Skip to main content

Sesuai Prosedur

Sesuai Prosedur


Prolog

Siang hari itu, hampir istirahat makan siang. Di kubikel yang terlihat luas ini–memang kenyataannya luas, namun aku merasa sesak. Dadaku mengencang, bunyi AC dan jam dinding terdengar terlalu keras. Layar monitor terasa membakar.

“Jadi begini, Ris–”


Meski begitu, suara itu, aku bisa mendengarnya. Berasal dari sampingku. Itu adalah suara yang setiap hari selalu kudengar, bukan karena sukarela. Tidak hanya suaranya saja, gerakan tangannya, dan suara telapaknya yg memukul pelan mejaku, dan tawanya.


Di kepalaku, ada suara kecil: tolong… diam sebentar.


“Semalam, anakku yang kedua, Sheila, mulai minta dibeliin HP! Aku bilang ‘kan ke dia, kalo mau HP, kamu harus rajin dan peringkat 1 di kelas 5 nanti, seperti kakak Risa ini. Dan ngomongin tentang kamu, Sheila pengen kamu main lagi dengannya ke rumah. Jadi, kira-kira bisa nggak kamu–”


“Diam…” kataku, menyela. Hampir seperti bisikan.


“datang hari ini? Hm?”


Dia, dari semua orang yang ada di sini sekarang, harusnya sadar betapa sibuknya aku sekarang. Dari semua waktu yang ada, di cuaca panas dan deadline yang dekat seperti ini, orang itu tidak juga bisa diam duduk di kursinya. Apakah ini neraka?


“Apa tadi kamu bilang? Aku keasyikan ngomongin Sheila. Hahaha. Habisnya, dia imut ba–”


“DIAM!” ulangku.


Telapak tanganku berkeringat. Jari-jariku mencengkeram tepi keyboard. Kursor berkedip di layar–seperti mengetuk-ngetuk kepalaku. Aku menelan ludah dan terdiam beberapa saat. Hingga akhirnya, kata itu… dan volume suara itu, keluar begitu saja.


Beberapa kepala menoleh, mencari tahu. Ruangan satu lantai ini, mendadak terasa sangat jauh. Suara itu… bukan milikku–tidak, suara itu memang memang milikku. Setidaknya, bukan nada yang selama ini kukenal. Panas, kasar, dan juga asing.


Kata-kata berikutnya meluncur sebelum sempat kupikirkan;


“Gue bilang, TUTUP. MULUT. LO!”


Ruangan seketika hening.


Kata-kata itu kulepaskan bersamaan sesuatu yang panas dalam diriku. Nafasku memendek. Kepalan tanganku memutih. Keyboard wireless berwarna hitam ini, yang sejak tadi kucengkram, terasa berat. Terlalu berat. Namun tanpa ragu, tetap kuayunkan.


Comments

🎲 Surprise Me