Bagian 1
Dulu, sekitar dua puluh tahun yang lalu, aku ingat pernah menanyakan sesuatu pada mama. Pertanyaan yang kini mungkin terdengar sepele, bahkan nyaris tak berguna, tetapi saat itu terasa sangat penting.
“Mama, mama!”
“Hm, apa, Nak?”
Hari itu mama sedang menyisir rambut dan merapikan penampilanku. Ini adalah rutinitas kami. Namun, hari itu entah mengapa terasa sedikit berbeda.
“Aku, kan, peringkat satu di kelas empat. Berarti, nanti aku bisa jadi kaya, dong?”
“Hehehe,” ucap mama terkekeh. “Kamu mau jadi kaya?”
“Mau! Aku mau punya banyak duit dan bisa beli banyak mainan!”
Ah… Aku ingat.
Pagi itu adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang akhir semester. Aku ingat betul saat aku meraih peringkat satu di kelas empat SD, tetapi tidak mendapatkan hadiah yang kuinginkan.
Karena, saat itu, keluarga kami bukan dari keluarga kaya raya.
“Jadi, karena aku udah jadi pinter, berarti nanti bisa jadi punya banyak uang, kan?”
“Hm… emang, apa hubungannya jadi pinter bisa punya banyak uang?” tanya mama dengan nada bercanda.
“Pak guru waktu itu bilang ke aku, katanya kalau aku mau sukses harus pinter.”
“Hm, nggak salah, sih. Tapi…”
“Apa?”
“Pak guru itu nggak salah. Tapi, coba lihat papamu sekarang…” jawab mama dengan nada yang meredup.
Mendengar itu membuat tubuh mungilku lemas dan tertunduk.
Bukan bermaksud sombong, tapi sejak kecil aku tidak hanya cerdas dalam akademik saja. Jadi, aku paham maksud jawaban mama kala itu, meski butuh beberapa detik bagiku untuk mencernanya.
“Kalo gitu… apa aku bisa jadi cantik?” tanyaku dengan suara kecil, seolah mencari pertolongan.
“Jelas, dong! Kamu, kan, anak mama. Kamu bisa jadi cantik kayak mama nanti!” jawab mama antusias, memelukku. “Emangnya kenapa tanya gitu?” lanjutnya.
“Aku pengen jadi cantik, biar nanti bisa jadi artis, jadi model, masuk TV sama majalah!”
…
“Cuma cewek cantik yang bisa masuk TV dan majalah?”
“nggak, aku nggak maksud gitu,” jawabku panik.
Di momen itu, di dalam hati, aku berpikir bahwa jika perbincangan ini dilanjutkan, semangatku bisa tambah hancur. Tapi aku tidak mundur dan tetap melanjutkan obrolan, berusaha meluruskan kesalahpahaman.
“Maksud aku, eh… kalo kita cantik pasti diperhatiin banyak orang. Bisa diajak jadi model, idol, jadi artis juga. Gitu, aku liat di TV.”
“Jadi, kalo kamu jadi cantik, kamu otomatis terkenal?”
“Iya! Atau, eh… nggak terkenal, tapi bisa nikah sama orang kaya…”
…
“Itu keliru… itu salah,” kata mama dengan suara bergetar, memelukku lebih erat.
“Mama…?”
“Nak, Sera, dengerin mama. Yang kamu bilang tadi itu salah banget. Kamu pengen jadi cantik supaya bisa banyak dilirik orang? Supaya bisa nikah dengan pria kaya? Itu pemikiran yang bahaya banget, Nak…”
“Mama…”
Kata-kata mama membuatku sedikit menegang, bingung, dan ketakutan. Jujur saja, pelukannya yang mengencang dan suaranya yang bergetar membuatku seperti ingin menangis.
Aku ketakutan, memang ketakutan.
Aku membeku, memang membeku.
Namun aku tidak ingin suasana berakhir seperti itu. Dan, aku ingat sepanjang obrolan tadi, pertanyaan awalku belum benar-benar terjawab. Maka, dengan keberanian yang tersisa, aku kembali bertanya, memastikan.
“Jadi…” mengambil nafas. “... apa aku bisa jadi kaya? Bisa jadi cantik?”
Mendengar itu, mama melepaskan pelukannya. Ia berdiri dan merapikan dirinya, lalu menggandengku keluar rumah, menuju motor kami yang sudah menyala.
“Hidup punya caranya sendiri.”
“Hm?” tanyaku sambil mengenakan helm, sedikit tidak fokus mendengarkan.
“Urusan besok dipikirkan besok. Hidup punya caranya sendiri, Sera. Naik-turun, lika-liku, jatuh-bangun, nggak bisa kita tebak. Nanti juga ketauan. Dan apapun yang terjadi, ya tinggal dijalani,” lanjut mama.
Aku tidak bisa melihat wajah mama saat mengatakan itu. Suaranya yang juga terdengar ceria namun bercampur nada kepasrahan, membuatku semakin susah membayangkan ekspresi wajah yang dibuatnya.
Percakapan kami tadi membuatku terdiam, berpikir selama di perjalanan.
Biasanya, saat mama mengantarku ke sekolah dengan motor, kami selalu mengobrol. Namun hari itu, mungkin, adalah pertama kalinya aku mengalami apa yang orang-orang sebut Monday blues.
Comments
Post a Comment