Ganjil (Full Story) Ganjil: Pintu Belakang “ PEAK movie . Lima puluh ribu tiket worth it kata gua mah, walau dompet menipis.” Ucap temanku sambil bangkit dari kursi bioskop. Film yang kami tonton baru saja selesai. Aku yang mendengarnya hanya mengangguk. “Mau langsung makan?” “Boleh.” Setelah itu kami berjalan menuju sebuah restoran cepat saji yang masih berada di dalam mal. Kami cuma membeli sebuah burger dan es cola. Kami memilih duduk berhadapan di sebuah meja besi kecil. Makanan sesederhana itu pun habis tidak sampai lima menit. “Bagus sih, bagus. Tapi rame banget orang, njir,” kata temanku sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Wajar. Lima tahun sekali baru ada,” jawabku. “Satu-satunya franchise yang nggak mungkin flop dari tuh studio,” ucapnya. Ia kemudian terdiam sebentar sebelum kembali bicara. “Eh, by the way , entar anterin gua cukur rambut dulu ya sebelum pulang.” “Mau cukur di mana?” tanyaku. “Biasa. Di Asem, yang deket Masjid.” Sambil membungkus sampah makananku, aku men...
apa aja jadi tulisan.