Bagian 2
Meski tidak bekerja di perusahaan besar, aku ingat pernah melihat beberapa piala dan medali milik papa yang berdebu di gudang. Kertas rapornya yang tintanya hampir memudar semua juga menunjukkan bahwa papa dulu murid yang pintar dan lulusan universitas populer.
Semua itu membuatku semakin semangat belajar.
Aku ingin menjadi seperti dirinya.
Sementara itu, mama hanya lulusan SMU, dan sekarang jadi ibu rumah tangga. Karena itu, ia selalu berpesan kepadaku agar rajin belajar dan capai jenjang pendidikan tertinggi. Aku terima itu–maksudku, memang sudah tujuanku untuk menjadi seperti papa.
Maka, mudah bagiku untuk masuk peringkat sepuluh besar di SD. Peringkat pertama di kelas empat, bahkan. Aku kemudian lulus SD dengan peringkat tiga, dan nilai-nilaiku membawaku masuk ke SMP yang cukup ternama.
Namun sejak kelas empat itu, aku tidak pernah lagi meraih peringkat satu. Seperti jurang, terus menurun. Aku juga tidak lagi belajar di rumah sesering dulu. Kehidupan SMP terasa sibuk. Ada banyak teman untuk bermain dan banyak momen untuk menikmati masa remaja.
Bahkan, malu kukatakan, aku sempat berpikir untuk tidak perlu lagi belajar terlalu keras. Rasanya, sejak kecil aku sudah cukup banyak menghabiskan waktuku untuk belajar.
Dan, secara tidak mengejutkan, untuk pertama kalinya aku merasakan nilai 0. Aku menuai apa yang kutanam. Kena batunya. Bahkan masuk sepuluh besar saja mulai terasa seperti angan-angan.
Aku mencoba menghibur diri. Aku mengabaikannya dengan berpikir bahwa selama masih naik kelas dan akhirnya lulus, maka bukan masalah. Anak muda zaman sekarang menyebutnya coping. Masa remaja itu singkat. Aku juga ingin bermain dan menikmati hidup.
Namun, nilai 0 sekali lagi kudapatkan dalam ujian. Rasanya seperti tamparan keras yang memaksaku menatap kertas itu, menatap hidupku sendiri.
Jangan salah, aku masih belajar di luar jam sekolah, hanya saja tidak sesering dulu.
Dan ternyata perbedaannya sejauh itu.
Kenapa?
Ada apa?
Ke mana perginya cita-citaku dulu yang ingin menjadi seperti papa?
Meleng sebentar, nilaiku jatuh.
Di situ aku sadar, aku tidak sepintar yang kubayangkan. Butuh banyak sekali belajar untukku bisa mencapai apa yang kuraih ketika SD. Orang biasa sepertiku tidak bisa santai dan mengharapkan nilai sempurna datang begitu saja.
“Kamu nggak pengen jadi orang kaya lagi, Sera?”
Glek!
Aku ingat lagi, itu bukan sebuah ejekan. Itu hanya satir kecil untuk menyadarkanku. Tapi, aku yang masih muda waktu itu terlalu dipenuhi perasaan negatif untuk bisa memahami maksud sebenarnya dari ucapan mama.
Aku hanya bisa tertunduk. Kedua tanganku mengepal, rambutku jatuh menutupi hampir seluruh wajahku yang nyaris menangis.
Lukanya terasa dalam.
Karena, seperti yang kalian tahu, itu adalah bagaimana mama mengingatkanku pada pertanyaan kecilku dulu. Mengingatkanku tentang cita-citaku, tentang apa yang dulu ingin kuraih dalam hidup ini.
“Sebelumnya kamu juga pernah dapet 0, kan?”
“Iya…”
“Kapan itu?”
“Ulangan harian…” jawabku pelan.
Mama menunjukkannya padaku, tiap-tiap lembar nilaiku. Tanpa banyak berkata.
Membuatku jadi penasaran apa yang dikatakan wali kelasku kepadanya di sekolah tadi. Tidak, aku sudah bisa menebak apa yang telah mereka berdua bicarakan.
“Nanti kasih tau papamu juga, ya,” kata mama sambil merapikan kembali raporku.
Dalam posisi itu aku tidak bisa melihat wajah mama. Aku hanya mengangguk.
Namun dari suaranya, terdengar kosong dengan sedikit nada kesedihan. Siang itu matahari terasa sangat terik, dan mama baru saja pulang dari sekolah setelah mengambil raporku. Sepertinya, kepalanya terlalu lelah untuk memikirkan sesuatu yang berat.
Begitu saja, mama bangkit dari kursinya tanpa berkata apa-apa lagi, lalu berjalan menuju kamarnya.
Aku terjatuh dan duduk di lantai, menatap kembali nilai-nilaiku. Maksudku, beberapa murid lain pasti akan berkata tidak buruk jika melihat ini. Hanya satu mapel yang bermasalah: matematika. Sementara yang lainnya, aman–bahkan beberapa ada yang di atas KKM.
Dan, dengan bangga bisa kukatakan, aku tidak mencontek atau apapun. Aku tidak bisa. Aku duduk di bangku paling depan, tepat di hadapan meja pengawas ujian.
Aku membawa raporku masuk ke kamar dan menyimpannya di dalam lemari. Kipas angin kunyalakan, pintu kamar kukunci, lalu aku menjatuhkan diri di atas kasur. Wajahku kutekankan ke bantal, mencoba menenggelamkan pikiran pada kejadian barusan.
Bukan hanya itu, aku juga kembali memikirkan hal yang akhir-akhir ini terus menghantuiku–tentang belajar. Aku ingin menjadi pintar seperti papa, tetapi bahkan untuk meraih nilai KKM saja sudah setengah mati.
Apa-apaan ini, pikirku saat itu.
Di hari yang panas, di kamar kecil itu, dengan suasana hati yang buruk, aku tenggelam dalam pikiran yang tidak menyenangkan. Aku menggeliat di kasur, seolah ingin melepaskan sesuatu yang menekan dadaku.
Tok! Tok! Tok!
…!
Suara ketukan pintu itu tiba-tiba menyadarkanku.
“Seeeraa…!”
Tok! Tok! Tok!
“Seraaaa…!”
Beberapa suara yang familiar terdengar dari depan rumah. Itu adalah suara tetanggaku, yang juga teman sekolahku. Segera aku bangkit dari kasur dan menemui mereka.
Cekrek!
Pintu kubuka, bahkan belum sempat benar-benar melihat wajah mereka.
“Main, yuk!”
Momen yang tidak tepat!
“Main, yuk! Sekalian kita diskusi mau ketemuan di mana untuk besok. Itu, loh, pergi ke mal yang baru buka kemarin.”
Momen yang sangat tidak tepat!
“Besok kamu ikut, kan?”
“A-ah, aku kayaknya nggak jadi ikut, deh…” kataku ragu.
“Hah? Kemarin katanya kamu nyoba pergi ke sana!” salah satu dari mereka menyahut.
“Sumpah… aku lagi nggak ada duit,” jawabku jujur.
Aku memang sedang tidak ada uang jajan lebih. Tapi alasanku menolak lebih ke arah rasa aneh kalau aku pergi bermain setelah kejadian tadi. Wajah mama yang kosong itu masih terbayang di kepalaku.
“Yaelah, kan, bisa liat-liat doang, cuci mata!” ucap temanku yang lainnya.
Aku menggeleng kecil.
Namun salah satu dari mereka tiba-tiba berkata dengan santai,
“Oh ya, tadi Adam sama beberapa cowok lainnya juga bilang katanya mau ikut.”
…!
Aku terdiam sepersekian detik.
Semua temanku langsung saling melirik, menunggu reaksiku.
Mereka semua tahu. Aku cukup aktif di sekolah, hingga semua teman kelasku tahu kalau aku menyukai Adam, dan entah sejak kapan, mereka juga yakin Adam menyukaiku.
Perasaan yang tadi berat tiba terasa lebih ringan.
“A-ah… ya, kalo gitu aku ikut,” kataku cepat, bahkan sebelum benar-benar memikirkannya.
“Nah, gitu dong! Hehehe…”
“Udah kuduga, sih.”
Ucap teman-temanku, menjahili. Aku tertawa kecil, mencoba terlihat biasa saja.
Di dalam hati, aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
Tidak apa-apa.
Masa muda hanya sekali. Tidak ada salahnya menikmati sedikit waktu bersama teman-teman. Lagipula, tahun depan kami akan disibukkan oleh ujian, persiapan kelulusan, dan lainnya. Pastinya tidak akan waktu lagi untuk hal-hal seperti ini.
Aku masih punya waktu.
Aku bisa mulai belajar lebih serius nanti.
Ketika waktunya tiba.
Dengan pikiran itu, aku menutup pintu rumah dan melangkah keluar bersama mereka, meninggalkan kamar kecilku serta semua kegelisahan yang tadi memenuhi kepalaku.
Kalau kuingat sekarang, masa itu berlalu begitu cepat.
Setelah hari ketika kami pergi ke mal bersama, seperti yang kubayangkan saat itu, aku benar-benar menikmati masa mudaku. Kami sering berkumpul sepulang sekolah, sekedar jalan-jalan secara acak, menghabiskan waktu bersama.
Adam juga sering ada di sana.
Hari di mal itu menjadi awal dari sesuatu. Menjelang sore, dengan dorongan teman-temanku, Adam akhirnya menyatakan perasaannya. Dengan sorakan mereka sebagai saksi, aku menerima pernyataannya, dan kami mulai berpacaran.
Namun hubungan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan sebelum ujian kelulusan, aku memutuskan untuk mengakhirinya dengan alasan yang sangat pasaran–ingin fokus belajar. Teman-temanku yang dulu mendukung hubungan itu tidak terlihat terlalu terkejut.
Juga tidak ada respon berlebih dari Adam.
Sekarang, ketika mengingatnya kembali, aku hanya bisa tersenyum kecil.
Namanya juga anak-anak. Orang-orang menyebutnya cinta monyet. Dan faktanya, sebelum Adam, aku juga sudah sempat merasakannya dengan dua cowok berbeda–salah satunya bahkan hanya lewat chat BBM, tidak pernah bertemu.
Dan, ya, dengan tidak adanya perasaan berat setelah putus, aku bisa benar-benar kembali serius belajar. Waktuku memang sudah sempit, ujian semakin dekat, tetapi aku tetap berusaha mengejar ketertinggalan.
Nilai-nilaiku membaik. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup baik. Pada akhirnya, aku diterima di salah satu SMA negeri bergengsi di kota kami. Itu cukup untuk membuatku bangga.
Saat pertama kali kukenakan seragam putih abu-abu dengan lambang sekolah di dada, rasanya seperti semua usahaku akhirnya terbayar. Aku ingat berjalan melewati gerbang sekolah di hari pertama dengan semangat yang hampir sama seperti saat kecil dulu.
Di awal tahun, semangat belajarku kembali menyala. Aku rajin membuka buku, mencatat, dan mencoba mengikuti pelajaran dengan serius. Rasanya seperti memulai dari awal, dan aku yakin kali ini aku melakukannya dengan benar.
Namun waktu berjalan, dan perlahan sesuatu mulai terasa berbeda. Lebih nyata.
Ini adalah sekolah bergengsi, sudah pasti murid-muridnya pintar. Baik di dalam kelas, maupun di luar.
Teman-temanku aktif, cepat memahami pelajaran, dan selalu punya jawaban ketika guru melempar pertanyaan. Kadang aku hanya duduk di bangkuku dan mendengarkan mereka mendiskusikan pelajaran dengan lancar, seolah semua itu sudah tertanam di kepala mereka sejak lahir.
Ini bukan lagi soal belajar, beberapa orang memang dilahirkan dengan sesuatu yang lebih.
DNA mereka, mungkin.
Memasuki kelas sebelas, sekali lagi aku diingatkan bahwa aku tidak sepintar yang kukira. Untuk memahami satu pelajaran saja, aku sering membutuhkan waktu jauh lebih lama dibanding mereka.
Namun aku tidak menyerah.
Bahkan ketika kedua mataku mulai mengalami miopi sekalipun, dan terpaksa harus mengenakan kacamata untuk melihat benda jauh, aku tetap bertahan. Belajar lebih lama, membaca ulang tiap materi di rumah dari apa yang baru saja diajarkan di kelas.
Dan ketika semua itu masih terasa kurang… aku mulai mencari cara lain.
Awalnya hanya sesekali. Melirik jawaban teman saat ulangan harian. Lalu semakin sering. Bahkan saat ujian semester pun aku tidak lagi terlalu ragu.
Aneh rasanya. Tapi aku tidak benar-benar merasa bersalah.
Mungkin memang hanya seperti ini caraku bisa bertahan.
Lagipula, aku tidak sendirian.
Ada beberapa teman yang jelas-jelas lebih pintar dariku, tapi mereka juga menyontek ketika ujian berlangsung. Beberapa bahkan mengajakku kerja sama. Melihat itu, membuatku semakin yakin bahwa aku tidak melakukan sesuatu yang terlalu buruk.
Kalau bahkan mereka melakukannya, lalu apa sebenarnya yang perlu kutakutkan? Begitulah caraku melewati masa itu, berusaha semampuku… dan sesekali mengambil jalan pintas ketika kesempatan datang. Aku tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tak terpuji.
Namun, mau bagaimana lagi?
Comments
Post a Comment