Skip to main content

DRAGON SLAYER(S)


DRAGON SLAYER(S)



Angin menerpa sisik putih yang berkilau samar di bawah cahaya rembulan.


Dari ketinggian, sepasang mata emas mengamati hamparan hutan yang membentang tanpa ujung.


Sunyi.


Hanya suara dedaunan yang bergoyang dan aliran sungai yang berkelok di antara pepohonan.


Sayap raksasa itu mengepak sekali.


Tubuhnya meluncur lebih rendah.


Pandangannya bergerak perlahan, menyapu setiap celah di antara rimbunnya pepohonan.


Sesekali ia berbelok.


Sesekali berputar.


Lalu kembali terbang lurus.


Tak ada satu sudut pun yang luput dari pengamatannya.


“Di mana kau berada…?”


Suara berat itu nyaris tenggelam oleh desir angin. 


Di kejauhan tampak sebuah gua di kaki tebing.


Ia menukik.


Mendarat tanpa suara.


Beberapa saat berlalu.


Kemudian sayap putih itu kembali terbentang.


Tubuh raksasa itu kembali terangkat.


Masih ke arah yang sama.


Masih dengan sorot mata yang tak pernah berpaling dari hutan di bawahnya.


Hingga akhirnya...


Di balik lautan pepohonan, tampak cahaya-cahaya kecil memenuhi cakrawala.


“...Manusia.”


Sebuah kota.




Malam itu seharusnya menjadi malam seperti malam-malam sebelumnya.


Tenang dan damai.


Dong!


Dong!


Dong!


Namun entah mengapa, bunyi itu terdengar keras.


Berulang.


Memecah kesunyian yang selama puluhan tahun tak pernah terusik.


Satu per satu jendela rumah terbuka. Warga mengintip dengan wajah bingung.


Beberapa prajurit berlari menuju gerbang kota tanpa sempat mengenakan zirah mereka dengan benar.


Lalu tanah bergetar.


Bukan sekali.


Melainkan berulang, seolah sesuatu yang luar biasa besar sedang melangkah mendekat.


Di kejauhan, kobaran api menjulang tinggi di atas taman. Pepohonan yang telah berdiri puluhan, bahkan ratusan tahun, tumbang dalam hitungan detik.


Patung-patung batu meleleh diterpa panas yang mengerikan. Hamparan rumput berubah menjadi lautan bara.


Untuk sesaat, taman itu menghitam, nyaris menyatu dengan gelapnya malam, sebelum kobaran api kembali menyembur.


Nyala api itu terlalu terang untuk menyembunyikan sumbernya.


Semua orang dapat melihatnya dengan jelas.


Seekor naga.


Tubuhnya menjulang melampaui tembok yang mengelilingi kota. Sisiknya putih dengan bercampur ungu pucat yang berkilau diterpa cahaya api.


Kedua tanduknya melengkung ke belakang bak mahkota, sementara setiap embusan napasnya membuat udara malam begitu panas hingga sulit dihirup.


Tak seorang pun berani bergerak.


Tak seorang pun berani mengangkat senjata.


Naga itu perlahan menyapu seluruh kota dengan sorot tajam.


Lalu suaranya mengguncang langit.


"DI MANA ANAKKU?!"


Suara itu bukan sekadar terdengar.


Ia menghantam dada setiap orang yang mendengarnya.


Tak ada jawaban.


Yang terdengar hanyalah tangis anak-anak dan derap langkah warga yang berlarian mencari tempat berlindung.


"Di mana... anakku?!"


Kali ini suaranya lebih keras.


Asap tipis mengepul dari sela-sela taringnya.


Api di taman kembali membesar.


Di tengah kepanikan itu, gerbang istana terbuka.


Seorang pria paruh baya bergegas keluar dengan jubah kerajaan yang bahkan belum sempat dikenakan dengan rapi.


Di belakangnya menyusul para ksatria, tabib, dan penasihat kerajaan yang wajahnya sama pucat.


Sang Raja.


Meski kedua lututnya terasa berat, ia tetap melangkah hingga berdiri beberapa langkah dihadapan naga itu.


Perbedaan ukuran mereka nyaris sulit dipercaya.


Sebuah mata naga itu bahkan lebih besar daripada tubuh seorang manusia dewasa.


Raja menelan ludah.


"A-aku adalah pemimpin negeri ini."


Mata sang Naga perlahan turun.


"Kalau begitu..."


Suaranya datar.


"Di mana anakku?"


Raja menggeleng pelan.


"Aku... tidak mengerti."


"Di mana anakku?"


"Aku sungguh tidak tahu."


Untuk ketiga kalinya.


"Di mana anakku?"


Nada suaranya mulai meninggi.


Api-api kecil bermunculan dari sela-sela retakan tanah.


Udara menjadi semakin panas.


Sebagian warga berusaha berlari sejauh mungkin.


Sebagian lainnya hanya terpaku di tempat.


Raja memaksa dirinya tetap berdiri.


"Lalu... setidaknya katakan padaku seperti apa anakmu."


Naga itu mengangkat salah satu kaki depannya.


Lalu menjatuhkannya tepat di samping seorang prajurit yang roboh ketakutan.


Telapak kaki naga itu hampir setinggi tubuh prajurit tersebut.


"Sebesar ini."


Tak seorang pun berani bernapas.


"Sisiknya putih dengan semburat ungu. Persis seperti diriku."


Raja menoleh kepada para pengawalnya.


Tak satu pun menunjukkan tanda pernah melihat makhluk seperti itu.


Ia kembali menggeleng.


"Aku belum pernah melihatnya..."


Untuk pertama kalinya, kemarahan benar-benar tampak di wajah naga itu.


"Jangan bohong padaku!"


Gema amarahnya menjalar ke seluruh penjuru kota.


"Kalian membabat hutan. Kalian memburu kelinci, rusa, beruang, bahkan makhluk sihir–sesuatu yang jauh lebih kuat daripada diri kalian sendiri." 


Tatapan emasnya menusuk langsung ke arah sang Raja.


"Jadi mengapa aku harus percaya kalian tidak membawa anakku?"


Raja terdiam.


Ia sendiri tahu.


Tidak sedikit petualang mempertaruhkan nyawa demi memburu monster langka demi harga yang menggiurkan.


Dan seekor bayi naga...


akan menjadi harta yang nilainya tak terbayangkan.


"Ini adalah kota manusia terdekat dari tempat aku dan anakku tinggal. Kalau bukan kalian, siapa lagi!?"


Tubuh para warga gemetar.


Keringat membasahi wajah mereka.


"I-itu tuduhan yang tak berdasar," ucap sang Raja.


"Hah?!"


Balasan sang Naga terdengar cepat.


Sorot matanya berubah semakin tajam.


"Tuduhan yang tak berdasar?"


Perlahan, kepalanya menunduk.


Dalam sekejap, wajah raksasanya memenuhi pandangan sang Raja.


"Kalau bukan karena ada alasan, tidak sudi aku menginjakkan kaki di sini."


Hembusan napasnya yang panas membuat jubah sang Raja berkibar.


"Empat hari,” katanya.


"Selama empat hari aku telah menyusuri hutan, gunung, sungai, bahkan gua-gua tempat makhluk sihir bersembunyi. Tak ada jejaknya.”


Naga mengangkat kepalanya sedikit.


"Tetapi ke mana pun aku pergi… manusia selalu ada."


Suaranya tetap datar.


Justru itulah yang membuatnya semakin menyesakkan.


"Ras kalian membabat hutan dan berburu tanpa mengenal batas–tak ada yang luput dari keserakahan kalian.”


Sekali lagi, tak seorang pun berani membantah.


Banyak orang memasuki hutan setiap hari.


Sebagian berburu.


Sebagian meramu.


Namun, tak sedikit di antara mereka adalah petualang–orang-orang yang menerima berbagai tugas dari Serikat Petualang.


Tugas-tugas itu datang dari berbagai pihak, mulai dari rakyat biasa, bangsawan, hingga negara.


Di antara semua permintaan itu, beberapa bangsawan rela membayar mahal demi memperoleh bagian tubuh makhluk sihir sebagai lambang kemewahan.


Raja menelan ludah.


"Aku mengerti mengapa kau mencurigai kami. Tetapi mengerti bukan berarti aku memiliki jawaban… Aku benar-benar tidak tahu di mana anakmu berada."


Naga mendengus pelan.


Asap putih mengepul dari lubang hidungnya.


"Kalau begitu, aku akan mengganti pertanyaanku."


Raja perlahan mengangkat kepala.


Naga menatap lurus ke arahnya.


"Aku mendengar di dunia manusia ada seseorang yang disebut..." 


Ia memberi sedikit jeda.


"...Dragon Slayer."


Beberapa prajurit saling berpandangan.


Wajah mereka seketika memucat.


"Di mana mereka?"


Raja terdiam.


Pandangannya beralih ke kobaran api yang masih melahap taman kota.


Lalu kembali menatap sang Naga.


Keheningan itu berlangsung cukup lama.


"Kenapa kau diam?" tanya sang Naga.


Raja mengembuskan napas panjang.


"...Karena aku tidak ingin mengirim bahaya ke wilayah manusia yang lain."


Sesaat kemudian, naga itu memiringkan kepalanya.


"Kau mengira aku akan membakar Dragon Slayer itu beserta tempat tinggalnya?"


Matanya perlahan menyapu sekeliling kota.


"Aku bahkan tidak membakar satu pun rumah."


Tak satu pun tersentuh api.


"Tidak pula mengambil satu nyawa."


Yang terbakar hanyalah taman, jalanan, dan lapangan.


"Hanya tempat-tempat kosong yang kujadikan sasaran."


Sorot matanya kembali tertuju pada sang Raja.


"Bukan berarti aku tidak mampu. "


Api tipis kembali mengepul di sela-sela giginya.


"Ras kalian terlalu lemah untuk menghentikanku,” katanya.


"Jika memang keberadaan anakku tidak ada di sini, tidak ada alasan bagiku untuk merendahkan diri melakukan hal sekotor itu.”


Tatapannya melirik wajah-wajah manusia yang dipenuhi ketakutan.


“Jangan mengukur makhluk mulia seperti diriku dengan standarmu, manusia.”


Tak seorang pun berani mengangkat kepala.


"Aku bisa saja meninggalkan kota ini," ujar naga itu tenang.


"Terbang menuju pemukiman manusia berikutnya, menanyakan pertanyaan yang sama–"


Tidak hanya asap, kini percikan api menyala dari sela-sela taringnya.


“–sambil membakar mereka."


Beberapa warga mulai menangis.


Seorang ibu memeluk anaknya erat-erat.


Para prajurit hanya mampu menggenggam senjata mereka tanpa keberanian untuk menghunuskannya.


"Yang kuinginkan hanya satu. Keberadaan Dragon Slayer."


Sorot emasnya itu tak pernah lepas dari sang Raja. 


"Beritahukan padaku. Maka aku akan langsung menuju ke sana tanpa perlu lagi mendatangi setiap kota manusia satu per satu."


Ucapan itu membuat sang Raja berpikir dalam diam.


Jika naga itu benar-benar berniat menyusuri setiap wilayah manusia, hanya tinggal menunggu waktu sebelum dunia dilanda teror dan kekacauan.


Naga itu mengangkat kepalanya perlahan.


Ia menghirup udara panjang, seolah sedang mencium sesuatu yang tak dapat dirasakan manusia.


"Aku merasakan mana yang sangat kuat di kota ini."


Perlahan ia menoleh, menyapu setiap sudut kota, seolah tengah mencari sumber kekuatan itu.


"Jika itu bukan anakku…"


Tatapannya kembali kepada sang Raja.


"...dan bukan Dragon Slayer–"


Naga itu terdiam.


“–lalu siapa?"


Sang Raja menatap mata naga itu tanpa berkedip.


Meski rasa takut memenuhi dadanya, pikirannya terus bekerja mencari jalan keluar. Namun pertanyaan itu sempat membuatnya kehilangan arah.


"Petualang!" jawabnya tergesa-gesa. "Mana yang kau rasakan berasal dari para petualang di negeri ini!"


"Dan mereka bukan Dragon Slayer?" tanya sang Naga.


"Bukan!" sahut sang Raja cepat.


"Aku tidak berbohong. Negeri kami masih terlalu muda untuk melahirkan petualang yang menyandang gelar legendaris seperti itu. Percayalah."


Naga itu terdiam sejenak, seolah menimbang setiap kata yang baru didengarnya.


"Lalu di mana manusia yang menyandang 'gelar legendaris' itu?"


Sang Raja menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu."


Ia berhenti sesaat.


"Tetapi jawab dahulu pertanyaanku."


Naga itu tidak berkata apa-apa.


"Setelah kuberitahukan keberadaan Dragon Slayer..."


Ia menelan ludah.


"...apa kau akan pergi dari kota ini?"


"Tentu."


Jawaban itu meluncur tanpa sedikit pun keraguan.


Sang Raja kembali bertanya.


"Kalau begitu, bisakah kau berjanji tidak akan melukai Dragon Slayer itu maupun orang-orang di sekitarnya?"


Mata emasnya menyipit tipis. 


"Aku tidak membuat janji kepada ras yang lebih lemah dariku."



Tak seorang pun berani bersuara.


Sang Raja, tidak menghiraukannya, menarik napas panjang dan berkata,


"...Aku tahu seseorang yang menyandang gelar Dragon Slayer."


Tatapan naga tetap tertuju padanya.


"Di mana?"


"Di selatan."


Raja mengangkat tangan, menunjuk ke arah pegunungan yang tampak samar di kejauhan.


"Di balik pegunungan itu terdapat ibu kota dari kerajaan tetangga. Tempat para pedagang dan petualang dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Itulah tempat orang yang kau cari berada. Namun…"


Naga itu tak berkata apa-apa.


Membiarkan sang Raja melanjutkan.


"Namun..."


Raja menelan ludah.


"Saat ini usianya tujuh puluh dua tahun. Empat puluh tahun yang lalu, ketika masih menjadi petualang, ia memperoleh gelar Dragon Slayer."


Naga itu memandangnya tanpa berkedip.


"Jadi maksudmu?"


"Beliau sudah terlalu tua untuk mengangkat pedang."


Naga itu terdiam.


Tak sedikit pun perubahan tampak di wajahnya.


Sesaat kemudian, sayap besarnya perlahan terbentang.


"Kalian manusia, pandai berbohong."


Raja segera menggeleng.


"Aku mengatakan yang sebenarnya!"


Namun naga itu tak menghiraukannya.


Dengan satu kepakan sayap, tubuh raksasanya mulai terangkat dari tanah.


"Aku akan memastikannya sendiri."


"Tunggu!" seru sang Raja.


Naga itu berhenti di udara.


"Apa lagi?"


"Jika perkataanku terbukti benar… kembalilah ke sini."


Tatapan naga kembali jatuh kepada sang Raja.


"Aku akan terus mencari informasi tentang Dragon Slayer lain. Aku juga akan membantu mencari keberadaan anakmu! Bukan hanya melalui para petualang, tetapi juga melalui pasar gelap."


Untuk pertama kalinya, wajah naga itu memperlihatkan sedikit ketertarikan.


"Pasar gelap?"


"Jika benar ada manusia yang menangkap seekor bayi naga tanpa diketahui kerajaan maupun Serikat Petualang..."


Raja menarik napas sejenak.


"...maka kemungkinan besar mereka akan menjualnya secara diam-diam."


Naga itu kembali terdiam.


Tak ada jawaban.


Hanya satu kepakan sayap.


Angin yang tercipta memadamkan sisa-sisa bara di taman kota.


"Bila ucapanmu benar, aku akan kembali."


Kepakan kedua.


Tubuh raksasanya melampaui tinggi tembok kota.


Sesaat kemudian, ia melesat ke langit.


Dalam beberapa saat, bayangan putih keunguannya lenyap ditelan gelapnya malam.


Tak seorang pun bergerak.


Semua mata tertuju ke langit selatan.


Sang Raja tetap berdiri.


Namun hanya beberapa saat.


Kedua lututnya mendadak kehilangan tenaga.


Bruk.


Tubuhnya roboh ke tanah.


Napasnya memburu, sementara keringat membasahi seluruh wajah dan jubahnya.


"Yang Mulia!"


Beberapa ksatria dan tabib yang bersamanya sejak tadi spontan berseru.


Namun tak satu pun segera menghampirinya.


Semua orang yang berada di sana berada dalam kondisi yang sama.




Malam terus berganti.


Bintang-bintang tenggelam, lalu kembali muncul.


Untuk sementara waktu, keadaan mungkin sudah kembali seperti sebelumnya.


Seperti sebelum kemunculan sang Naga beberapa hari lalu.


Namun ketenangan itu kembali terusik.


Dong!


Dong!


Dong!


Siang itu, orang-orang sedang sangat sibuk.


Hiruk pikuk kota ketika menghilang setelah bel kembali berdentang.


Semua mata tertuju ke langit.


Angin kencang berembus dari atas.


Sangat kencang seolah mampu membungkam jerit ketakutan orang-orang.


Dugh!


Tanah bergetar ketika keempat kakinya menyentuh bumi.


“Manusia!” serunya lantang.


“Bawa raja kalian!”


Ketika orang-orang berusaha mengosongkan area, sekumpulan prajurit justru bergerak mendekat.


“Aku di sini!” seru seorang pria di antara mereka.


“Aku sudah tidak punya banyak kesabaran. Bawakan apa yang aku inginkan–”


Ia memperlihatkan taringnya.


“–atau kuhanguskan negeri ini!”


Suhu di sekitar seketika meningkat.


Beberapa percikan api muncul di sela-sela taringnya.


“T-tunggu!” seru sang Raja sembari bergegas mendekati Si Naga.


Dugh!


Sang Naga menghentakkan salah satu kakinya.


“Aku tidak akan menunggu lagi!”


Wajah raksasanya mendekat hingga hanya berjarak sejengkal dari sang Raja.


"Empat hari…”


Ia menggeram.


“Lima hari…”


Sorot emas matanya semakin tajam.


“Bahkan mungkin enam hari…!"


Dugh!


Sekali lagi, kakinya menghentak tanah.


"Aku sudah menyusuri hutan!"


Raungannya mengguncang dinding bangunan sekitar.


"Gunung!"


Retakan menjalar di tanah.


"Sungai!"


Dugh!


"Gua-gua tempat makhluk sihir bersembunyi!"


Api mulai menyala di sela-sela taringnya.


"Tidak ada!"


Naga itu menggelengkan kepalanya.


"Anakku tidak ada di mana pun!"


Ia mengepakkan kedua sayapnya dengan keras.


Angin yang tercipta membuat para prajurit tersungkur dan debu beterbangan.


"Lalu kalian mengatakan padaku..."


Tatapannya kembali tertuju kepada semua orang.


"...Dragon Slayer."


Ia kembali mendekatkan wajahnya.


Napas panasnya menerpa wajah sang Raja.


"Di mana mereka?!"


Raja menahan tubuhnya agar tidak mundur.


"Yang kutemui hanyalah seorang pria tua..." ucap sang Naga putus asa.


Naga terdiam.


Untuk sesaat, kemarahannya mereda.


Namun hanya sesaat.


Kepalanya menunduk.


"Katakan..."


Suaranya nyaris berbisik.


"...di mana anakku?"


Raja tidak menjawab.


Naga menatapnya lama.


Lalu tiba-tiba menghentakkan kakinya sekali lagi.


Dugh!


"Di mana anakku?!"


Raungannya kembali mengguncang kota.


"Aku tidak peduli pada gelar kalian! Aku tidak peduli pada manusia yang pernah membunuh naga!”


Ia menggeram.


“Aku hanya ingin anakku!"


Untuk pertama kalinya, suara itu tidak terdengar seperti ancaman.


Melainkan keputusasaan yang dibungkus kemarahan.


“...Apa yang sebenarnya kau temui di selatan?” tanya sang Raja.


Sang Naga menatapnya sebentar sebelum akhirnya membuka mulutnya.


“Tidak diragukan lagi, memang ada Dragon Slayer di selatan.”


Ia menghela napas berat.


“Namun, benci mengakuinya… kau benar. Ia sudah sangat tua.”


Naga itu mengangkat kepalanya.


"Tidak mungkin manusia setua itu, yang bahkan tidak mengingat apa yang dimakannya untuk sarapan, mampu menculik anakku. Orang-orang di sekitarnya bersaksi demikian." 


Ia berhenti sejenak.


“Lagipula, manusia itu bahkan tidak mengingat gelarnya sendiri.”


Melihat sang Naga terdiam, Raja bertanya,


"Lalu?"


"Aku tidak ingin membuang waktuku dengan manusia seperti itu. Jadi aku segera meninggalkan tempat tersebut."


Sang Raja mengusap pelan dadanya.


Untuk sesaat, ia merasa tenang.


Hanya sesaat.


"Carikan aku Dragon Slayer lain."


Sang Naga menyipitkan mata.


Ia menunggu jawaban sang Raja.


Beberapa detik berlalu.


"Jika kau tidak tahu..."


Matanya bergerak, mengamati seluruh kota.


"...maka bawakan aku sumber mana besar yang kurasakan waktu itu. Mana itu masih kurasakan hingga saat ini." 


Tubuh sang Raja seketika menegang.


"Jika itu bukan Dragon Slayer dan bukan anakku..."


Naga kembali menatapnya.


"...lalu siapa lagi?!"


"P-petualang!" jawab sang Raja.


"Seperti yang kukatakan sebelumnya, mereka adalah petualang…"


Raja menelan ludah.


Udara di sekitar mereka tiba-tiba berembus kencang.


Sang Naga kembali mendekatkan wajahnya kepada Raja.


"Buktikan."


Tatapannya menusuk tajam.


"Bawa mereka kemari."


Raja mengembuskan napas panjang, kemudian memberi perintah kepada bawahannya untuk memanggil mereka.


Beberapa menit kemudian, enam orang datang ke hadapan Sang Naga.


Mereka tampak gelisah.


Salah seorang dari mereka melangkah maju.


Ia kemudian menekuk satu lutut hingga menyentuh tanah. Kelima orang di belakangnya pun melakukan hal yang sama.


"Selamat siang, Tuan Naga. Saya seorang Swordsman sekaligus pemimpin regu ini."


Naga meliriknya, lalu mengalihkan pandangan kepada kelima orang di belakangnya.


"Langsung saja, kalian bukan Dragon Slayer?"


"...Bukan," jawabnya tenang.


"Tapi aku merasakan mana yang sangat kuat dari kalian."


Sang pemimpin terkekeh.


"Terima kasih atas pujiannya. Namun kami tidak sekuat itu hingga mampu membunuh seekor naga."


Ia tersenyum tipis.


"Kami bahkan ragu dapat meraih gelar seperti itu, meski berusaha seumur hidup."


"Kau yakin?"


Sang pemimpin mengangguk.


"Bediri."


Ia segera berdiri.


Naga memejamkan mata sejenak, seolah merasakan mana yang mengalir dalam tubuh mereka.


"...Tidak diragukan lagi."


Tatapannya kembali terbuka.


“Banyak manusia memiliki mana, tetapi milik kalian lebih besar dari yang lain.”


Naga menatap mereka satu per satu.


"Selama menjadi petualang, kalian yakin tidak pernah melihat naga kecil yang memiliki ciri seperti diriku?"


"Sayangnya tidak," jawab sang pemimpin.


"Ini adalah kunjungan pertama kami ke negeri ini!" sahut seorang wanita dari belakangnya.


Naga menoleh kepadanya.


"Jadi kalian bukan penduduk asli di sini?"


"...Bukan," jawab sang pemimpin.


"Lalu apa tujuan kalian datang ke sini?"


Keenam orang itu saling berpandangan.


Sang pemimpin tersenyum tipis.


"Kami mendengar ada banyak kesempatan bagi para petualang di negeri ini."


"Kesempatan?"


"Kesempatan."


“Di negeri yang terbilang muda ini?”


“Justru itu.”


“...Seperti apa?”


Ia mengangkat bahu.


"Apapun. Berburu, menambang, mencari material, lain-lain. Hal-hal biasa yang dicari seorang petualang."


Naga memperhatikan wajahnya cukup lama.


Tak ada kegugupan.


Tak ada keraguan.


"Kau terlihat tenang."


Sang pemimpin terdiam.


"Aku tahu berburu adalah tugas kalian, tapi aku yakin makhluk sepertiku jarang kalian temui.”


Ia melirik kelima orang di belakangnya.


"Dan kalian..."


Tatapan emasnya kembali kepada sang pemimpin.


"...aku tidak merasakan banyaknya rasa takut seperti yang kurasakan dari penduduk di sini."


Sang pemimpin terkekeh canggung.


"Tentu kami ketakutan," ujar sang pemimpin. "Di balik sarung tangan ini, keringat bahkan sudah mengumpul."


Ia mengangkat kedua tangannya sedikit, memperlihatkan sarung tangan hitam yang menutupi telapak tangannya.


"Tapi Anda tidak bisa membandingkan kami dengan orang biasa. Karena bagaimanapun, berurusan dengan mons–"


Ia berhenti sejenak.


"–makhluk sihir adalah pekerjaan kami. Keseharian kami."


Naga itu menatapnya tanpa berkedip.


"Begitu."


Tatapannya kemudian beralih kepada kelima anggota lainnya.


"Kalau begitu, selama kalian menjadi petualang..."


Naga berhenti sejenak.


"...tidakkah kalian pernah melihat naga kecil yang memiliki ciri seperti diriku?"


Sang pemimpin menggeleng.


"Sekali lagi, sayangnya tidak."


Naga mendengus.


"Dragon Slayer."


Ia kembali menatap sang pemimpin.


"Apakah kau mengetahui keberadaan Dragon Slayer lain?"


Sang pemimpin tampak berpikir sejenak.


"Ada dua yang kuketahui."


Naga sedikit mengangkat kepalanya.


"Dua?"


"Ya. Dua,” ucap si pemimpin.


“Yang pertama..." katanya sambil  mengangkat satu jari. "Hanya legenda. Semacam pahlawan dari masa lampau."


Kemudian ia mengangkat jari kedua.


"Dan yang satunya lagi… keadaannya tidak jauh berbeda dari Dragon Slayer di selatan."


Naga menyipitkan matanya.


"Terlalu tua?"


"Ya."


Ekspresi naga kembali berubah kesal.


"Manusia..."


Ia kemudian menoleh kepada anggota regunya di belakang.


"Kalian? Selain kedua Dragon Slayer itu?"


Dua orang langsung menggeleng.


"Sama. Hanya itu yang saya ketahui."


"Aku juga. Aku tidak tidak tau ada Dragon Slayer lain mereka."


Tatapan naga berpindah kepada tiga orang lainnya.


Ketiganya hanya menggelengkan kepala.


Naga terdiam.


Kemudian matanya kembali menyipit.


"TIDAK SATU PUN DARI KALIAN YANG TAHU?!"


Suara itu membuat udara di sekitar mereka bergetar.


Beberapa prajurit yang berdiri tak jauh dari sana kembali menggenggam senjata mereka dengan gugup.


Namun sebelum naga sempat melanjutkan, sang Raja segera melangkah maju.


"Tuan Naga."


Tatapan emas itu langsung berpindah kepadanya.


"Sekali lagi, mereka hanya pendatang yang baru beberapa hari singgah di negeri ini. Tolong maklumi."


Naga menatap sang Raja dengan wajah kesal.


Ia jelas ingin mengatakan sesuatu.


Namun setelah beberapa saat, naga itu hanya mengembuskan napas panjang.


"Hah..."


Asap tipis keluar dari sela-sela taringnya.


"Kalau begitu pergi."


Ia mengibaskan kepalanya sedikit.


"Kalian tidak berguna."


Sang pemimpin menundukkan kepala.


"Kalau begitu, kami undur diri, Tuan Naga."


Senyum kecil terukir di wajahnya.


Ia kemudian memberi isyarat kepada kelima anggotanya.


Mereka pun berdiri, lalu berbalik.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


"Tunggu."


Mereka semua berhenti.


Sang pemimpin tidak langsung menoleh.


Ekspresinya tetap tenang.


"Ada apa?"


Naga menatap punggung mereka beberapa saat.


"Jika kalian melanjutkan perjalanan..."


Suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya.


"...dan kalian menemukan naga kecil yang memiliki ciri seperti diriku, kabari aku."


Sang pemimpin akhirnya menoleh.


Naga melanjutkan,


"Aku tinggal di sebuah gua dekat dungeon, di dalam Hutan Kyube, sebelah barat dari sini."


Tatapan emasnya sedikit meredup.


"Jika kalian melihatnya..."


Ia berhenti sejenak.


"...bawa kabar kepadaku."


Sang pemimpin terdiam sesaat sebelum mengangguk.


"Tentu."


Ia kembali membalikkan tubuh dan melangkah pergi bersama anggota kelompoknya.


Baru beberapa langkah–


"Tunggu."


Mereka kembali berhenti.


Kali ini, sang pemimpin menghela napas kecil sebelum menoleh.


"...Ya?"


Naga menatap mereka.


"Aku ingat ada budaya di dunia manusia untuk memberi nama pada kumpulan petualang."


Sang pemimpin berkedip.


"Ah."


Ia menoleh perlahan.


"Nama regu kami?"


Naga mengangguk.


Sang pemimpin terdiam sejenak.


"...Reyals Nogard."


Naga mengulang nama itu dalam hati.


Reyals Nogard...


Ia mencoba mencernanya.


Namun sebelum pikirannya sempat beranjak lebih jauh–


"Anakmu!"


Suara sang Raja tiba-tiba memotong.


Naga langsung menoleh.


"Apa?"


"Seperti yang sudah kujanjikan beberapa hari lalu, aku sudah mencarinya di pasar gelap," ujar sang Raja cepat.


"Aku juga sudah menanyakan keberadaannya kepada para bangsawan satu per satu."


Ia menelan ludah.


"Namun..."


Sang Raja menggeleng pelan.


"...sayangnya, aku tidak menemukan apa pun. Maaf."


Keheningan menyelimuti sekitar.


Naga tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju kepada sang Raja.


Tidak ada raungan. Tidak ada hentakan kaki. Tidak ada api yang menyembur.


Hanya tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi kejengkelan.


Akhirnya, naga mengembuskan napas panjang.


"Betapa tidak bergunanya manusia."


Suaranya terdengar lelah.


Ia menutup matanya sejenak.


"Sudah kuberikan waktu… Sudah kuberikan kesempatan…"


Kepalanya kembali terangkat.


"Namun kalian tetap tidak memberiku apa pun."


Sang Raja mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.


"T-tunggu..."


Naga perlahan membuka kedua sayapnya.


"Aku sudah membuang terlalu banyak waktuku di negeri ini."


Angin mulai berembus di sekitar tubuhnya.


"Kalau begitu–”


Api kecil menyala di sela-sela taringnya.


“–akan kubakar negeri ini sebagai bayaran atas waktu berhargaku yang telah kalian sia-siakan."


Wajah sang Raja seketika memucat.


"Jangan–!"


Panik menyebar dalam sekejap.


Para prajurit mengangkat senjata dengan tangan gemetar.


Beberapa warga yang masih berada di sekitar mulai berlarian menjauh.


Bahkan keenam anggota Reyals Nogard yang telah berjalan cukup jauh dari sana ikut berhenti.


Mereka menoleh.


Tatapan tertuju pada naga yang mulai dikelilingi panas. Tangan mereka perlahan meraih senjata masing-masing.


Untuk sesaat, mereka tidak terlihat seperti sekumpulan petualang biasa.


Namun tak satu pun bergerak.


Mereka hanya menunggu.


Sementara itu, sang Raja mundur beberapa langkah.


Pikirannya berpacu mencari sesuatu.


Apa pun.


Sesuatu yang bisa menghentikan naga itu.


Kemudian satu ide yang terkubur di kepalanya muncul.


Ia segera berteriak sekuat tenaga.


"Dragon Slayer!"


Naga langsung berhenti.


Api yang menyala di sela-sela taringnya tertahan.


Kepalanya perlahan berbalik menghadap sang Raja.


"Apa katamu?"


Raja menarik napas cepat.


"Dragon Slayer!"


Tatapan emas itu berubah.


Kejengkelan yang sebelumnya memenuhi wajah sang Naga seketika digantikan oleh perhatian.


"Yang lain?"


Raja mengangguk cepat.


"Aku tahu satu lagi."


Naga menggelengkan kepalanya sedikit.


"Tidak."


"...Maaf?"


"Aku bilang tidak," ucap sang Naga. "Kau berbohong. Kau hanya ingin memohon dan mengulur waktu."


"A-Aku tidak berbohong!" teriak sang Raja.


"Aku tidak pernah berbohong. Kepada diriku, keluargaku, rakyatku, kepadamu, atau kepada siapa pun. Atas nama leluhurku, aku bersumpah."


"Leluhurmu pun pembohong. Jadi, siapa yang akan percaya?"


"Tuan Naga Yang Agung, aku... mungkin memang mengatakan semua ini sebagai bentuk permohonan agar kau tidak membakar negeri kami. Namun, aku tidak berbohong.”


Kedua lututnya kini menyentuh tanah.


“Aku tahu keberadaan Dragon Slayer lain. Aku sudah mencari informasi tentangnya ketika kau pergi ke selatan," jelas sang Raja.


Ia benar-benar memohon.


Sinar matahari memantulkan air mata yang menggenang di wajahnya, bahkan hingga sang Naga dapat melihatnya dengan jelas.


Naga itu hanya memperhatikannya selama beberapa saat.


Kemudian, ia mendekatkan kepalanya.


"Di mana Dragon Slayer lainnya itu?"


Sang Raja menelan ludah.


"Dia..."


Tangannya perlahan menunjuk ke arah hutan.


"...tidak jauh dari sini."


"Di mana tepatnya?"


"Di utara."


"Utara?"


"Lebih tepatnya, di bagian terdalam sebuah dungeon."


"Apa yang mereka lakukan di sana? Ras naga tidak hidup di dalam dungeon," kata sang Naga dengan nada tak percaya.


"Mengasingkan diri melatih kemampuan mereka. Sekumpulan Dragon Slayer itu," jelas sang Raja.


"Mengasingkan diri?"


"Jika kau tidak percaya, gunakan kemampuanmu untuk mendeteksi mana."



"Jangan memerintahku, manusia."


Meski mengatakan demikian, sang Naga tetap melakukannya.


Tubuhnya menegang.


Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, menghirup udara di sekitarnya seolah tengah mencari sesuatu.


Dalam pandangan gelap di balik kelopak matanya, tampak kepulan mana yang menjulang tinggi.


Ia kemudian membuka mata.


Tanpa membuang waktu, kedua sayapnya langsung terbentang. Sesaat kemudian, tubuh raksasanya melesat ke langit.


Sang Raja tetap berdiri di tempatnya.


Matanya mengikuti bayangan naga yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di balik langit.


Baru setelah itu, kekuatan yang sejak tadi menopang tubuhnya seakan lenyap.


Kakinya lemas.


Tubuhnya jatuh terduduk di tanah.


Beberapa orang yang berada di dekatnya spontan hendak menghampiri, tetapi sang Raja hanya mengangkat satu tangan.


"Tidak apa-apa..."


Napasnya masih berat.


Meski ini merupakan pertemuan keduanya dengan naga itu, rasa takut yang memenuhi dadanya sama sekali tidak berkurang.


Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.


Kelompok yang memperkenalkan diri sebagai Reyals Nogard kembali menghampirinya.


Sang pemimpin berhenti beberapa langkah di hadapan sang Raja, lalu menunduk sedikit.


"Kita laksanakan sekarang, Yang Mulia?"


Sang Raja berkedip.


Ia menatap sang pemimpin selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.


"Lakukan."


Sang pemimpin tersenyum tipis.


Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat satu tangan dan memberi isyarat kepada kelima rekannya.


Mereka segera berjalan menjauh.


Sang Raja memperhatikan punggung mereka, tak menyadari seseorang telah mendekatinya dari samping.


"Apakah ini akan berhasil, Yang Mulia?"


Sang Raja menoleh.


"Penasihatku."


Tatapannya kembali mengikuti keenam orang yang semakin jauh.


"Kau tidak percaya dengan rencana yang kita buat?"


"Bukan begitu, tentu saja."


Penasihat itu segera menggeleng.


"Maksud hamba... apakah Anda benar-benar mempercayai mereka?"


"Mereka?"


Sebuah senyum kecil muncul di wajah sang Raja.


"Aku percaya."


Ia perlahan bangkit.


"Bagaimanapun, mereka bukan petualang biasa. Kita semua tahu itu."


Mata sang Raja kembali tertuju kepada keenam sosok yang semakin menjauh.


Meski memperkenalkan diri sebagai petualang, jika diperhatikan lebih saksama, ada sesuatu yang berbeda dari mereka.


Mereka tidak mengenakan setelan dan perlengkapan yang dibuat secara acak seperti kebanyakan petualang.


Pakaian yang mereka kenakan masing-masing memiliki model yang serupa namun tak sama dengan warna hitam sebagai warna utama.


Tiga di antara mereka mengenakan jubah bertudung berwarna coklat yang menutupi sebagian tubuh mereka.


Mereka juga tidak berjalan seperti sekelompok petualang yang baru saja menyelesaikan sebuah pekerjaan.


Mereka berjalan seperti pasukan yang baru saja menerima perintah.


"Sang Naga sendiri mengatakan mana mereka sangat kuat," ujar sang Raja. "Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka bukan kelompok biasa."


Tatapan sang Raja mengikuti langkah mereka.


"Bagaimanapun, mereka adalah..."


Sang Raja memotong.


"Dragonbane Order."


Ia terkekeh kecil.


"Untung saja sang Naga tidak mengetahui hal itu."


Penasihat itu terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.


"Mereka adalah pasukan elit dari kerajaan berkuasa di timur. Apakah kita benar-benar dapat mempercayai mereka? Jika mereka memiliki niat lain, tak seorang pun di negeri kita yang mampu menghentikannya."


Sang Raja yang sejak tadi mendengarkan perlahan mengangkat alis.


"Kau masih memikirkan hal itu?"


Penasihat itu menundukkan kepala.


"Maaf, Yang Mulia."


"Mereka memang pasukan elit dari kerajaan lain," lanjut sang Raja.


"Tetapi kau juga harus jelas mendeskripsikan mereka. Mereka adalah pasukan elit khusus yang hanya ditugaskan untuk memburu naga dan monster sihir lainnya yang mengancam ketenteraman negeri." 


Ia kembali menatap keenam sosok yang semakin jauh.


"Banyak kerajaan sudah pernah meminta tolong jasa mereka."


Penasihat itu masih tampak ragu.


"Jadi, percayalah."


"Ya, tetapi..."


"Seorang Swordsman, dua Warrior, satu Healer, Assassin, dan Magician. Mereka terlihat meyakinkan."


Ia menepuk pundak penasihatnya.


"Bagaimanapun, rencana ini memang dibuat agar mereka berhasil. Kas kerajaan membayar mahal untuk menyewa jasa mereka. Jelas aku ingin mereka berhasil."


Ia kemudian tertawa ringan.


Sang Raja kemudian berbalik.


Ia mulai menenangkan warga yang masih berkumpul di sekitar sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.


Di kejauhan, keenam anggota yang diyakini sebagai Dragonbane Order telah menghilang dari pandangan.




Di dekat pintu masuk dungeon yang dimaksud sang Raja, enam orang berdiri di antara pepohonan yang mulai memanjang bayangannya.


Di tanah yang lembap, terlihat jejak kaki yang begitu besar hingga hampir memenuhi seluruh jalur masuk.


Beberapa bekas pijakan bahkan membuat tanah amblas cukup dalam.


Sang pemimpin berjongkok di samping salah satunya.


Ia mengamati bentuk jejak itu beberapa saat.


“Tidak salah lagi,” katanya.


Ia berdiri kembali.


“Ini jejak Si Naga itu.”


Kelima anggota lainnya hanya saling memandang sebelum mulai memasuki dungeon.


Semakin jauh mereka berjalan, cahaya dari luar perlahan menghilang.


Dinding-dinding batu yang lembap mengapit lorong.


Jejak kaki sang Naga masih terlihat di beberapa tempat, terkadang begitu jelas hingga membuat tanah di sekitarnya retak.


Mereka terus mengikutinya.


Semakin ke dalam, jejak kaki itu mulai ditimpa oleh jejak-jejak makhluk lain.


Sesekali terlihat bekas cakaran pada dinding dan lantai.


Beberapa batu pecah.


Bekas terbakar menghitam di permukaan dinding.


Semuanya tampak seperti baru saja dilalui oleh makhluk yang sedang mengamuk.


Di bagian depan, ia berjalan memimpin.


Sesekali matanya bergerak ke kedua sisi dinding, lalu naik ke langit-langit dungeon.


Semakin dalam mereka melangkah, lorong yang mereka lewati semakin melebar.


Langit-langitnya pun semakin tinggi, membuat suara langkah mereka menggema jauh ke dalam kegelapan.


Untuk sesaat, mereka berhenti ketika menemukan sebuah persimpangan.


"Jejaknya menuju jalan di kiri."


Di belakangnya, salah satu anggota mengangkat tongkatnya.


Sebuah bola cahaya muncul di ujungnya, lalu perlahan melayang di atas kepala mereka, menerangi lorong dungeon yang gelap.


“Hei, Leader.”


Suara seorang perempuan terdengar tiba-tiba.


Ia berjalan santai di belakang sang pemimpin sambil memainkan gagang pedangnya dengan satu tangan.


"Menurutmu, seberapa besar kemungkinan mereka benar-benar bertarung?"


"Sangat besar."


Jawaban itu keluar tanpa ragu.


"Si ‘Dragon Slayer’ ini sangat teritorial. Apalagi jika didekati makhluk sekuat seperti naga."


Ia berhenti sejenak.


"Ditambah lagi, Si Naga itu adalah makhluk bodoh dan angkuh yang tidak akan mundur."


"Hmm..."


Gadis itu hanya bergumam.


Beberapa menit kemudian–


Grrrrr...


Sebuah suara geraman terdengar dari kejauhan.


Langkah keenam orang itu berhenti hampir bersamaan.


Geraman lain menyusul.


Lalu satu lagi.


Kemudian puluhan.


Suara langkah kaki mulai terdengar dari kejauhan.


Dug! Dug! Dug! Dug!


Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.


"Assassin," ucap sang Leader.


"Aku tahu."


Pria berjubah abu-abu yang berdiri di bagian belakang membuka tudungnya.


Matanya menyipit.


Sesaat kemudian, sepasang mata itu memancarkan cahaya hijau samar.


"...Stampede," ucap sang Assassin.


Leader mengangkat satu tangan.


Kelima anggotanya langsung bergerak.


Gadis tadi maju ke paling depan.


"Aku ambil depan."


Rintihan baja terdengar dari zirah yang membungkus tubuhnya.


Seorang pria bertubuh besar yang mengenakan zirah berat segera mengambil posisi di belakangnya


Sebuah perisai besar terangkat di hadapannya.


Seorang perempuan bertudung berdiri di tengah.


"Aku siapkan buff."


"Tidak perlu."


Leader meliriknya.


"Suster, cukup siapkan mantra pelindung untuk dirimu sendiri."


"Baik,” katanya, mengangguk.


Sementara itu, sang Magician tetap berada di belakang, bola cahaya masih melayang di atas.


Assassin–


menghilang.


Tidak ada suara langkah. Tidak ada bayangan yang bergerak. Seolah ia lenyap begitu saja dari tempatnya.


Sang pemimpin tetap berdiri di tengah formasi. Tatapannya tertuju pada lorong di hadapan mereka.


Kemudian monster pertama muncul.


Satu.


Lalu tiga.


Puluhan.


Makhluk bertanduk, bertaring panjang, bercakar tajam, bahkan beberapa monster berukuran hampir sebesar manusia dewasa berlari tanpa arah.


Mereka menyerang, tapi agak terlambat.


Gadis Warrior itu tidak bergerak.


Tidak mundur.


Tidak menghindar.


Ia hanya menunggu.


Sesaat sebelum monster itu mencapai jaraknya–


Pedangnya, masih terbungkus, bergerak.


DUGH!


Tubuh monster itu terpental ke samping dan menghantam dinding dungeon.


Belum sempat tubuhnya jatuh, dua monster lain menerjang dari arah berbeda.


Warrior bertameng langsung maju.


Ia memutar tubuhnya.


BRAK!


Ujung perisainya menghantam salah satu monster hingga terlempar.


Pedangnya menyusul ke arah monster kedua.


Sret!


Satu tebasan.


Kemudian satu lagi.


Kedua monster itu jatuh hampir bersamaan.


Namun gelombang monster tidak berhenti. Justru semakin banyak yang berdatangan.


Si gadis Warrior maju selangkah.


Pedangnya terhunus.


Sret!


Sret!


Sret!


Setiap serangan menghentikan monster yang mencoba melewati barisan mereka.


Seekor monster melompat dari atas.


Namun sebelum sempat menyentuh tanah–


Sret!


Sebuah bilah muncul dari kegelapan.


Assassin berdiri tepat di belakang monster itu.


Satu sayatan telah membuka lehernya. Tubuh monster tersebut jatuh tanpa suara.


Namun, Assassin sudah menghilang sebelum tubuh itu menyentuh tanah.


Monster berikutnya menerjang ke arah sang Magician.


Ia bahkan tidak bergeser.


Satu tangan terangkat.


BOOM!


Tanah di bawah monster itu meledak.


Tubuhnya terangkat ke udara.


Sang Magician mengibaskan tangannya.


Monster itu melayang beberapa meter sebelum dilempar kembali ke arah kawanan yang mengejarnya.


BRAK!


Beberapa monster lain ikut tersungkur.


Sang pemimpin akhirnya menarik pedangnya.


"Aku akan menyerang."


Kedua Warrior bergeser memberi ruang.


Ia maju satu langkah.


Pedangnya terayun.


WUSSH!


Gelombang tebasan melesat melewati lorong.


Beberapa monster yang berada di jalurnya hancur begitu saja. Dan jalan di hadapan mereka kembali terbuka, namun gelombang berikutnya datang.


Monster kembali mengisi kekosongan ruang.


Seekor monster bahkan dengan lincah berhasil melewati barisan depan.


Ia langsung menerjang perempuan di tengah formasi.


Namun sebelum cakar itu mencapainya–


DUGH!


Warrior bertameng sudah berdiri di hadapannya.


Perisainya menahan seluruh serangan.


Dari bawah perisai, pedangnya menusuk.


Jleb!


Monster itu roboh.


"Kamu tidak apa-apa, Suster?"


"Ya. Terima kasih."


Semuanya berlangsung begitu cepat.


Tidak ada formasi yang berantakan.


Tidak ada kepanikan.


Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat benar-benar terdesak.


Bahkan ketika puluhan monster berlarian melewati mereka, keenam anggota itu hanya bergerak seperlunya.


"Biarkan."


Ia menatap kawanan monster yang masih berlarian menuju pintu keluar.


"Kita tidak dibayar untuk membersihkan seluruh dungeon."


Kelima anggotanya saling berpandangan.


Kemudian mereka serentak mundur ke salah satu sisi lorong.


Membiarkan seluruh kawanan melewati mereka.


Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki itu perlahan menjauh.


Dungeon kembali sunyi.


Lantai dipenuhi tubuh monster yang tumbang.


Darah mengalir di antara celah-celah batu.


Namun keenam orang itu hanya melanjutkan perjalanan.


Assassin kembali muncul dari bayangan di belakang mereka.


Tidak seorang pun tampak kelelahan.


Sang pemimpin menoleh ke arah lorong yang baru saja mereka lewati.


"Tidak salah lagi."


Ia kembali berjalan.


"Sedang terjadi pertarungan besar di bagian terdalam dungeon. Cukup besar sampai membuat para monster melarikan diri."


Mereka terus masuk.


Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit monster yang mereka temui.


Namun udara justru berubah.


Panas.


Berat.


Sesak.


Tarikan napas mulai terasa lebih sulit.


Dinding-dinding batu terasa hangat.


Beberapa bagian bahkan menghitam seperti baru saja terbakar.


Sang Magician menyeka keringat di dahinya.


"Panasnya semakin tinggi."


Gadis Warrior berjalan di sampingnya.


"Hei, topi kerucut. Buat jalannya jadi es."


"Aku menyimpan mana untuk menghadapi Dragon Slayer."


"Serius sekali."


Gadis itu mendengus.


"Paling-paling keduanya sudah saling bunuh."


"Kita belum tahu."


Assassin yang sejak tadi diam tiba-tiba membuka suara.


"Gadis berotot itu benar."


"Apa katamu?" katanya, menoleh.


Namun sebelum pertengkaran kecil itu berlanjut, mereka tiba di sebuah lorong besar.


Di ujungnya terdapat jalan yang mengarah langsung menuju bagian terdalam dungeon.


Jejak kaki sang Naga masih terlihat, tetapi tidak lama.


Pandangan di depan semakin gelap.


Karena di hadapan mereka–


tergeletak tubuh raksasa sang Naga.


Tubuh putih dengan semburat ungu itu hampir memenuhi seluruh lorong.


Makhluk yang beberapa jam lalu membuat sebuah kota gemetar hanya dengan kehadirannya kini terbaring tak berdaya.


Sisiknya penuh luka.


Sayatan panjang membentang dari leher hingga dadanya. Beberapa bagian sisiknya telah terkelupas, memperlihatkan kulit di bawahnya yang berlumuran darah.


Bekas gigitan terlihat di bahu dan sisi tubuhnya.


Beberapa titik tubuhnya hangus menghitam, masih mengeluarkan kepulan asap tipis.


Salah satu matanya tertutup darah.


Sayap kirinya terkulai lemas di atas lantai, tak lagi mampu menopang tubuhnya.


Setiap tarikan napas terdengar berat dan tersendat.


Begitu pelan hingga hampir tak terdengar.


Namun ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong, mata emas yang masih terbuka itu perlahan bergerak.


Sang Naga mencoba mengangkat kepalanya.


Sedikit.


Namun rasa sakit membuatnya kembali terjatuh.


Tatapannya kemudian beralih kepada enam sosok yang berdiri di hadapannya.


Enam manusia.


Mereka yang tadi ditemuinya di kota.


Sang Naga mencoba mengingat nama yang mereka sebutkan.


Bibirnya bergerak perlahan.


"Reyals… Nogard..."


Suaranya nyaris hanya berupa bisikan.


Ia menarik napas pendek.


"Apakah..."


Tubuhnya bergetar ketika mencoba kembali mengangkat kepala.


"...kalian membawa kabar..."


Napasnya tersendat.


"...tentang anakku?"


Keenam orang itu hanya saling bertukar pandang.


Tak ada seorang pun yang langsung menjawab.


Kemudian–


"Pfft."


Salah seorang anggota perempuan menutup mulutnya.


Bahu gadis itu bergetar.


Sang pemimpin melirik ke arahnya.


Ia mencoba menahan tawa.


Gagal.


"Maaf," katanya sambil membuang muka.


Namun suara tawa kecil kembali terdengar.


Sang pemimpin akhirnya melangkah maju.


Ia berdiri beberapa meter di hadapan naga yang sudah tak berdaya itu.


Kemudian menundukkan kepala.


"Kau akan segera bertemu dengannya."


Mata sang Naga bergerak perlahan.


Untuk sesaat, sesuatu yang hampir menyerupai harapan muncul di dalam tatapannya.


Sang pemimpin mengangkat wajah.


Sebuah seringai muncul di bibirnya.


"Di alam sana."


Hening.


Lalu tawa pecah.


“HAHAHAHAHAHAHAHA!”


Gadis tadi tak lagi mampu menahannya.


Beberapa anggota lain ikut tertawa.


Suara mereka menggema di sepanjang ruangan.


Namun sang Naga tidak bereaksi.


Tidak marah.


Tidak mengaum.


Tidak pula mencoba bangkit.


Tubuhnya sudah terlalu lemah.


Tawa mereka perlahan terdengar semakin jauh.


Pandangan sang Naga mulai kabur.


Wajah-wajah di hadapannya berubah menjadi bayangan yang tak lagi dapat dikenali.


Yang tersisa di dalam pikirannya hanya satu.


Anaknya.


Ia bahkan belum menemukannya.


Belum sempat membawanya pulang.


Belum sempat memastikan apakah anaknya masih hidup.


Bibirnya bergerak sekali lagi.


"...Anakku..."


Suara itu hampir tidak terdengar.


Kelopak matanya perlahan turun.


Napas terakhir keluar begitu lembut dari tubuhnya.


Tak lama, Suster itu perlahan mendekati tubuh sang Naga.


Ia berjongkok di samping kepala makhluk itu.


Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi wajah sang Naga yang kini telah sepenuhnya diam.


Kemudian tangannya bergerak ke bagian dadanya.


Dari balik pakaiannya, ia mengeluarkan sebuah kalung sederhana yang tergantung di lehernya.


Ia menggenggam kalung itu dengan kedua tangannya.


Kepalanya menunduk.


Matanya terpejam.


Tak ada satu pun kata yang terucap.


Kelima anggota lainnya juga tidak mengatakan apa-apa.


Mereka hanya berdiri diam, membiarkan wanita itu mengucapkan doanya.


Beberapa saat kemudian, Warrior perisai ikut berjongkok di sampingnya.


Ia menundukkan kepala.


Sang pemimpin melirik keduanya.


"Jangan terlalu lama."


Suaranya rendah.


"Kita harus bergerak cepat sebelum ‘Dragon Slayer’ itu beregenerasi sepenuhnya."


Mereka berdua tidak menjawab.


Di sisi lain, sang Assassin yang berdiri tak jauh dari tubuh naga melirik mayat tersebut.


"Haruskah kita memastikan dia benar-benar mati?"


Sang pemimpin menoleh.


"Tidak per–"


"Benar juga!"


Warrior perempuan menyela sambil melirik tubuh naga.


"Sekalian saja kita ambil bagian tubuhnya yang berharga."


Ia menunjuk salah satu tanduk sang Naga.


"Tanduk."


Kemudian matanya turun ke arah cakar.


"Cakar."


Sang pemimpin menghela napas.


"Naga itu sudah benar-benar mati."


Ia melangkah mendekati tubuh tersebut.


"Tak ada sedikit pun mana yang tersisa darinya."


Tatapannya kemudian beralih kepada gadis itu.


"Sekali lagi, jangan lakukan sesuatu yang tidak termasuk dalam pekerjaan kita." 


Warrior itu mengerutkan wajah.


"Kenapa?"


"Klien kita, sang Raja, hanya menyuruh kita membunuh Dragon Slayer. Jadi jangan lakukan hal lain."


Ia menatapnya tajam.


"Kepercayaan klien bisa turun kalau kita mulai mengambil keuntungan di luar pekerjaan."


Warrior itu mengembuskan napas kecewa.


"Yah..."


Ia mengangkat bahu.


"Sayang sekali."


Tak lama kemudian, Suster itu membuka mata.


Ia berdiri perlahan.


Warrior bertameng ikut bangkit.


Keduanya memberikan satu tatapan terakhir kepada tubuh sang Naga.


Tak ada kata perpisahan.


Mereka hanya berbalik, kembali berjalan menyusuri lorong.


Beberapa meter di depan mereka–


sebuah ruangan besar menunggu.


Ruang terdalam dungeon.


Udara di dalam lorong seolah menjadi lebih berat, sementara dinding-dinding batu dipenuhi retakan dan bekas pertarungan.


Sang Magician mengangkat tongkatnya sedikit lebih tinggi.


Cahaya dari bola sihir menerangi ujung lorong.


Sang Leader berhenti sejenak.


Ia menatap ke depan.


Dari dalam ruangan terdengar suara napas berat.


Hhhhhh...


Lalu–


GRRRRR...


Suara geraman rendah menggema dari balik kegelapan.


Keenam anggota Dragonbane Order tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.


Mereka sudah tahu apa yang menunggu di sana.


Sang Leader melangkah maju.


Satu langkah.


Kemudian satu langkah lagi.


Begitu kakinya melewati batas lorong dan memasuki ruangan terdalam, ia mengangkat pedangnya perlahan.


"Semuanya bersiap."


Kelima rekannya segera mengambil posisi masing-masing.


Warrior pria mengangkat perisainya.


Warrior perempuan menggenggam pedangnya lebih erat.


Suster itu sekali lagi meraih kalung di dadanya.


Sang Magician mengangkat tongkatnya.


Sementara sang Assassin menghilang ke dalam bayangan.


Sang Leader kemudian menatap ke tengah ruangan.


Di sana, sesuatu yang sangat besar bergerak perlahan di dalam kegelapan. Beberapa pasang mata berwarna kuning terbuka satu per satu.


Leher-leher panjang mulai terangkat.


Sang Leader terkekeh.


"Saatnya kita memburu sang Dragon Slayer, kadal berkepala banyak–"


Ia mengangkat pedangnya.


“–Hydra."


Untuk pertama kalinya, sosok raksasa itu terlihat sepenuhnya oleh cahaya sihir.


Makhluk berkepala banyak itu mengangkat seluruh kepalanya dan mengeluarkan raungan yang mengguncang seluruh dungeon.


GRRRAAAAAAAAH!


Dan keenam anggota Dragonbane Order bersiap menyambutnya.




Hari semakin larut, hutan semakin gelap dan sunyi.


Hanya suara jangkrik, gesekan dedaunan, dan sesekali suara hewan malam yang terdengar dari kejauhan.


Cahaya bulan hampir tidak mampu menembus rapatnya pepohonan, menyisakan bayangan panjang yang bergerak perlahan diterpa angin.


Di depan mulut dungeon, tampak tiga orang pria berdiri dengan armor lengkap dan senjata di pinggang mereka.


Masing-masing membawa obor yang menerangi wajah mereka dengan cahaya kekuningan.


Salah satu dari mereka mengangkat obornya dan melihat ke dalam dungeon.


"Ayo."


Mereka pun melangkah.


Baru beberapa meter memasuki lorong, tiba-tiba–


DUARRR!


Ledakan besar mengguncang seluruh dungeon.


Ketiganya berhenti.


Suara erangan monster terdengar menyusul dari kejauhan.


"Suara apa itu?!"


"Dari dalam!"


Mereka saling mengangguk sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan.


Lorong dungeon dipenuhi bekas pertarungan.


Di sepanjang jalan, berserakan mayat berbagai monster. Darah menggenang di beberapa tempat, sementara bau amis memenuhi udara.


Ketiganya berjalan semakin cepat.


Namun ketika mereka hampir mencapai bagian terdalam dungeon–


suara pertarungan itu tiba-tiba lenyap sepenuhnya.


Tidak ada lagi ledakan.


Tidak ada erangan keras.


Hanya keheningan.


Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya berjalan menuju sebuah ruangan besar.


Di depan ruangan itu, mata mereka langsung terbelalak.


Hanya berjarak beberapa meter, di depan mereka tergeletak seekor naga putih raksasa.


Ketiganya mengenali sosok itu.


Naga yang siang tadi datang ke kerajaan.


Namun perhatian mereka kemudian tertuju pada sesuatu yang tidak jauh dari sana.


Sebuah ruangan besar terbuka di balik area tersebut.


Dan di dalamnya–


tergeletak tubuh monster sihir lainnya.


Ukurannya jauh lebih besar.


Tubuhnya menyerupai naga, tetapi dari lehernya tumbuh sembilan kepala.


Hydra.


Tidak jauh dari itu, di sebelah kiri mereka, terdapat enam orang yang tampak sedikit kelelahan.


Beberapa dari mereka memejamkan mata.


Yang lainnya hanya duduk diam sambil mengatur napas dan meregangkan kaki.


Ketiga pria itu terdiam beberapa saat.


Lalu perlahan, ketiganya tersenyum.


"Dragonbane!"


Sang Leader membuka matanya.


Ia menoleh ke arah ketiga pria tersebut dan mengangkat sedikit tangannya.


"Kalian berhasil mengalahkan Hydra itu!"


Sang Leader berdiri dan menepuk-nepuk debu yang menempel pada pakaiannya.


"Seperti yang kalian lihat."


Ketiga pria itu menghela napas lega.


Mereka kemudian kembali melihat ke arah bangkai sang Naga dan Hydra.


"Ah, maaf. Kami lupa memperkenalkan diri."


Salah satu dari mereka maju selangkah.


"Kami adalah regu pengintai yang dikirim untuk memastikan kematian kedua monster itu."


"Ohh…"


Regu pengintai itu lalu menghabiskan beberapa menit untuk memeriksa kedua mayat tersebut dengan saksama.


Mereka berjalan mengitari tubuh Naga dan Hydra, mengamati setiap bagian tubuhnya. 


Sesekali, mereka bahkan menyentuh tubuh kedua monster itu.


Selesai memastikan semuanya, mereka kembali menghampiri Dragonbane Order.


Keenam anggota Dragonbane Order sendiri sudah bersiap untuk meninggalkan tempat itu.


Sang Leader kemudian menoleh kepada ketiga pria tersebut.


"Pulangnya mau bareng?" usulnya.


"Magician kami bisa membawa kita semua pulang dengan cepat."


Ketiga pria itu saling memandang, kemudian salah satu dari mereka mengangguk.


"Kalau begitu, kami terima tawarannya."


Sang Leader memberi isyarat kepada ketiga anggota regu pengintai itu untuk mendekat.


“Kemari.”


Ketiganya pun menghampiri.


"Kita akan pakai scroll teleport," kata sang Leader.


Ketiga pria itu langsung terkejut.


Salah satu dari mereka menatap gulungan kertas di tangan Magician.


"Bukankah scroll teleport itu sangat mahal?"


"Benar."


Sang Leader kemudian menunjuk ke arah Warrior perempuan.


"Tapi gadis ini sangat rewel ingin buru-buru pulang."


Warrior perempuan langsung menoleh.


"Oi."


Sang Leader tidak menggubrisnya.


Ia kemudian menatap Magician.


"Nanti akan aku belikan beberapa scroll teleport lagi."


Magician hanya mengangguk kecil.


Tanpa basa-basi lagi, Magician itu membuka gulungan tua yang sejak tadi berada di tangannya.


Ia menggenggam erat scroll tersebut dengan kedua tangannya, lalu memejamkan mata.


Beberapa detik kemudian–


WOOOM...


Sebuah lingkaran sihir berpola rumit perlahan muncul di bawah kaki mereka.


Cahaya tipis mulai memenuhi pola-pola sihir yang tergambar di atas tanah.


Ketiga anggota regu pengintai saling berpandangan.


Mereka belum sempat berkata apa-apa ketika cahaya tiba-tiba semakin terang.


Tubuh mereka diselimuti cahaya putih.


Sesaat kemudian—


FWOOSH!


Cahaya itu menghilang.


Begitu pula mereka semua.


Tidak ada satu pun yang tersisa di tempat tersebut.


Hanya dungeon yang kembali sunyi.


Tubuh tak bernapas sang Naga dan Hydra masih tergeletak di tempatnya.


Di saat yang sama, di ruang kerajaan istana.


Tiba-tiba–


WOOOM...


Sebuah lingkaran sihir muncul tepat di tengah ruangan.


Semua orang langsung terkejut.


"Apa–?!"


Beberapa pengawal spontan menghunus pedang.


Sang Raja bangkit dari singgasananya.


Penasihat dan para menteri mundur beberapa langkah.


Belum sempat siapa pun bereaksi lebih jauh, cahaya terang tiba-tiba memancar dari lingkaran itu.


FWOOSH!


Dalam sekejap, sembilan sosok muncul di tengah ruangan.


Enam anggota Dragonbane Order berdiri dengan tenang seolah kedatangan mereka adalah hal biasa.


Sementara tiga anggota regu pengintai yang ikut terbawa teleportasi–


BRUK!


langsung jatuh bertumpuk di lantai.


"Aduh!"


Salah satu dari mereka bahkan masih memegangi kepalanya karena kaget.


Para pengawal yang sempat menghunus pedang kini menatap mereka dengan kebingungan.


Sang Raja sendiri hanya terdiam.


Kemudian ia mengenali keenam sosok yang berdiri di tengah ruangan.


"Dragonbane Order..."


Sang Leader menoleh kepadanya.


Ia tersenyum kecil.


"Yang Mulia."


Di sisi lain, ketiga anggota regu pengintai masih berusaha bangkit dari lantai.


Salah seorang dari mereka mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling.


"Kita... sudah sampai?"


"Sudah," jawab sang Leader.


Ia memperhatikan gulungan kertas di tangan Magician yang perlahan berubah menjadi abu, lalu tertiup angin dan menghilang.


Ketiga pria itu saling berpandangan, lalu mereka menghela napas panjang.


Segera mereka bangkit dan berdiri di belakang Dragonbane Order.


Keenam anggota Dragonbane Order dan ketiga prajurit pengintai langsung berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai.


Sang Leader menundukkan kepalanya.


"Yang Mulia."


Sang Raja menatap mereka dengan penuh harap.


"Bagaimana?"


Sang Leader mengangkat wajahnya.


"Naga itu sudah mati."


Ruangan seketika hening.


"Dan kami juga telah berhasil membunuh Hydra."


Untuk beberapa saat, tidak ada yang berkata apa-apa.


Kemudian–


semua orang mengembuskan napas lega.


Beberapa prajurit bahkan menundukkan kepala, seolah baru saja melepaskan beban berat yang sejak tadi menekan dada mereka.


Sang Raja sendiri memejamkan mata sesaat.


Namun di sampingnya, sang Penasihat justru meliriknya.


Tatapan mereka bertemu.


Sang Raja kemudian mengalihkan pandangannya pada ketiga anggota regu pengintai.


"Kalian bertiga."


"Ya, Yang Mulia?"


"Apa yang dikatakan Dragonbane Order benar?"


Segera salah satu dari mereka mengangguk.


"Benar, Yang Mulia."


"Kami telah melihatnya sendiri."


"Naga dan Hydra itu, keduanya sudah dipastikan tidak bernyawa."


Kini tidak ada lagi keraguan.


Ekspresi sang Penasihat yang sejak tadi tegang akhirnya berubah lega.


Raja kemudian segera menatap sang Leader.


"Maaf."


Sang Leader sedikit mengangkat alis.


Sang raja tersenyum tipis.


"Bukan berarti aku tidak mempercayai kalian."


Sang Leader hanya tersenyum.


"Saya mengerti, Yang Mulia."


Ia tidak mempermasalahkannya.


Raja kemudian mengembuskan napas panjang.


"Kalian sudah melakukan pekerjaan kalian dengan sangat baik. Sekali lagi kuucapkan terima kasih," ucap sang raja sambil menundukkan kepala.


Sang Leader tidak berkata apa-apa dan hanya membalas dengan menundukkan kepala.


Prok prok!


Raja menepukkan tangannya dua kali.


Seorang pelayan segera mendekat.


"Silakan nikmati jamuan istana. Atau kalau mau membersihkan diri terlebih dahulu juga tidak masalah. Tidak usah pedulikan diriku, aku akan kembali ke kamar."


"Baiklah. Selamat malam," ucap sang Leader.


"Selamat malam."


Bersamaan, mereka berdiri.


Raja meninggalkan ruang takhta, sementara Dragonbane Order dituntun oleh sang pelayan menuju ruangan lain.


Malam itu pun berakhir.




Keesokan paginya.


Matahari telah terbit ketika Dragonbane Order bersiap meninggalkan kerajaan.


Di depan gerbang kota, sang Raja, para bangsawan, prajurit, dan warga setempat berkumpul untuk mengantar kepergian mereka.


Mereka menunggangi kuda dengan masing-masing tas telah terpasang rapi.


Sementara itu, sang Leader berdiri di samping kudanya sambil memastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal.


Setelah semuanya siap, ia menghampiri sang Raja untuk berpamitan sekali lagi.


"Terima kasih atas semuanya, Yang Mulia."


Sang Leader menundukkan kepalanya.


"Dan kami meminta maaf atas segala keributan yang terjadi selama kami berada di sini."


Sang Raja tersenyum.


"Justru kamilah yang harus berterima kasih."


Ia kemudian mengangkat tangannya dan melambaikannya ke arah warga yang berkumpul.


Beberapa warga membalas lambaian tersebut.


Ada pula yang bersorak.


Sang Leader kemudian kembali menatap sang raja.


Namun sang Raja justru melirik ke bawah.


Tepatnya ke sebuah karung yang berada di samping sang Leader.


Bagian atas karung itu terbuka, memperlihatkan tumpukan koin emas di dalamnya.


Sang Leader sedang mengikat bagian atas karung tersebut agar tidak terbuka selama perjalanan.


"Kau benar-benar yakin dengan bayaran setengah harga saja?" tanya sang Raja.


Sang Leader berhenti mengikat karungnya.


Ia menoleh.


"Tentu."


Kemudian ia tersenyum kecil.


"Seperti yang saya katakan semalam, semuanya juga berkat rencana pintar Anda, Yang Mulia."


Sang raja terdiam.


Tatapannya kembali jatuh pada karung berisi koin emas itu.


Lalu ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap sang Leader.


"Dan tentang membuka kerja sama dengan kerajaan kami juga..."


Sang Leader mengangguk.


"Itu juga."


Ia menepuk ringan karung koin di tangannya.


"Saya pastikan akan menyampaikannya kepada raja kami."


Ia kemudian tersenyum.


"Raja kami orang yang baik. Dan, Anda tahu, bukan maksud saya menyombongkan diri, tapi saya memiliki kekuasaan yang cukup tinggi."


Sang Raja tersenyum tipis.


"Baiklah."


Ia kemudian melangkah mendekat dan menepuk pundak sang Leader.


"Kalau begitu, aku akan menunggu kabar baiknya."


Sang Leader mengangguk.


"Tentu."


Ia kemudian mengenakan tasnya.


Setelah semuanya siap, ia menaiki kudanya.


Karung berisi koin emas tadi ia letakkan di depannya.


Sang Leader mengangkat tangannya.


"Kalau begitu, kami pamit."


"Selamat jalan."


Mereka pun mulai memacu kuda.


Lima ekor kuda perlahan meninggalkan gerbang kota.


Kemudian semakin cepat.


Suara langkah kaki mereka menggema di jalan yang terbentang di hadapan.


Sang Leader sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.


Sang Raja masih berdiri di depan gerbang.


Tangannya terangkat, melambaikan salam perpisahan.


Sang Leader tersenyum kecil.


Lalu ia kembali menghadap ke depan.


Dragonbane Order terus melaju, meninggalkan kerajaan itu semakin jauh di belakang mereka.


Di antara keenam anggota Dragonbane Order, hanya ada lima ekor kuda.


Suster itu menunggangi satu kuda bersama Warrior bertameng yang duduk di belakangnya.


Sementara itu, di antara mereka semua, Warrior perempuan membawa barang paling banyak.


Selain tas yang terpasang di punggungnya, ia menggandeng satu tas di tangan kiri dan satu lagi di tangan kanan. Pedangnya tetap tergantung di pinggangnya.


Semakin jauh mereka meninggalkan kerajaan, perjalanan mulai memasuki hutan.


Jalan yang mereka lalui semakin tidak rata.


Beberapa saat kemudian, langkah kuda milik Warrior perempuan mulai melambat.


Gerakannya pun mulai tidak stabil.


"Tunggu..."


Suara itu membuat yang lainnya ikut memperlambat kuda mereka.


Sang Leader menoleh dan kemudian mendekatinya.


"Ada apa?"


Gadis itu menarik napas.


"Bisakah kita membeli wagon di kota terdekat?"


Kelima anggota lainnya hanya mengembuskan napas panjang.


Sang Leader menatap semua barang yang dibawanya.


"Pakai uangmu, ya?"


Warrior perempuan membuka mulutnya dengan cepat, lalu menutupnya kembali.


"..."


Namun ia menahannya.


Ia terdiam beberapa detik.


Kemudian akhirnya menjawab dengan pasrah.


"Oke..."


"Ya sudah. Tahan sampai kota selanjutnya."


Ia menghela napas.


Tiba-tiba Magician mendekat.


"Aku bisa bawa salah satunya."


Mata Warrior perempuan langsung berbinar.


"Serius?"


Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia segera menyerahkan salah satu tasnya kepada Magician.


Magician itu menghela napas.


"Merepotkan diri sendiri karena ingin membawa pulang taring Hydra dan sisik naga."


"Hehe."


Gadis itu tertawa kecil.


"Gigi Hydra itu barang yang kuat dan sangat langka, tau!"


Ia kembali menaiki kudanya.


"Dan sisik naga juga kuat… Tapi yang paling menarik perhatianku adalah warna ungunya. Cantik banget!"


Ia tersenyum puas.


"Untung si Raja mau memberikannya secara gratis."


Ia berhenti sebentar.


"Maksudku, kita kan memang yang membunuh Hydra itu. Hahaha."


Anggota lainnya hanya menggelengkan kepala.


Suster yang berada di depan tiba-tiba angkat bicara.


"Tapi bukan berarti semuanya murni seratus persen usaha kita."


Warrior perempuan menoleh.


"Suster..."


Warrior bertameng ikut berbicara.


"Raja itu juga ikut ambil bagian dalam misi mengalahkan sang Naga dan Hydra itu."


Mereka semua terdiam sejenak.


Seolah-olah sedang mengingat kembali apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya.


"Kita menetap lebih lama di sana karena Raja menyuruh kita menunda keberangkatan ke dungeon," ujar Assassin.


"Yah, kedatangan naga itu malam itu siapa yang bisa nebak," balas Warrior perempuan. "Apalagi dia jago menyembunyikan mana."


Magician memacu pelan kudanya, berkata,


"Dan dua hari kemudian, Raja datang dengan sebuah rencana untuk mengirim sang naga menemui ajalnya–Hydra."


"Meski pada akhirnya Raja itu tetap merasa bersalah karena telah mengelabui sang naga,” ucap Suster dengan nada pelan, menundukkan sedikit kepalanya.


"Sang naga hanya ingin mencari anaknya..." lanjutnya.


Tidak ada yang langsung menjawab.


"Itu bukan mengelabui."


Sang Leader akhirnya angkat bicara.


"Aku tahu beberapa cerita tentang hydra yang memangsa naga."


Ia menatap lurus ke jalan di depan.


"Jadi tidak salah menyebut hydra sebagai Dragon Slayer."


Assassin mengangguk.


"Benar."


Mereka kembali terdiam.


Kuda-kuda terus berpacu melewati hutan.


Namun beberapa saat kemudian, Warrior perempuan kembali memecah keheningan.


"Omong-omong soal mencari anaknya..."


Ia menoleh kepada yang lain.


"Menurut kalian, bagaimana keadaannya?"


Tidak ada yang langsung menjawab.


"Apakah benar-benar diburu petualang?"


Ia terdiam sebentar.


"Atau dibunuh oleh Dragon Slayer yang tidak kita ketahui?"


Magician ikut berpikir.


"Atau mungkin tersesat di hutan binatang buas?"


“Atau mungkin dimangsa kumpulan serigala?” ucap Assassin.


Pertanyaan itu membuat mereka kembali terdiam. Semua memikirkan kemungkinan masing-masing.


Tanpa disadari, perjalanan mereka telah membawa mereka semakin dekat ke tujuan.


Di antara pepohonan, perlahan mulai terlihat tembok besar.


Sebuah kota.


Sang Leader melihatnya dari kejauhan.


Mengedipkan mata, ia berkata,


"Soal keadaan anak naga itu… Siapa yang tahu?"


-Tamat-


Catatan!

Comments