Skip to main content

Sesuai Prosedur - Bagian 1

Bagian I – Garis yang Lurus


Percayalah, sejak kecil aku adalah murid yang teladan. Berkata kasar itu tidak mungkin. Hanya kalimat ramah, manis, dan semua hal yang menyenangkan orang-orang yang keluar dari mulutku. Bahkan untuk berkata “tidak” dan “terima kasih”, aku selalu berhati-hati.

Jadi teringat, beberapa kenangan masa sekolah dulu…


“Risa, pinjam catatan, ya?

“Risa, jelasin bab ini, dong.”

“Risa, kamu jadi wakil kelas mau, ya?”

“Risa, bantu Ibu bawa ini ke kantor guru, ya?”


Oke, oke, oke dan oke.


Mereka meminta ini dan itu, jawabanku hanya satu–tidak, jawabanku hanya dua; oke dan mengangguk. Di SD aku ketua kelas; di SMP selalu masuk peringkat 10 besar; di SMA aku yang selalu mengumpulkan tugas lebih awal; di kampus aku muncul dalam semua kegiatan.


Apakah ini ajaran dari orang tuaku? Untuk satu hal, aku akan menjawab: tidak. Apakah itu berarti orang tuaku tidak mengajari sopan santun? Sekali lagi, tidak. Apakah orang tuaku jahat? Juga tidak. Semua ini kulakukan karena memang sudah sewajarnya begitu, kan?


Hidup taat pada norma adalah hal wajar. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Tentu orang lain pasti akan senang jika kita baik, namun bukan hanya itu. Jika orang lain senang, lingkungan menjadi enak dan pada akhirnya kitalah yang menikmatinya.


Atau begitulah pikirku, dengan naif… namun kutarik kembali.


“Oi, cung!


Itu bukan namaku, bukan juga panggilanku–tapi aku tetap menoleh.


“Gue mau ke Alfa dulu bentar. Bisa nggak lo bawain tas kita ke kelas Pak Sutirto bentar? Sekalian amanin bangku di bagian tengah.”


“Tapi, aku ada kelas di Lab Komputer.”


“Terus? Udah, buruan ambil, nih!” katanya sambil menyerahkan tiga tas mereka yang warna warni, dengan bentuk yang agak sulit kupahami.


“Tapi, kan, beda gedung…”


“Tolong?”


Permintaan tolong paling hampa yang pernah kudengar.


“Oke,” kataku, juga hampa.


Sulit dipercaya datang dari mulutku sendiri. Meski hampa, sekali lagi aku menerima permintaan egois dari tiga gadis itu. Ya, karena aku selalu menerimanya, mereka jadi kebiasaan. Dan, ya, aku tau mereka baru saja memanggilku “kacung.”


Sekali lagi, karena aku selalu mengiyakan apa pun yang mereka suruh. Ya, bahkan murid teladan sepertiku tahu kata-kata seperti itu. Aku juga tahu mereka memberikan julukan lain seperti; doormat, yes-woman, atau teacher’s pet. Tapi, bukan itu tujuanku.


Atau, setidaknya, sebutlah people pleaser. Bukan pujian juga bagi banyak orang, aku tahu. Tapi bagiku, julukan itu masih terasa netral. Maksudku, memang begitulah hidupku sejak kecil hingga sekarang. Tidak ada yang aneh, hingga saat ini.


Segera, aku melangkah cepat menuju kelas tempat Pak Sutirto akan mengajar nanti, lalu menghentakkan kaki dengan kencang ke laboratorium komputer. Jika ada yang melihatku sekarang, mungkin aku terlihat seperti orang marah yang sedang terburu-buru.


Padahal tidak–


Aku tidak marah.


Aku tidak sedang kesal.


Aku hanya tidak ingin terlambat.


Namun, seperti yang kubilang tadi, kutarik kata-kataku. Berbuat baik dan ramah ternyata tidak selalu dibalas dengan kebaikan juga. Naif. Pemikiran bocah. Sebenarnya bocah atau tidaknya itu tidak penting. Ini adalah wilayah kampus, mereka semua sudah dewasa.


Mungkin, di dunia orang dewasa–


dunia kerja nanti, semuanya akan berbeda…


Ya, kan?


Sekali lagi, pemikiran yang naif.


Sekitar beberapa bulan setelah itu, tibalah hari kelulusan. Saatnya menyambut dunia orang dewasa, yaitu dunia kerja. Pengalaman pertamaku. Tidak berlebihan jika kukatakan pengalaman ini seperti membuka lembaran baru dalam hidup. Ekspektasiku tinggi.


Mudah bagiku mendapatkan pekerjaan. Entah mengapa, sudah berapa lama sejak terakhir kali aku bersyukur menjadi murid teladan. Belajar seharian memberikan banyak kemudahan. Reputasiku pun membantu–salah satu dosenku dulu yang mengenalkan pekerjaan ini.


Terdengar sombong. Tapi kubilang, aku pantas mendapatkannya. Bukan hanya soal koneksi, tapi pihak perusahaan pun juga senang melihat kemampuan dan nilai-nilaiku. Perusahaan itu bernama Aurora Media Group. Di sana aku bekerja sebagai Production Assistant.


Tempatku bekerja ini, terlihat… mewah.


Bangunan raksasa di tengah kota ini memiliki 30 lantai dengan fasad transparan, adalah tempatku bekerja. Jika seseorang sepertiku membayangkan kemewahan, ini adalah yang kumaksud. Aku ditempatkan di lantai 12, dengan satu kubikel pribadi, sekatnya setinggi dada.


Di lantai 12 ini bukan sekedar kantor, nyaris seperti galeri bisa kukatakan. Seluruh dindingnya dipenuhi poster konsep, draft storyboard, moodboard berwarna, dan banyak prototype logo. Semuanya berbingkai, berjarak, tertata, indah dan tidak ada kekacauan yang terlihat.


Dan, karyawan baru sepertiku, gajinya lebih tinggi dari UMR.


Oke, hentikan glazing-nya dulu.


Namun sekali lagi: aku pantas mendapatkan semua ini.


Oh, hari itu, karyawan baru, harus mengikuti orientasi–mengenal lingkungan kantor dan pelatihan dari seorang senior. Senior yang menemaniku di masa ini adalah seorang pria. Kulihat, dia senior dalam umur dan jabatan, sepertinya. Tidak bercanda.


“Selamat pagi,” ucapnya sambil menjulurkan tangan.


“Selamat pagi, Pak.”


“Salam kenal, saya Bram Gunawan, biasa dipanggil Mister Bram!.”



“Hahaha–bercanda bercanda!”


“Haha…”


Oke, itu membuatku jadi membalas jabat tangannya dengan canggung.


“Saya Risa Felicia Pranata. Salam kenal.”


“Anak-anak di sini pada panggil saya Pak Bram. Saya Senior Producer di sini.”


Ternyata, beliau adalah seorang Senior Producer, seorang bos besar.


“Jadi, kamu siap untuk hari ini?”


“Siap. Sangat siap, Pak. Terima kasih.”


Dilatih oleh Senior Producer? Aku terhormat.


“Hm, bagus. Baiklah, ayo kita ke lantai di mana kamu bakal bekerja nanti. Kamu udah diinfokan kemarin, kan?”


“Benar, Pak.”


Baiklah, dunia kerja, aku sangat siap. Hanya itu yang kupegang sejak tadi di dalam hati. Tentu, aku juga memegang pulpen dan buku catatan kecil di tangan. Aku juga sudah silent HP-ku dan kutaruh di tas bersama tisu dan hand sanitizer, dan barang-barang lainnya


Bohong kalau kukatakan aku tidak merasa aneh. Gugup? Canggung? Maksudku, ya, semacam itu. Hal yang wajar. Apakah karena kemewahan lingkungan sekitar? Bukan. Sejak pertama kali interaksi tadi, aku merasa aneh. Tentu, rasa antusiasme tetap ada.


“Kalau gitu, bisakah kamu pimpin di depan? Aku pengen liat bagaimana kamu bernavigasi.”


“Baik, Pak,” jawabku dengan cepat.


Ingin lihat bagaimana aku bernavigasi? Aneh. Mungkinkah ini semacam tes–cara mereka menilai sikapku? Apakah cocok bekerja di tempat ini, atau malah aku terlihat canggung dan norak? Kusingkirkan pikiran itu sejenak, lalu segera berjalan lebih dulu di depan.


Bisa kukatakan, ada keuntungannya berjalan di depan. Setidaknya dia tidak bisa melihat bagian depanku. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk mengambil cermin tangan, memastikan ekspresiku. Kutarik sedikit kemeja dan rokku, merapikannya sekali lagi.


Hari ini aku memakai kemeja putih dan rok hitam sebatas lutut. Rambutku yang agak panjang kuikat sederhana, tidak ada helai yang keluar dari baris. Normal dan nyaman. Wajahku segar bukan karena make-up berlebih, tapi karena semalam aku tidur sangat nyenyak.


Sebentar…


Apakah kita hanya akan diam tanpa obrolan selama perjalanan ini? Kecanggungan ini membuatku merasa aneh, seperti hanya sedang ditatap. Aku ingin menoleh, tetapi sulit. Ingin bertanya, namun takut dianggap tidak profesional. Biasanya aku tidak seperti ini.


Tapi, yah, kulupakan, karena tidak sampai 3 menit kita sampai di tujuan.


“Yuk, masuk. Saya akan kenalkan mereka yang bakal jadi teman kerjamu. Tidak semua, karena terlalu banyak orang di sini, hanya yang akan dekat denganmu saja. Sisanya bergaullah. Kamu bisa, kan?”


“Siap, bisa, Pak. Terima kasih.”


Pak Bram membawaku ke tengah ruangan. Meski memiliki bilik masing-masing area ini terlihat seperti terhubung. Suara telepon, langkah cepat orang-orang, dan notifikasi yang tak berhenti. Inilah lingkungan baruku. Oh, dan, kubikel luas yang sudah sempat kulihat sebelumnya.


“Teman-teman,” kata Pak Bram menepuk tangannya pelan. 


Beberapa kepala menoleh.


“Seperti yang udah kalian ketahui sebelumnya, di tim ini akan kedatangan anggota baru,” lanjut Pak Bram.


Mendengar itu, segera mereka berdiri. Ada 4 orang di tim ini, termasuk aku jadi 5 orang. Berdiri di samping Pak Bram, kulihat cara mereka menoleh dan berdiri, ada sesuatu yang aneh. Kurasa hanya satu jawabannya, mereka tidak ingin diganggu pekerjaannya.


“Yuk, nak, perkenalkan dirimu.”


“Baik, Pak,” jawabku sambil mengambil satu langkah ke depan.


“Nama saya Risa. Salam kenal.”



“Hm? Itu aja?”


“Senang bisa bergabung di tim ini,” tambahku sambil sedikit membungkukkan badan.


Singkat. Padat. Jelas. Tidak enak mengambil lebih banyak waktu lagi.


“Hahaha, kamu gugup, ya? Ya udah, saya yang akan bilang,” katanya sambil menempelkan tangannya di bahuku.


Apa yang ingin diucapkan orang ini? Ekspresi mereka semakin aneh.


“Jadi gini, Risa ini salah satu lulusan terbaik dari universitas terbaik negeri ini. Bahkan di jenjang pendidikan sebelumnya juga jadi yang terbaik. Lulusannya adalah ilmu komunikasi, broadcasting dan media. Andalkan dia, dan pekerjaan kalian akan sangat terbantu,” ujar Pak Bram dengan ceria dan di akhir kata dia memberikan ibu jari ke atas.


Prok prok prok!


Mereka bertepuk tangan, meski terdengar seperti tidak niat.


“Baiklah. Pertama-tama, di sebelah seberang bilikmu, ada Nia. Production Assistant juga, sama sepertimu..”


Aku harus akrab dengannya. Pikirku dalam hati.


“Di sebelah sini ada Arga, seorang AD.”


Assistant Director, jabatannya jauh di atasku. Entah kenapa dia mengenakan kaos dan celana yang terkesan bebas.


“Ada Tyo di sana, Content Planner. Dan di sebelahnya ada Maya bertugas sebagai Post-Production Liaison. Tidak berlebihan saya bilang jika tim ini adalah jantung perusahaan. Jadi, berteman dengan baik dan saling membantu.”


Jantung perusahaan? Ini posisi yang sangat penting. Seketika aku merasakan beban yang sangat besar. Namun, entah mengapa, mereka memiliki ekspresi tidak nyaman. Sejak perkenalan tadi kami hanya saling bertukar wajah dan mengangguk pelan.


Keputusanku tadi tepat. Aku tidak ingin mengambil banyak waktu mereka dengan perkenalan panjang. Dan sepertinya Pak Bram tidak menyadari ini. Benar, memang benar kesan pertama itu harus dibuat bagus. Tapi mau bagaimana lagi? Bisa dilakukan di lain hari.


“Oke, sekian. Mau ngobrol lebih lanjut boleh, di luar jam kerja nanti.”


Mendengar itu, mereka kembali ke tempat masing-masing, dengan ekspresi wajah yang tak berubah.


“ Risa, seperti yang sudah diinfokan kemarin, di sini mejamu. Silakan, coba duduk.”


“Baik, Pak.”


Tanpa pikir panjang, aku langsung duduk. Kursi ini, nyaman. Kutaruh tasku di meja yang besar ini. Aku merabanya sedikit. Keyboard wireless berwarna hitam yang kelihatan berkelas. Monitor yang berukuran pas, warna sekeliling yang tidak terlalu terang.


Bekerja di depan layar selama 8 jam pun akan terasa nyaman, mungkin.


“Nyaman?”


“Nyaman, Pak,” jawabku sedikit terkejut, lupa dia masih di sini.


“Oke… Dan, oh, kamu punya laptop di rumah?”


“Punya, Pak.”


“Bagus. Nanti, ketika udah mulai kerja, jangan lupa untuk selalu hubungkan pekerjaan yang ada di PC kantor ke laptop kamu, ya?”


“Oh, baik, Pak.”


Ah…


Aku, aku tahu ini. Aku terlena oleh semua kemewahan yang diberikan oleh perusahaan ini, membuatku terlupa akan sesuatu. Perusahaan media seperti ini, tidak salah lagi adalah salah satu perusahaan yang bisa saja memberikan pekerjaan mendadak di luar jam kantor.


Catatan!


Comments

🎲 Surprise Me