Skip to main content

Ganjil: Pintu Belakang


Ganjil: Pintu Belakang


PEAK movie. Lima puluh ribu tiket worth it kata gua mah, walau dompet menipis.”


Ucap temanku sambil bangkit dari kursi bioskop. Film yang kami tonton baru saja selesai.


Aku yang mendengarnya hanya mengangguk.


“Mau langsung makan?”


“Boleh.”


Setelah itu kami berjalan menuju sebuah restoran cepat saji yang masih berada di dalam mal.


Kami cuma membeli sebuah burger dan es cola.


Kami memilih duduk berhadapan di sebuah meja besi kecil. Makanan sesederhana itu pun habis tidak sampai lima menit.


“Bagus sih, bagus. Tapi rame banget orang, njir,” kata temanku sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


“Wajar. Lima tahun sekali baru ada,” jawabku.


“Satu-satunya franchise yang nggak mungkin flop dari tuh studio,” ucapnya.


Ia kemudian terdiam sebentar sebelum kembali bicara.


“Eh, by the way, entar anterin gua cukur rambut dulu ya sebelum pulang.”


“Mau cukur di mana?” tanyaku.


“Biasa. Di Asem, yang deket Masjid.”


Sambil membungkus sampah makananku, aku menjawab,


“Keluar lagi, tuh. Gocap.”


“Ya emang di sana doang yang deket dari rumah dan bagus,” katanya.


“Yang di Asem, yang deket SD itu, juga bukannya ada lagi, ya? Lebih murah malah.”


“Hah? Yang di mananya?”


“Yang di depannya. Nggak depan-depan banget sih. Agak samping. Pokoknya deket situ.”


“Buset, itu mah udah dari tahun kapan tutupnya!” katanya.


Aku terdiam.


Entah kenapa, perkataannya tiba-tiba menarik sesuatu dari ingatanku.


“Lu emangnya tiap cukur, cukur di sono? Nggak, kan? Kok tahu?”


“...Ah, nggak. Gua pernah sih cukur di sana. Tapi udah lama, lama banget. Waktu SD dulu,” jawabku.


“Jujur, gua sekarang juga cukur di yang deket Alkom sih.”


“Nah, kan,” kata temanku.


Random banget, bahas tempat cukur rambut yang udah tutup.”


“Nggak gitu, gua...” kataku sambil menggaruk kepala. “Gua tiba-tiba aja keinget sama tuh tempat.”


“Hmm… Ada pengalaman nggak enak kali waktu cukur di sana.”


“Pengalaman nggak enak...” gumamku.


Aku mencoba mengingatnya.


Lalu–


Ting!


Suara besi dari meja dan kursi terdengar ketika aku tiba-tiba tersentak.


Temanku langsung menatapku dengan bingung.


Aku menarik napas, lalu duduk kembali.


“Ada...” kataku pelan.


“Hah?”


“Maksud gua, bukan pengalaman nggak enak.” Aku menatapnya.


“Tapi ada kejadian yang nggak terlupakan di tempat itu. Gua ingat banget, sumpah.”


“Apa tuh?”


Aku diam sebentar.


“Pengalaman horor.”


“Horor? Di tempat cukur rambut?”


“Iya.”


Ia hanya menatapku, menunggu kelanjutannya.


Aku kemudian berkata,


“Jadi gini...”


Kejadian itu masih sangat jelas teringat di kepalaku.


Mungkin tidak terlalu jelas juga, karena bagaimanapun sudah lebih dari satu dekade.


Tapi dengan mantap bisa kukatakan, aku masih sangat mengingat inti kejadian itu.


Ya, itu adalah kejadian horor.


Mungkin tidak juga.


Karena aku ingat diriku yang kecil saat itu tidak merasa takut, tidak berteriak, bahkan tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.


Malam itu, aku dan temanku sedang berada di sebuah tempat pangkas rambut. Kami ditemani mamanya temanku. 


Temanku, sebut saja AN.


Mamanya sangat baik kepadaku. Entah kenapa, ia selalu memelukku dan mengajakku jajan apa pun di Alfamart.


Jadi, bukan hal yang aneh jika ia mengajakku ke tempat pangkas rambut bersama anaknya. Kami bertiga menghabiskan banyak waktu bersama.


Sambil menunggu giliran, kami bertiga hanya duduk di bangku.


Aku sudah tidak ingat lagi apa yang kami bicarakan malam itu.


Aku juga tidak ingat berapa lama kami berada di sana.


Banyak sekali bagian dari hari itu yang sudah hilang dari ingatanku.


Tetapi ada satu hal yang masih tersisa.


Pintu belakang.


Tempat pangkas rambut itu dicat berwarna hijau.


Waktu itu adalah jam sibuk tempat itu.


Dan ketika sedang bosan, pandanganku entah bagaimana tertuju ke arah samping. Di sana terdapat sebuah pintu yang terbuka.


Aku melihat ke arahnya.


Seingatku, hanya diriku yang melihatnya.


Di balik pintu itu ada pepohonan kecil dan sebuah jalan setapak.


Di jalan satu arah itu, aku melihat seseorang.


Atau sesuatu.


Pocong.


Ia berada di luar sana, cukup jelas untuk dilihat.


Tubuhnya terbungkus kain putih dan bergerak dengan cara yang tidak mungkin kulupakan.


Melompat.


Bukan ke arahku.


Namun menjauh.


Yang paling kuingat adalah punggungnya.


Ia tidak menghadap ke arahku.


Tidak juga secara langsung membelakangiku. Aku melihatnya lebih secara diagonal.


Meskipun begitu, aku memperhatikannya dengan sangat seksama.


Bentuk tubuhnya.


Tingginya.


Lompatannya.


Kain kafan yang membungkusnya terlihat kotor dengan tanah.


Dengan santainya ia lewat, seperti ada tempat yang ingin dituju.


“Gitu doang?” kata temanku.


Aku menangguk.


“Lu nggak dikejar?”


“Nggak.”


“Nggak keliatan mukanya busuk atau gimana?”


Aku menggeleng.


“Nggak diminta pocongnya untuk bukain tali kafannya?”


Sekali lagi menggeleng.


“Nggak diludahin?”


“Nggak,” jawabku.


“Cuma itu?”


“Iya, cuma itu, gua bilang. Et dah.”


Ya, hanya itu.


Sebuah sosok putih yang melompat menjauh.


Dan anehnya, aku ingat, aku yang masih sangat kecil, tidak merasa takut sama sekali. Aku hanya siswa SD saat itu.


Mungkin aku memang sempat merasa aneh. Mungkin juga tidak.


Yang jelas, aku tidak panik.


Aku tidak memberitahu temanku.


Aku tidak memanggil mamanya temanku.


Aku benar-benar tidak memberitahu siapa pun tentang kejadian itu, bahkan bertahun-tahun kemudian.


Yang kuingat hanyalah bagaimana setelah itu, hari berlanjut seperti biasa saja.


Kejadian itu ikut terkubur bersama ingatan masa kecilku lainnya.


Hal yang wajar. 


Manusia melupakan banyak kejadian di masa kecilnya.


Wajah orang-orang mulai kabur.


Percakapan yang pernah terjadi hilang begitu saja.


Tempat-tempat yang sering kukunjungi juga hanya tersisa sebagai potongan-potongan kecil di kepalaku.


Tetapi ketika mengingat kejadian itu, ada sesuatu yang berbeda.


Aku masih sangat mengingat sosoknya.


Seolah-olah, caught in 4k.


Catatan!

Lanjut bagian 2 →

Comments