Skip to main content

Puja Sang Jingo

Puja Sang Jingo - Prolog


Aku lahir di tempat yang tidak pernah membuatku merasa kurang. Namanya Arkhavel.


Kepangeranan Kepulauan Arkhavel.


Di peta dunia, ia hanya gugusan pulau. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu mencolok. Tapi bagiku–dan bagi sekitar tujuh belas juta orang lainnya–ini adalah dunia yang utuh.

Kami tidak perlu mencari ke luar.


Karena hampir semua yang kami butuhkan… sudah ada di sini.


Aku tumbuh di kota pesisir. Anginnya selalu datang dari laut, membawa bau garam dan suara ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti.


Dari kecil, aku sering berlari tanpa alas kaki di jalanan yang hangat, pulang dengan lutut kotor dan napas terengah. Ibu sering mengeluh. Ayah hanya tertawa kecil. Adikku… selalu mencoba mengejarku.


Tidak ada yang benar-benar melarangku. Tidak ada rasa takut.


Kami sekolah tanpa memikirkan biaya. Buku selalu ada. Guru selalu datang.


Dan jika kami sakit, kami pergi ke tempat yang memang seharusnya menyembuhkan–bukan tempat yang membuat kami berpikir dua kali.


Semua terasa… wajar.


Begitu wajar sampai aku tidak pernah bertanya;


bagaimana jika tidak seperti ini?


Orang-orang dari luar sering datang. Dari mainland.


Mereka belajar di sini, bekerja di sini, tinggal lebih lama dari yang mereka rencanakan. Aku pernah bertanya pada salah satu dari mereka, kenapa. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Tempat ini… tenang.”


Saat itu aku tidak sepenuhnya mengerti. Bagiku, ini bukan “tenang”.


Ini hanya… rumah.


Kami punya militer. Tentu saja.


Aku sering melihat mereka lewat–rapi, teratur, tidak banyak bicara. Tapi tidak pernah terasa menakutkan. Mereka tidak seperti yang sering kulihat di berita luar.


Mereka tidak pergi berperang.


Mereka hanya… ada. Menjaga.


Dan mungkin karena itu, aku mulai memikirkan sesuatu yang sederhana.


Aku ingin menjadi seperti mereka!


Bukan karena aku ingin bertarung. Bukan karena aku ingin menjadi kuat.


Tapi karena aku ingin memastikan… bahwa semua ini tidak berubah.


Aku ingin anak-anak lain bisa berlari seperti aku dulu. Tanpa memikirkan waktu. Tanpa takut. Tanpa berpikir apakah mereka akan pulang dengan selamat.


Aku ingin mereka tidak perlu bertanya akan bagaimana rasanya hidup di tempat lain?


Karena bagi kami, tidak ada alasan untuk pergi.


Aku bukan anak yang tenang.


Aku terlalu sering memanjat, terlalu sering berlari, terlalu sering pulang dengan luka kecil yang membuat ibu menghela napas panjang.


Orang-orang bilang aku terlalu kasar. Terlalu ceroboh. Terlalu… seperti anak laki-laki.


Aku tidak terlalu peduli.


Semua itu adalah bukti betapa aku menikmati masa kecilku tanpa sedikitpun khawatir.


Lingkunganku tinggal terlalu surgawi, tidak berlebihan jika kukatakan begitu sekalipun.


Aku sangat mencintainya, semua yang ada di tanah air ini. Mencintai setulus-tulusnya, hingga tumbuh rasa tidak ingin melepaskan, rasa ingin mendekapnya, melindunginya.


Bukan sekadar keinginan, tapi tujuan.


Aku akan masuk militer.


Bukan untuk mengubah dunia. Tapi untuk mempertahankan dunia kecilku sendiri.


Arkhavel tidak sempurna. Aku tahu itu sekarang.


Tapi saat itu, saat aku masih kecil, berlari di bawah langit yang selalu terasa aman,

aku benar-benar percaya… bahwa tempat ini akan selalu seperti ini.


Dan mungkin itulah alasan aku memilih jalan ini.


Bukan karena aku berani. Tapi karena aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang terlalu berharga… bahkan sebelum aku sempat menyadarinya.


Catatan!


Lanjut ke Part I →

Comments