuhi orang yang lalu lalang, bukan untuk membeli tiket, apalagi menunggu kereta. Ini adalah tempat di mana dindingnya terbuat dari besi, dipenuhi pintu-pintu kotak dan persegi panjang vertikal yang bisa dibuka.

Ya, ini adalah deretan loker koin, tempat orang menyimpan benda mereka dengan aman di ruang publik.

“Tunggu sebentar,” ucap si gadis.

Ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam saku tersembunyi di baju nya, lalu menghampiri salah satu kotak loker dan menempelkannya pada panel yang tersedia.

Kotak itu terbuka, dan di dalamnya terlihat sebuah tas kecil berwarna hitam dengan rantai panjang berwarna emas. Terlihat juga sebuah paper bag berwarna coklat, mengembang hampir memenuhi loker tersebut.

“Pangeranku, kemari. Masukkan kedua barang bawaan kamu ke sini,” ucap si gadis, mengajaknya mendekat.

“K-kenapa kamu taruh tas kamu di sana?” tanya si cowok kebingungan.

Si gadis menatap mata si cowok sejenak, melirik ke sekitar beberapa kali, lalu berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinga si cowok. “Aku sedang menyamar,” bisiknya.

“Hah?”

“Penampilan tak biasa ini, juga tas dan HP yang kusembunyikan, supaya aku tidak dikenali,” lanjut si gadis.

“Menyamar? Kenapa?”

Ssssttt…!” si gadis menempelkan telunjuknya ke bibir si cowok.

“Ada kudeta di istanaku,” kata si gadis menundukkan kepala. “Karena itu, mereka memburuku untuk menurunkanku dari tahta, lalu mengasingkanku. Aku yakin pasti begitu.”

“...”

Sekali lagi si gadis menjatuhkan bom besar, membuat si cowok kebingungan hingga pikirannya menjadi buyar.

“Jadi, kalau bisa, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama. Bawa aku, Pangeran, ke mana pun… Dan, kalau bisa, malam ini i-izinkan aku beristirahat di istanamu,” ujar si gadis.

Hari itu panas. Ia sempat berlari tadi. Tidak bermaksud mengeluh, meladeni gadisnya sejak tadi juga sempat menguras banyak tenaga. Ditambah, di ruang bawah tanah ini, udara panas bercampur bau logam dan keringat, si gadis mengatakan hal yang sulit dicerna seperti itu.

Kudeta? Diburu? Diasingkan? Ditambah lagi, dengan ekspresi malu dan kedua tangannya menyatu di depan dada, si gadis meminta untuk menghabiskan malam di rumahnya.

Jika dipikirkan sejenak dengan tenang, mungkin ia akan mengerti. Namun, si cowok hanya menatap langit-langit dengan kosong. Tanpa disadarinya, tas plastik itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.

Catatan!

Comments

🎲 Surprise Me