Ganjil (Full Story)

Ganjil: Pintu Belakang
“PEAK movie. Lima puluh ribu tiket worth it kata gua mah, walau dompet menipis.”
Ucap temanku sambil bangkit dari kursi bioskop. Film yang kami tonton baru saja selesai.
Aku yang mendengarnya hanya mengangguk.
“Mau langsung makan?”
“Boleh.”
Setelah itu kami berjalan menuju sebuah restoran cepat saji yang masih berada di dalam mal.
Kami cuma membeli sebuah burger dan es cola.
Kami memilih duduk berhadapan di sebuah meja besi kecil. Makanan sesederhana itu pun habis tidak sampai lima menit.
“Bagus sih, bagus. Tapi rame banget orang, njir,” kata temanku sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Wajar. Lima tahun sekali baru ada,” jawabku.
“Satu-satunya franchise yang nggak mungkin flop dari tuh studio,” ucapnya.
Ia kemudian terdiam sebentar sebelum kembali bicara.
“Eh, by the way, entar anterin gua cukur rambut dulu ya sebelum pulang.”
“Mau cukur di mana?” tanyaku.
“Biasa. Di Asem, yang deket Masjid.”
Sambil membungkus sampah makananku, aku menjawab,
“Keluar lagi, tuh. Gocap.”
“Ya emang di sana doang yang deket dari rumah dan bagus,” katanya.
“Yang di Asem, yang deket SD itu, juga bukannya ada lagi, ya? Lebih murah malah.”
“Hah? Yang di mananya?”
“Yang di depannya. Nggak depan-depan banget sih. Agak samping. Pokoknya deket situ.”
“Buset, itu mah udah dari tahun kapan tutupnya!” katanya.
Aku terdiam.
Entah kenapa, perkataannya tiba-tiba menarik sesuatu dari ingatanku.
“Lu emangnya tiap cukur, cukur di sono? Nggak, kan? Kok tahu?”
“...Ah, nggak. Gua pernah sih cukur di sana. Tapi udah lama, lama banget. Waktu SD dulu,” jawabku.
“Jujur, gua sekarang juga cukur di yang deket Alkom sih.”
“Nah, kan,” kata temanku.
“Random banget, bahas tempat cukur rambut yang udah tutup.”
“Nggak gitu, gua...” kataku sambil menggaruk kepala. “Gua tiba-tiba aja keinget sama tuh tempat.”
“Hmm… Ada pengalaman nggak enak kali waktu cukur di sana.”
“Pengalaman nggak enak...” gumamku.
Aku mencoba mengingatnya.
Lalu–
Ting!
Suara besi dari meja dan kursi terdengar ketika aku tiba-tiba tersentak.
Temanku langsung menatapku dengan bingung.
Aku menarik napas, lalu duduk kembali.
“Ada...” kataku pelan.
“Hah?”
“Maksud gua, bukan pengalaman nggak enak.” Aku menatapnya.
“Tapi ada kejadian yang nggak terlupakan di tempat itu. Gua ingat banget, sumpah.”
“Apa tuh?”
Aku diam sebentar.
“Pengalaman horor.”
“Horor? Di tempat cukur rambut?”
“Iya.”
Ia hanya menatapku, menunggu kelanjutannya.
Aku kemudian berkata,
“Jadi gini...”
Kejadian itu masih sangat jelas teringat di kepalaku.
Mungkin tidak terlalu jelas juga, karena bagaimanapun sudah lebih dari satu dekade.
Tapi dengan mantap bisa kukatakan, aku masih sangat mengingat inti kejadian itu.
Ya, itu adalah kejadian horor.
Mungkin tidak juga.
Karena aku ingat diriku yang kecil saat itu tidak merasa takut, tidak berteriak, bahkan tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.
Malam itu, aku dan temanku sedang berada di sebuah tempat pangkas rambut. Kami ditemani mamanya temanku.
Temanku, sebut saja AN.
Mamanya sangat baik kepadaku. Entah kenapa, ia selalu memelukku dan mengajakku jajan apa pun di Alfamart.
Jadi, bukan hal yang aneh jika ia mengajakku ke tempat pangkas rambut bersama anaknya. Kami bertiga menghabiskan banyak waktu bersama.
Sambil menunggu giliran, kami bertiga hanya duduk di bangku.
Aku sudah tidak ingat lagi apa yang kami bicarakan malam itu.
Aku juga tidak ingat berapa lama kami berada di sana.
Banyak sekali bagian dari hari itu yang sudah hilang dari ingatanku.
Tetapi ada satu hal yang masih tersisa.
Pintu belakang.
Tempat pangkas rambut itu dicat berwarna hijau.
Waktu itu adalah jam sibuk tempat itu.
Dan ketika sedang bosan, pandanganku entah bagaimana tertuju ke arah samping. Di sana terdapat sebuah pintu yang terbuka.
Aku melihat ke arahnya.
Seingatku, hanya diriku yang melihatnya.
Di balik pintu itu ada pepohonan kecil dan sebuah jalan setapak.
Di jalan satu arah itu, aku melihat seseorang.
Atau sesuatu.
Pocong.
Ia berada di luar sana, cukup jelas untuk dilihat.
Tubuhnya terbungkus kain putih dan bergerak dengan cara yang tidak mungkin kulupakan.
Melompat.
Bukan ke arahku.
Namun menjauh.
Yang paling kuingat adalah punggungnya.
Ia tidak menghadap ke arahku.
Tidak juga secara langsung membelakangiku. Aku melihatnya lebih secara diagonal.
Meskipun begitu, aku memperhatikannya dengan sangat seksama.
Bentuk tubuhnya.
Tingginya.
Lompatannya.
Kain kafan yang membungkusnya terlihat kotor dengan tanah.
Dengan santainya ia lewat, seperti ada tempat yang ingin dituju.
“Gitu doang?” kata temanku.
Aku menangguk.
“Lu nggak dikejar?”
“Nggak.”
“Nggak keliatan mukanya busuk atau gimana?”
Aku menggeleng.
“Nggak diminta pocongnya untuk bukain tali kafannya?”
Sekali lagi menggeleng.
“Nggak diludahin?”
“Nggak,” jawabku.
“Cuma itu?”
“Iya, cuma itu, gua bilang. Et dah.”
Ya, hanya itu.
Sebuah sosok putih yang melompat menjauh.
Dan anehnya, aku ingat, aku yang masih sangat kecil, tidak merasa takut sama sekali. Aku hanya siswa SD saat itu.
Mungkin aku memang sempat merasa aneh. Mungkin juga tidak.
Yang jelas, aku tidak panik.
Aku tidak memberitahu temanku.
Aku tidak memanggil mamanya temanku.
Aku benar-benar tidak memberitahu siapa pun tentang kejadian itu, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Yang kuingat hanyalah bagaimana setelah itu, hari berlanjut seperti biasa saja.
Kejadian itu ikut terkubur bersama ingatan masa kecilku lainnya.
Hal yang wajar.
Manusia melupakan banyak kejadian di masa kecilnya.
Wajah orang-orang mulai kabur.
Percakapan yang pernah terjadi hilang begitu saja.
Tempat-tempat yang sering kukunjungi juga hanya tersisa sebagai potongan-potongan kecil di kepalaku.
Tetapi ketika mengingat kejadian itu, ada sesuatu yang berbeda.
Aku masih sangat mengingat sosoknya.
Seolah-olah, caught in 4k.
Ganjil: Senyuman
“Yang kayak gitu doang mah nggak nakutin, njir,” ucap temanku. Ia masih bersandar di kursi, namun kali ini melipat satu kakinya dan meletakkannya di atas paha.
“Cuma numpang lewat doang, nggak ada horor-horornya,” lanjutnya.
“Ya emang, sih...”
Aku setuju di mulut.
Tapi di dalam hati, tidak demikian.
Bagaimanapun, itu adalah penampakan pocong yang sangat nyata yang pernah kualami.
Bukan melihatnya melalui HP atau TV, tapi secara langsung.
Dan saat itu aku masih sangat kecil.
Penampakan itu terlalu nyata untuk tidak kuceritakan kepada siapa pun.
Apa yang sebenarnya kupikirkan waktu itu?
“Gua ada pengalaman horor lain,” usulku, seolah tidak mau kalah.
“Yaelah, sehoror apa pun itu, di siang bolong gini, rame orang juga, nggak bakal terasa horor,” kata temanku meremehkan.
“Oke, tapi coba dengerin dulu,” balasku.
“Silakan, kalo emang horor, sih.”
“Ya oke. Tapi yang mau gua ceritain ini horor bukan setan, sih. Lebih ke disturbing.”
“Hmm.”
Temanku bergumam dan bangkit dari sandarannya. Kini ia duduk tegak dengan kedua tangan di atas meja.
“Sebelum itu, lu tau nggak, dulu pas masih kecil banget gua nggak tinggal di Cipete?”
Temanku menggeleng.
“Dulu, sebelum tinggal di rumah almarhum Baba dan Enya, gua tinggal di Jagakarsa,” jelasku.
“Waktu itu, pas gua masih kecil banget, waktu pertama kali gua tinggal sama mereka, malamnya itu...” lanjutku, tidak yakin.
“Itu apa?” tanya temanku.
“Itu...”
Jujur, aku sendiri tidak tahu apa itu sebenarnya.
Aku sangat ingat bentuknya.
Wajahnya.
Gerakannya.
Namun sangat sulit untuk menjelaskannya.
Malam itu, aku lupa apakah itu malam ketika aku sudah mulai tinggal di rumah Baba dan Enya, atau hanya sekadar menginap.
Baba dan Enya adalah kakek dan nenek, dari pihak ibu.
Seluruh keluarga kami adalah Betawi.
Ibuku, kakak, serta adik-adiknya memanggil kakek dan nenekku dengan sebutan Babeh dan Enyak.
Dan entah kenapa, kami sebagai cucu ikut memanggil mereka seperti itu, hanya saja dipelesetkan sedikit menjadi Baba dan Enya.
Di rumah itu, di salah satu kamarnya, aku dan kakakku tidur. Mungkin ayah dan ibuku juga ada di sana.
Aku lupa.
Kami tidak tidur di atas kasur tebal. Hanya kasur lantai yang tipis.
Kamar itu berbentuk persegi, dengan sebuah jendela di salah satu sisinya.
Jika aku duduk, jendela itu tepat berada di depanku, sedikit lebih tinggi dari posisi kepala.
Itu mungkin tidak bisa disebut sebagai jendela. Hanya sebuah kaca bening.
Malam itu kamar terasa panas.
Sesekali terdengar suara ayam dari luar.
Ada kipas angin yang terus berputar, namun rasanya percuma. Kipas itu hanya menghasilkan suara monoton yang memenuhi kamar.
Ditambah lagi nyamuk yang sesekali mengganggu.
Aku hanya bisa menutupi badan dengan kain sarung dan berbaring sambil menunggu rasa kantuk datang.
Kemudian pandanganku jatuh ke jendela itu.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Lalu aku melihat sesuatu.
Di balik kaca tipis itu, tampak seperti sebuah tangan manusia.
Namun hanya bagian pergelangannya yang terlihat.
Begitulah asumsi diriku yang masih kecil.
Tapi sebenarnya, sampai sekarang pun aku kesulitan menjelaskannya.
Bentuknya menyerupai tangan.
Lebih tepatnya, telapak tangan yang menghadap ke arahku.
Lalu mereka bermunculan secara bergantian.
Satu kerucut muncul.
Kerucut kedua muncul.
Ketiga.
Keempat.
Kelima.
Persis seperti sebuah jari tangan.
Namun aku sangat yakin ada yang salah dengan kerucut atau “jari-jari” itu.
Pada setiap jarinya terdapat sebuah tanda.
Sebuah wajah.
Bukan wajah manusia atau hewan.
Bukan pula wajah yang detail.
Hanya sebuah wajah sederhana.
Dua titik sebagai mata, kemudian sebuah garis melengkung seperti senyuman.
: )
Begitu.
Di kelimanya.
Lima wajah tersenyum.
Menghadap kepadaku.
Seolah sedang menonton keluargaku yang tertidur.
Aku melihatnya.
Mengamatinya.
Bahkan sampai bertahun-tahun kemudian, aku masih sangat hafal bentuknya.
Dan sekali lagi, aku tidak berteriak, tidak takut, atau melakukan apa pun.
Aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang kulihat.
Mungkin karena itulah aku tidak merasa takut.
Kemungkinan juga karena aku tidak ingin mengganggu ayah dan ibuku yang sedang tidur.
Apa yang bisa kukatakan memangnya?
Ada tangan yang digambar emote senyum di luar jendela?
Omongan anak kecil di tengah malam?
Siapa yang percaya?
Paling-paling aku cuma dikira sedang mengigau.
Lebih dari itu, ada hal lain yang sulit dipercaya.
Ketika aku melihat “jari-jari” itu dengan saksama, aku sadar salah satunya bergerak.
Aku masih mengamati. Ada jarak beberapa meter antara diriku dan kaca itu.
Salah satu lainnya bergerak juga.
Lalu yang berikutnya.
Hingga semuanya bergerak.
Gerakannya tidak cepat.
Tidak seperti seseorang yang sedang melambaikan tangan.
Lebih seperti jari-jari itu bergerak sendiri.
Mereka punya kesadaran sendiri?
Karena entah kenapa, aku merasa benda atau makhluk itu tahu aku sedang melihatnya.
Aku tidak tahu dari mana perasaan itu muncul.
Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku memperhatikannya, mengamatinya satu per satu, jari-jari itu terus bergerak.
Gerakannya aneh dan tidak beraturan.
Kadang ada jarak yang cukup luas antara satu “jari” dengan “jari” lainnya.
Baru ketika sudah besar aku sadar:
Apakah itu benar-benar sebuah jari tangan?
Aku tetap berbaring di tempat tidur.
Tetap melihat.
Tidak melakukan apa-apa.
Seperti seorang anak TK yang sedang dihibur oleh wayang jari.
Seingatku, saat itu aku memang belum masuk sekolah dasar.
Kalau kupikir-pikir, aku bersyukur makhluk itu hanya bergerak-gerak.
Tidak ada suara aneh.
Tidak memecahkan jendela.
Tidak masuk ke kamar.
Aku hanya memperhatikannya sampai akhirnya tertidur.
Keesokan harinya aku bangun dan hari seperti biasa dimulai.
Iseng, aku berjalan mencoba melihat sisi lain dari dinding itu.
Aku berjalan tidak jauh sambil terus mengingat lima “jari” itu.
: )
Lima jari dengan wajah kecil yang tersenyum.
Yang kutemui adalah sesuatu yang seharusnya sudah kuketahui sejak awal.
Di balik dinding, tepat di sisi lain kaca itu berada, terdapat kandang ayam milik Baba.
Sebuah ruangan persegi panjang yang dipenuhi kayu-kayu tempat ayam bertengger, serta beberapa ekor ayam.
Sampai sekarang, bahkan mungkin sampai selamanya, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulihat malam itu.
Dan semakin kupikirkan, semakin aku merasa ada sesuatu yang aneh darinya.
Benda itu.
Makhluk itu.
Jari-jari itu.
Kerucut-kerucut itu.
Mereka bergerak.
Bergerak ketika aku sedang memperhatikannya.
Apakah itu berarti mereka memang sedang memperhatikanku?
Menonton keluargaku yang sedang tertidur?
Selagi asyik bercerita, aku sadar temanku sedikit menegang. Kedua tangannya memegang erat sisi nampan makanan.
Aku yang tadi menyandarkan diri mengangkat kepala sedikit, lalu dengan nada meledek bertanya,
“Serem, kan?”
“Ng-nggak juga...”
Bohong.
“Maksud gua... ya, oke, lah...” katanya.
“Oke lah apa?” ucapku sambil mendekatkan tubuh ke meja.
“Cukup bikin merinding... disturbing.”
“Nah, kan. Apa gua bil–”
“Jadi, apa? Hah? Itu bukan setan?” tanya temanku memotong.
“Nggak tahu...” jawabku pelan sambil mencoba mengingat kembali makhluk itu.
“Nggak! Bukan setan atau hantu itu. Nggak ada yang begituan,” bantah temanku sambil menggelengkan kepala.
“Alien,” kataku cepat. “Mungkin.”
Mata temanku membesar.
“Alien juga nggak ada.”
“...Berarti menurut lu hantu?” tanyaku.
Temanku bangkit dari kursi dan bergegas berjalan.
Aku mengikutinya.
“Teori gua itu cuma mimpi buruk. Mimpi absurd yang lu kira kenyataan.”
Tepat di depan pintu restoran, temanku mengatakan itu.
Sepertinya ia sangat ketakutan sampai masih terus berusaha membantahnya.
“Lagian, ngapain juga bocil udah tengah malam belum tidur?”
“Ya, ya...” kataku.
“Langsung pulang, nih?” tanyaku.
“Iya, nih. Mobilnya udah deket,” jawab temanku.
“Buru-buru amat.”
“Takut kemaleman. Jangan lupa, temenin gua dulu ke tukang cukur.”
Aku melihat layar ponselku.
Waktu bahkan belum menunjukkan jam tiga sore.
“Mau denger pengalaman horor gua lainnya?”
Tiba-tiba saja aku mengusulkan itu.
Temanku yang berjalan di depan sedikit terkejut.
“Hah?”
“Cerita horor lain.”
“Mobilnya udah mau datang ini...”
“Nggak lama, kok. Kali ini gua ada pengalaman singkat.”
Tanpa sadar kami sudah sampai di luar, di depan mal.
“...Beneran horor?” tanya temanku.
“Hmm, nggak juga sih. Kayak... kalau lu takut mah, aman.”
“Yeh, siapa bilang takut.”
“...”
“Coba ceritain,” kata temanku.
Di sana kami hanya berdiri sambil mengamati satu per satu mobil yang mendekat, memperhatikan plat nomornya untuk memastikan apakah itu mobil taksi online kami.
Tanpa melepaskan pandangan dari jalanan, aku kemudian membuka mulut.
“Jadi gini...”
Cerita berikutnya mungkin tidak sehoror dan tidak se-disturbing sebelumnya.
Namun tetap akan membuat orang yang mendengarnya berpikir.
Berpikir betapa janggalnya pengalamanku.
Sebuah peristiwa singkat yang ganjil.
Ganjil: Kereta Bayi
“Jadi gini…”
Begitu mengatakannya, mataku bergulir dari jalanan menuju satu mobil yang terparkir tidak jauh dari kami.
Mataku langsung membelalak.
“Kayak gitu!” kataku sambil menunjuk mobil itu.
“Apanya?” tanya temanku.
“Warnanya.”
“Hah?”
“Warna kereta bayinya,” ucapku.
Malam itu, ada satu kebiasaan yang cukup sering kulakukan ketika masih tinggal bersama Baba dan Enya:
duduk bersama Baba di ruang keluarga sambil menonton televisi sampai larut malam.
Entah apa yang kami tonton malam itu.
Aku tidak ingat apakah acaranya menarik atau tidak.
Tapi aku ingat iklan-iklan rokok sudah mulai bermunculan.
Itu artinya cuma satu.
Hari sudah sangat larut.
Baba sudah masuk ke kamarnya untuk tidur, meninggalkan aku dan televisi yang masih menyala.
Namun tidak lama.
Perlahan, rasa kantuk mulai datang.
Aku memutuskan untuk mematikan televisi dan pergi tidur.
Sebelum pergi, entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengecek ruang tamu.
Omong-omong, ruang keluarga dan ruang tamu di rumah itu dipisahkan oleh sebuah dinding, pintu, dan sebuah kaca besar yang dilengkapi hordeng.
Aku berdiri di sana dan menempelkan tanganku pada hordeng.
Karena hordengnya tipis, aku bisa merasakan dinginnya kaca di balik kain.
Seolah ingin merasakan dinginnya secara langsung, perlahan kugeser hordeng itu.
Lalu kutempelkan tanganku langsung ke kaca.
Di baliknya terlihat ruang tamu kami.
Sebuah meja.
Sofa panjang.
Satu kabinet dengan radio jadul di atasnya.
Dan sebuah kereta bayi.
Mata lelahku yang sebelumnya menatap layar televisi tiba-tiba melotot.
Aku menempelkan pipiku ke kaca.
Dinginnya malam semakin terasa.
Membuatku semakin sadar.
Membuatku semakin yakin bahwa–
aku tidak mengerti kenapa benda itu ada di sana.
Kereta bayi.
Berwarna biru tua.
Biru navy.
Biru dongker.
Apa pun sebutannya.
Aku terdiam memperhatikannya sebentar sebelum berbalik dan pergi ke kamar.
Selangkah.
Dua langkah.
Aku bertanya-tanya, milik siapa benda itu.
Seingatku, aku adalah yang paling muda di rumah itu.
Namun aku sudah berada di umur yang tidak membutuhkan benda seperti itu.
Bahkan seingatku, tidak ada anak kecil lain di rumah-rumah tetangga.
Aku merasa bingung, tentu.
Namun rasa kantuk mengalahkannya.
Jadi aku mengabaikannya dan pergi tidur.
Dan tentu saja, ketika pagi harinya datang, semuanya kembali normal.
Kereta bayi itu sudah tidak ada.
Aku tidak tahu kapan benda itu menghilang.
Tidak ada yang membicarakannya.
Tidak ada seorangpun yang bertanya tentang kereta bayi.
Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulihat malam itu.
Mungkin aku salah melihat sesuatu dalam keadaan mengantuk.
Mungkin sebuah benda lain terlihat seperti kereta bayi dari balik jendela.
Aku ingat malam itu rumah memang sudah sangat gelap. Semua lampu dimatikan, kecuali lampu di ruang keluarga.
Mungkin ingatanku sebagai seorang anak telah mengubah sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi sesuatu yang berbeda.
Aku tidak bisa memastikan.
Tetapi aku masih ingat bentuknya.
Sebuah kereta bayi berwarna biru gelap.
Terparkir begitu saja di samping meja.
Dan pada pagi harinya, benda itu sudah tidak ada.
“...Itu nggak horor,” kata temanku datar.
“Kan, gua bilang juga gitu,” balasku.
Sunyi tiba di antara kami.
Sesekali aku hanya mengecek layar HP.
“Jadi, kereta bayi itu kan yang kayak shopping cart tapi tertutup dan ada tudungnya?” tanya temanku tiba-tiba.
“Iya.”
“Warnanya biru tua?” Temanku memegang dagunya. “Aneh sih, aneh. Tapi ya cuma gitu doang...” lanjutnya.
“...Terlalu singkat untuk sebuah mimpi,” kataku, bersiap kalau temanku mau membantah dan mengatakan lagi bahwa pengalamanku itu hanya mimpi.
“Halusinasi berarti. Lagi-lagi bocil udah larut malam, bukannya langsung tidur malah nonton TV,” katanya. “Udah gelap juga, belum tentu lu ngelihatnya dengan jelas,” lanjutnya.
Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
Tiba-tiba sebuah mobil tiba di depan kami dan menurunkan jendelanya.
“Mas A, ya?” kata si sopir.
“Iya,” jawabku. “Ke Asem, kan?”
“Iya.”
Segera kubuka pintu belakang mobil dan masuk.
Setelah itu, obrolan kami berhenti begitu saja.
Entah karena kami sudah kehabisan bahan obrolan atau memang masih memikirkan cerita yang baru saja kuceritakan, aku tidak tahu.
Yang jelas, tidak ada lagi pembahasan tentang kereta bayi itu.
Aku sendiri sesekali masih memikirkannya.
Saat itu, kenapa aku hanya diam saja?
Kenapa tidak mencoba membuka pintu dan melihatnya lebih jelas?
Namun pada akhirnya, aku membiarkannya lewat begitu saja.
Perjalanan dilanjutkan dalam diam, melewati jalanan Jakarta yang semakin ramai menjelang sore.
Hingga akhirnya, ketika jam di layar ponselku menunjukkan pukul 17.39, mobil berhenti di depan tempat pangkas rambut.
Ganjil: Di Atas Pohon
Tepat beberapa langkah di samping Masjid, ada sebuah barbershop kecil dengan fasilitas yang cukup lengkap.
Tempat ini menjadi pilihan anak muda di sekitar, walaupun harganya cukup mahal dibandingkan pangkas rambut lainnya.
Begitu masuk ke dalam, kami langsung mengambil tempat duduk.
Toko itu selalu ramai.
Kami menunggu sambil sesekali melihat-lihat sekitar. Sesekali melihat HP atau menonton TV.
“Ya, Mas, silakan,” ucap salah satu tukang cukur.
Aku maju dan duduk di kursi cukur.
Tukang cukur memasangkan kain penutup di tubuhku, lalu mulai mencukur rambutku seperti biasa. Aku hanya duduk diam, melihat pantulan wajahku di cermin.
Setelah selesai, aku berdiri, membayar, lalu keluar dari toko.
Tanpa terasa, waktu sudah hampir magrib.
Arah pulang adalah ke sisi kanan, namun temanku menghadap ke kiri dan mulai mengambil langkah.
“Mau ke mana?” tanyaku.
“Lihat tempat cukur yang lu maksud tadi.”
“Seingat gua sih emang udah tutup dari lama,” lanjutnya.
Setuju, aku berjalan mengikutinya.
Tidak lama, kami tiba di sebuah perempatan.
Di samping kami ada sebuah gereja, dan di depannya ada mini market.
Kami menyeberang.
Beberapa langkah ke depan, di samping kami ada SD, dan di sampingnya ada mini market lagi.
Di seberang antara dua bangunan itu, tepatnya di depan kami, ada tiga ruko kecil. Di bagian kanannya adalah tempat pangkas rambut yang kumaksud.
Tempat cukur itu sudah tidak seperti yang kuingat.
Tulisan nama tempat itu masih ada, namun di depannya terdapat sebuah bangku, meja, dan etalase kaca di atasnya yang bertuliskan “nasi uduk”.
Tidak hanya berganti bisnis, sepertinya toko itu juga sudah lama tidak beroperasi.
Cat yang dulu berwarna hijau sudah memudar.
Di samping tempat itu pun sudah tidak ada jalan setapak seperti yang kuingat.
Sekarang, sebuah rumah mewah berdiri rapat di sebelahnya.
Kami hanya berdiri sebentar di depan tempat itu.
“Ini, kan?” tanya temanku.
“Iya.”
Aku melihatnya sekali lagi.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini terlihat bobrok itu pernah menjadi salah satu tempat yang kuingat sejak kecil.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Akhirnya, kami berbalik dan memutuskan untuk pulang.
Beberapa langkah kemudian, temanku berkata,
“...Mungkin nggak pocong yang lu lihat dari Kober?”
Pemakaman Kober Bunga Kamboja.
Letaknya memang tidak terlalu jauh dari tempat pangkas rambut tadi.
“Nggak tahu…”
Setelah itu, kami kembali berjalan dalam diam.
Beberapa menit kemudian, di sekitar sekolahan Prancis, ketika temanku akan belok, aku justru berjalan lurus.
“Lewat gang depan aja, yok,” kataku.
“Emang kenapa?”
“Gua ada satu cerita horor lagi.”
“Hah?... Lagi?”
“Iya. Kita langsung datengin TKP-nya.”
“Di mana emang?”
“Di RT 13 situ, lewat gapura,” kataku sambil menunjuk ke depan.
“Di sana gua ngelihat pocong–bukan, mungkin kuntilanak.”
“Hah?”
Melewati gapura itu, kami memasuki gang sempit di sebuah perumahan. Sambil berjalan, aku mulai bercerita.
Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah kebon. Di sampingnya terdapat lapangan tenis.
Kami, penduduk di sana, menyebutnya “Kebon Batak” karena di kebun itu ada satu rumah milik orang Batak.
Di kanan dan kiri Kebon Batak terdapat dua bangunan besar. Keduanya berisi rumah kontrakan.
Satunya bangunan kontrakan/kos tingkat dua berwarna oranye.
Satunya lagi lebih besar lagi, berwarna abu-abu.
Namun, dulu, sebelum ada kontrakan oranye, tempat itu hanya berupa satu bangunan rumah.
Di sampingnya terdapat sebuah bangku panjang yang mengarah ke depan, ke lapangan, ke Kebon Batak.
Sebelum menceritakan semuanya, kami duduk di kursi sebuah warung.
Karena hampir magrib, jalanan sudah sepi.
Tidak ada satu pun yang menyapaku, mengenaliku.
Aku hanya fokus menceritakan sejarah bangunan-bangunan itu kepada temanku.
Sebelum mulai bercerita lebih lanjut, aku berkata kepada temanku bahwa,
“Dibandingkan dengan kejadian-kejadian lain yang pernah kualami ketika masih kecil, yang satu ini justru terasa ringan.”
Bahkan, kalau kuingat sekarang, ada sedikit lucunya.
Malam itu aku dan beberapa temanku masih berkumpul di lapangan, meskipun waktu sudah cukup larut.
Aku tidak terlalu ingat siapa saja, tapi yang pasti ada temanku S, V, F, dan mungkin si kakak-adik R.
Mereka teman masa kecilku.
Aku sudah tidak ingat acara apa yang membuat kami bisa berada di sana sampai malam.
Yang jelas, kami masih bersama-sama, bermain seperti anak-anak pada umumnya.
Kami bermain sampai lelah.
Setelah itu, kami duduk di sebuah bangku di pinggir lapangan sambil mengobrol.
Aku tidak lagi ingat apa yang kami bicarakan pada awalnya. Namun, entah bagaimana,
percakapan kami akhirnya berbelok ke sesuatu yang jauh lebih menarik bagi anak-anak seusia kami.
Horor.
Kami mulai membicarakan setan dan hal-hal semacamnya.
Tidak ada yang benar-benar takut. Kami hanya saling bercerita dan menakut-nakuti satu sama lain, seperti yang biasa dilakukan anak-anak.
Sampai tiba-tiba salah seorang temanku berkata,
“Setan!”
Sambil menunjuk ke depan.
Kami semua langsung menoleh.
Jarinya mengarah ke atas, tepat ke arah pepohonan di kebun yang berada di samping lapangan.
Pepohonan itu hampir menempel pada bangunan kontrakan abu-abu.
Awalnya aku tidak melihat apa-apa.
Kemudian aku menyadarinya.
Ada sesuatu di atas pohon.
Sosok berwarna putih.
Aku tidak yakin apa yang kulihat waktu itu.
Pocong?
Kuntilanak?
Ingatanku tentang bentuknya sudah terlalu samar. Yang masih kuingat hanyalah warna putihnya dan keberadaannya di atas pepohonan.
Sosok itu diam di sana.
Kami semua terdiam selama beberapa saat.
Kemudian, bukannya lari, kami malah semakin heboh.
Kami menunjuk-nunjuk ke arahnya.
“Di situ!”
“Itu!”
“Keliatan banget!”
Kami memastikan satu sama lain bahwa tidak ada seorang pun yang sedang berhalusinasi.
Sosok itu juga seperti sedang memperhatikan kami.
Dari tempatnya di atas pohon, ia menghadap ke arah lapangan.
Ke arah kami.
Jaraknya cukup jauh.
Mungkin itu salah satu alasan kenapa kami tidak merasa takut.
Selain itu, kami juga ramai-ramai.
Rasa takut yang mungkin muncul sendirian terasa berbeda ketika berada di tengah sekelompok teman.
Kemudian seseorang mengambil sebuah senter.
Cahayanya diarahkan ke atas.
Kami mencoba menyorot sosok putih tersebut.
Aku masih ingat betapa hebohnya kami waktu itu.
Bukannya bersembunyi, kami malah seperti menemukan sesuatu yang menarik untuk diamati.
Kami menunjuk.
Kami berbicara.
Kami saling memastikan apa yang kami lihat.
Dan sosok itu tetap berada di sana.
Tidak mendekat.
Tidak turun.
Tidak melakukan apa-apa.
Hanya berada di atas pohon dan memperhatikan kami.
Aku tidak tahu berapa lama kami melihatnya.
Aku juga tidak ingat bagaimana akhirnya kejadian itu berakhir.
Mungkin kami bosan.
Mungkin kami akhirnya pulang.
Atau mungkin sosok itu menghilang ketika kami tidak lagi memperhatikannya.
Aku benar-benar tidak ingat.
Yang tersisa dalam ingatanku hanya sebuah gambaran sederhana.
Sekelompok anak kecil berdiri atau duduk di dekat lapangan pada malam hari, menunjuk-nunjuk ke atas pohon sambil menyorotkan senter kepada sesuatu yang seharusnya membuat mereka ketakutan.
Dan sesuatu itu...
Diam saja di sana.
Sampai sekarang aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya kami lihat malam itu.
Pocong?
Kuntilanak?
Atau hanya sesuatu yang terlihat seperti sosok manusia dari kejauhan?
Aku tidak tahu.
Yang jelas, kami semua melihatnya.
“...Gitu doang?” ucap temanku.
“Gitu doang.”
Entah merasa kecewa atau apa, ia langsung bangkit dan kembali berjalan.
Di belakangnya, aku berjalan, memikirkan kembali malam itu.
Memikirkan kembali masa-masa kecilku yang penuh cerita.
Sekarang, sudah lebih dari satu dekade. Tak satu pun dari teman masa kecilku yang masih bisa kutemui. Untuk menghubungi mereka pun aku tidak tahu.
Hubunganku dengan mereka meregang ketika lulus SD, terutama dengan S dan V.
Mereka yang dulu literally selalu bersamaku, sementara saat ini, aku bahkan tidak tahu medsos mereka.
“Lu itu, eh... anak indigo?”
Pertanyaan temanku itu membuatku sadar dari renungan.
“Bukan, sih... kayaknya,” jawabku.
“Sekarang, nih, belakangan nggak pernah lihat penampakan-penampakan lain?”
“Selain yang udah gua ceritain tadi, gua pernah nangkep penampakan sekilas kuntilanak pakai HP, tapi pas masih kecil juga,” kataku.
“Hah? Video?”
“Iya, video... tapi selain itu, gua nggak ingat lagi pernah ngalamin lihat penampakan lain.”
“Hmm...”
“Oh!”
“Apa?”
“Belum lama, beberapa tahun sebelumnya, gua pernah ngalamin ketindihan,” kataku.
“Serius?”
“Iya. Itu sih ngeri banget. Penampakannya kurang jelas, tapi efeknya bikin mau nangis. Badan basah keringetan...”
“Kenapa nggak ceritain itu!” kata temanku sambil menghentikan langkahnya.
“Ya, karena itu gua tahu ada penjelasannya, bukan pengalaman ganjil yang gua saksikan di lingkungan nyata. Jadi, ya... gitu,” jelasku sambil meninggalkannya di belakang.
“Hadeh...” kata temanku mendengus.
“Selain itu nggak ada lagi? Yang bener-bener serem? Yang kejadian baru-baru ini?”
Temanku menanyakan itu lagi.
“Nggak ada, cuma waktu kecil aja...” jawabku lagi.
Tanpa sadar, kami sudah keluar dari gang. Suara ramai jalan raya menyambut kami.
“Mungkin bener kali, ya, kata orang, kalau anak kecil lebih sensitif dengan hal-hal goib, supernatural gitu,” ucap temanku.
“Mungkin kali, ya...”
Di perjalanan, aku menyalakan HP dan membuka chrome.
Kuketik apa yang dikatakan temanku itu, dan ini jawaban yang kudapat:
‘Anak kecil sering dianggap lebih sensitif terhadap hal supranatural karena perkembangan kognitif mereka masih dalam tahap mencampuradukkan antara imajinasi dan kenyataan.’
Juga dijelaskan soal ‘teman imajinasi’.
Aku tidak punya pengalaman itu karena masa kecilku sudah sangat ramai teman, berbeda dengan… ketika sudah dewasa.
Aku scroll lebih dalam. Juga dijelaskan tentang ‘distorsi ingatan’.
Katanya,
‘Ingatan manusia bukan rekaman yang sempurna, melainkan seperti puzzle yang terus dirakit ulang. Setiap kali sebuah kejadian diingat atau diceritakan kembali, otak dapat menambahkan detail baru tanpa disadari, sehingga ingatan tersebut terasa semakin nyata dan meyakinkan.’
Scroll lagi, ada juga penjelasan fenomena false memory dan waking dream.
Namun, yang menurutku mungkin menjadi penjelasan paling masuk akal adalah fenomena distorsi ingatan itu.
Tapi, jujur, aku juga tidak 100% menerimanya. Bagaimanapun, ingatan-ingatan itu terlalu nyata.
Tidak hanya itu, menceritakannya kepada temanku bukan pertama kalinya aku merasa demikian.
Sudah cukup lama sejak kejadian-kejadian horor itu selalu kupikirkan, dan kurasa kejadiannya selalu sama.
Aku rasa begitu.
Kayaknya.
Mungkin.
Aku kemudian menutup HP-ku, disadarkan oleh klakson mobil di sampingku.
Temanku tidak berkata apa pun, bahkan ketika sudah hampir dekat rumahku.
Beberapa saat kemudian, aku masuk gang dan berjalan sedikit. Di ujung sana terdapat rumah berwarna hijau.
Rumahku.
Selesai melepas sepatu dan mencuci kaki, aku menjatuhkan diri di kasur.
Hari itu, hari yang cepat.
Setelah ini, aku tahu hari-hari monoton, namun melelahkan akan kembali datang.
Monoton yang terus berulang-ulang, yang kurasa mungkin perlahan mengiris kewarasanku.
Tapi, sekali lagi, aku tidak yakin.
Satu hal yang aku tahu, setiap kali hari akan berakhir, aku selalu merasa,
'Gitu doang?'
Ya, gitu doang, kataku.
-Tamat-
Comments
Post a Comment