Skip to main content

Lika-Liku Seru Sera - Bagian 3

Bagian 3


“Ra, mau nggak jadi pacar gue?”


Aku masih ingat kalimat itu dengan jelas, menggema di ruang kelas kosong, tanpa suara lain kecuali suara sapu yang bergesekan dengan lantai. Cahaya sore mulai masuk dari jendela, menerangi dirinya, diriku dan beberapa teman lainnya.


Waktu itu pertengahan kelas sebelas. Kami sedang piket setelah jam pelajaran berakhir. Tiba-tiba saja, ia, cowok yang cukup sering satu kelompok denganku ketika ada tugas kelompok sekolah, menyatakan cintanya seperti itu kepadaku.


Apakah bisa kubilang ‘menyatakan cinta’?


Apa-apaan pemilihan kata-kata pada kalimat itu? Juga dengan pemilihan waktu serta tempatnya.


Itu membuatku terdiam cukup lama.


Bukan karena tersentuh, tapi lebih karena terdengar aneh. Maksudku, lebih karena tidak menyangka. Aku mencoba mengingat kembali interaksi kami selama ini, mencari tanda-tanda yang mungkin terlewat. Kami tidak dekat, tapi juga tidak asing.


Beberapa detik terasa panjang, baginya dan bagiku. Di dalam diam itu, aku justru memikirkan banyak hal lain. Tentang sekolah.


Tentang bagaimana untuk bisa mengejar teman-teman kelasku yang sangat pintar. Aku sudah bilang pada diri sendiri untuk fokus belajar, demi cita-citaku dulu. Pikiranku melayang pada masa lalu–pada hubungan percintaan yang berakhir begitu saja.


“Ini, serius?” tanyaku, mencoba memastikan.


“Serius…” jawab si cowok, malu-malu.


Perlahan, aku menggeleng.


“Maaf ya…” kataku akhirnya, berusaha terdengar sopan. “Aku nggak bisa.”



Ia tidak langsung menjawab.


Aku tidak menambahkan apa-apa lagi. Rasanya, satu kalimat itu sudah cukup.


Saat itu aku sadar, alasanku bukan hanya soal belajar. Diam-diam aku sudah membuat janji pada diriku sendiri. Kalau suatu hari aku akan berpacaran lagi, aku ingin menjalaninya dengan serius–sampai menikah, bukan sekedar hubungan yang datang dan pergi begitu saja.


Dan aku tahu, aku belum sampai di titik itu. Perasaanku pun belum jelas.


Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Mungkin ini juga hanya akan menjadi cinta monyet yang lain. Karena itu, aku memilih menolaknya. Dan sore itu pun berakhir begitu saja, dengan kelas kosong, lantai yang bersih, kami saling berpamitan kecil satu sama lain.


Keesokan harinya, suasana di antara kami berjalan seperti biasa.


Cowok itu tetap bersikap normal, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi kemarin sore. Ia masih bicara seperlunya, masih bercanda seperlunya, dan masih mau satu kelompok denganku seperti biasa. Akupun demikian. Tidak ada kecanggungan di antara kami.


Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada jarak yang dibuat-buat.


Semua berjalan layaknya orang-orang yang tahu cara menjaga norma.


Namun, kejadian kemarin menjadi sebuah kabar angin yang menyebar di lingkungan sekolah. Aku sempat mendengar rumor kecil dari beberapa teman.


Ada seorang cowok yang baru saja nembak cewek tapi langsung ditolak, begitulah kira-kira isi beritanya.


Aku tidak tahu apakah mereka sengaja membicarakan hal itu di dekatku atau memang kebetulan saja aku mendengarnya. Yang jelas, percakapan itu sampai juga ke telingaku.


“Eh, kasihan, njir.”

“Udah, woy, jangan diledekin terus.”

“Bro ditolak cewek.”

“Beda kelas.”


Suara-suara seperti itu terdengar samar di sela istirahat. Lalu, seperti yang sudah kuduga, cowok itu jadi bahan godaan kecil oleh teman-temannya. Mereka menertawakannya dengan cara yang menurutku, masih wajar. Hanya ledekan ringan yang biasa terjadi antara cowok.


Dan aku memperhatikan sesuatu.


Ia tidak tampak terganggu.


Ia hanya tertawa kecil, mengangkat bahu, lalu ikut membalas ledekan itu dengan santai. Seolah penolakan itu memang hanya bagian kecil dari hari biasa.


Hal itu juga terjadi padaku.


Beberapa temanku yang mendengar kabar itu ikut melemparkan senyum-senyum kecil, diselingi wawancara ringan setiap kali melihatku. Ada yang menggoda, ada yang hanya menatap, dan ada juga yang sekedar ikut penasaran.


Sebagian kujawab dengan kata-kata, sebagian lagi hanya kubalas dengan senyuman kecil.


Di dalam hati, aku sempat bertanya-tanya.


Kalau ia benar-benar serius, kenapa reaksinya terlihat begitu biasa? Apa itu berarti perasaannya tidak sedalam yang kubayangkan? Atau jangan-jangan ia masih punya pilihan lain? Bisa jadi bahkan hanya sebuah prank atau sekedar bagian dari permainan truth or dare.


Lalu pikiranku bergerak lebih jauh.


Kenapa ia tidak berusaha lebih keras? Kenapa tidak mencoba menjelaskan lagi, atau menyakinkanku lagi? Kenapa tidak terlihat sedikit pun terlihat putus asa?


Namun, sebelum pikiranku berkembang terlalu jauh, aku langsung menepisnya sendiri.


Terus mengejar? Memaksa? Membuat suasana jadi tidak nyaman hanya demi satu jawaban?


Aku justru suka kalau ia tidak begitu.


Aku lebih bisa menghargai orang yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus menerima penolakan, dan kapan harus tetap bersikap normal. Sikapnya yang seperti itu, juga keberaniannya untuk jujur akan perasaannya, patut dihargai.


Itu semua bukan hal yang mudah.


Jadi, meski semuanya sudah berakhir sebelum benar-benar dimulai, aku tidak merasa ada yang terlalu buruk dari kejadian itu. Hanya satu hal kecil yang tersisa di kepalaku–bahwa mungkin, peristiwa itu memang hanya sesuatu yang sebentar, lalu hilang.


Seperti biasa.


Hari-hari sekolah pun berlanjut, dengan naik-turunnya nilai dan caraku mendapatkannya. Lelah yang sama, rutinitas yang sama, sampai akhirnya kelulusan tiba. Aku lulus dengan nilai yang, seperti yang sudah kuduga, biasa-biasa saja.


Universita ternama, aku datang….! Hahaha.


Saat mencoba menghibur diri seperti itu, tiba-tiba aku teringat satu peristiwa lain;


“Kak, tunggu, kak!”


Sebuah tangan menyentuh pundakku.


Aku menoleh pelan.


Butuh beberapa detik bagiku untuk benar benar mengenalinya. Wajahnya memang sudah tidak sama persis seperti dulu. Kini ia terlihat lebih dewasa, lebih tinggi, tapi tatapan matanya masih terasa familiar. Cowok itu.


“Maaf kalau salah, tapi kamu Sera, kan?” katanya. “Kisara Anindya?” lanjutnya, seolah memastikan, menyebut nama lengkapku, yang entah sudah berapa lama tidak kudengar dari orang lain.


Ia mengingat nama lengkapku.


Aku terdiam.


Otakku seperti berhenti sebentar, seolah sedang memuat ingatan lama yang sudah tidak kubuka.


“Siapa, ya?” tanpa sengaja kalimat itu lolos dari mulutku.


Cowok itu langsung terlihat murung. “Sudah kuduga…”


“Aku–”


Belum sempat ia melanjutkan, aku justru menyela lebih cepat.


“Ah, kamu Aarav, ya?”


Sekejap, senyum kecil kembali di wajahnya.


“Yep, yep, itu aku. Dulu kita sering satu kelompok bareng!”


“Ah ya, benar. Aku ingat,” jawabku cepat.


Ia tertawa kecil, lalu mengusap tengkuknya dengan canggung.


“Juga… aku cowok yang sempat kamu tolak dulu, hahaha.”


“Aah, ya… maaf.”


Kata “maaf”  itu keluar begitu saja, bahkan sebelum sempat kupikirkan lagi.


Aarav tampak sedikit panik. Rupanya ia hanya ingin mencairkan suasana tadi.


“Ah, nggak, nggak. Nggak apa-apa, kok.”


Lalu ia menatapku lagi, seolah baru ingat sesuatu.


“By the way, ini kamu mau kemana?”


“Ke tempat kerja.”


“Sekarang?” tanyanya sambil melirik waktu. “Sore-sore gini?”


“Ya.”


“...Kamu nggak lanjut kuliah?”


“Lanjut, kok.” Aku tersenyum kecil, lalu buru-buru menambahkan, “Eh, maaf, udah dulu ya. Aku udah mau telat.”


Aku sempat hendak berjalan lagi, tapi ia kembali memanggilku.


“Eh, kamu kerja di mana?”


“Di toko roti depan sana.”


Ia menatapku dengan wajah yang tiba-tiba penuh ide.


“Boleh aku ikut? Kebetulan lagi laper, nih.”


Aku sempat diam beberapa saat.


Lalu, setelah jeda singkat, aku menjawab, “Boleh… kok.”


Dan begitu saja, hari yang tadinya biasa itu berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak kuduga. Seperti kata mama dulu, hidup memang tidak bisa ditebak. Hidup selalu punya caranya sendiri untuk, entah bagaimana, mempertemukan kami kembali.


Aku berjalan bersama Aarav menuju tempat kerjaku, dalam suasana yang anehnya tidak terasa canggung. Namun, kami tidak mengobrol satu hal pun. Jam pulang membuat jalan raya dipenuhi kendaraan, asap, dan panas membuatnya tidak cocok untuk mengobrol.


Dan, secara teknis, aku memang sedang terburu-buru karena hampir terlambat.


Begitu sampai, aku meminta waktu sebentar untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, aku keluar dengan sudah mengenakan seragam kerja yang rapi; kaos polos abu-abu, celemek kuning, lengkap dengan sarung tangan, masker, dan penutup rambut.


Sementara aku bersiap-siap, Aarav sudah lebih dulu memilih pesanannya, dua buah croissant. Di sini, sistemnya memang self-service.


Aku melayani Aarav seperti pelanggan biasa. Ketika aku ingin membungkus pesanannya, ia bilang ingin makan di sini, jadi kusajikan di atas piring. Ini toko roti kecil, tidak ada area makan di dalam. Biasanya pelanggan hanya memasan untuk dibawa pulang.


“Minumnya? Kami juga ada kopi kalau kamu mau,” ucapku menunjuk papan menu di atas.


“Boleh, deh. Es latte regular satu.”


Aarav paham jika hanya ada satu meja kecil serta sepasang kursi di depan toko untuk makan di tempat. Begitu kopinya selesai kubuat, segera ia membayar, lalu membawa pesanannya ke keluar dan menikmatinya dengan tenang di sana.


Aku sempat mengira ia akan segera pergi setelah selesai. Tetapi sepuluh menit berlalu, dua puluh menit, lalu tiga puluh menit kemudian, ia masih ada di sana. Makanan dan minumannya bahkan sudah habis, tapi ia masih di sana, menatap ke depan.


Entah apa yang sedang ia pikirkan.


Saat tidak ada pelanggan lagi, aku menghampirinya.


“Kamu masih di sini?”


Aarav terlihat sedikit panik. “Ah, nggak boleh lama-lama, ya?”


“Bukan nggak boleh, sih. Aku cuma nanya.”


Ia mendadak berdiri, lalu seperti baru mengumpulkan keberanian untuk bicara.


“Kamu dateng ke sini karena lagi istirahat, kan?”


Aku justru balik bertanya, “Kamu nungguin aku istirahat?”


Aarav tersentak. “Aku mau menikmati pemandangan,” katanya cepat, menjawab pertanyaanku tadi.


Aku melihat sekeliling. “Apa? Jalan raya yang panas dan macet itu?”


Kami terdiam diam selama beberapa detik.


Lalu tanpa sadar aku tertawa kecil.


Alasannya memang terdengar konyol.


Aarav akhirnya menyerah. Bahunya sedikit turun sebelum ia berkata jujur dengan suara yang agak gemetar, “A-aku cuma ingin ngobrol… Kita, kan, teman lama yang baru ketemu lagi. Pasti ada, kan, sesuatu yang bisa diobrolin?”


“Aku nggak punya waktu istirahat. Dan aku selesai jam sembilan malam.”


Wajah Aarav langsung memelas.


Lalu, dengan suara yang lebih kecil ia bertanya, “...Boleh minta nomor kamu?”


Aku menatapnya sebentar. “Masih yang sama waktu sekolah dulu.”


“Eh, iyakah? Tapi aku nggak pernah lihat kamu update SW.”


Aku mengerjap, lalu tanpa berpikir panjang menjawab, “Maaf, kayaknya aku nggak ngesave nomor kamu.”


Aarav membeku. Ia tahu apa maksud dari perkataanku.


“Khh!” suara kecil yang aneh lolos dari tenggorokannya.


Ia segera merapikan tas dan barang-barangnya dengan cepat, lalu berkata agak keras, “Croissant dan kopi buatanmu enak!!”


Aku sempat membuka mulut. “Tapi itu bukan buatan–”


Namun ia sudah pergi terlalu cepat. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, lalu tersenyum kecil.


Seharusnya tadi aku menjawab bahwa aku memang jarang membuka WA. Jadi bahkan walau nomornya tersimpan pun ia tidak akan melihatku update sesuatu. Namun, kenapa aku justru malah memberinya jawaban yang terdengar begitu menyakitkan?


Aku menghela napas pelan, lalu baru menyadarinya.


Aku menikmati kepanikan kecil Aarav.


“Lucu”, pikirku dalam hati.


Belakangan ini, aku memang sudah sangat jarang tersenyum. Apalagi tertawa. Jadi, entah kenapa, ketika melihat reaksi panik kecilnya itu membuatku merasakan seperti sesuatu yang sudah lama tidak kutemui. Sesuatu yang ringan.


Malamnya, Aarav benar-benar mengirim pesan.


Awalnya hanya satu pesan singkat, menanyakan apakah aku sudah pulang. Lalu obrolan mengalir begitu saja. Tentang kuliah, dosen yang menyebalkan, tugas yang menumpuk, sampai hal hal remeh yang justru terasa paling mudah dibicarakan dengan seseorang yang sudah mengenalku sejak lama.


Kami juga sempat mengingat masa sekolah. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, tetapi sekarang entah kenapa jadi hangat ketika diingat kembali. Dan di sela-sela chat itu, aku seperti melihat lagi hidupku sendiri dengan lebih jelas.


Setelah lulus SMA, aku memang mencoba masuk ke beberapa universitas ternama. Aku mengejar jurusan hukum, karena saat itu aku masih punya mimpi besar untuk masa depan yang rapi dan meyakinkan. Namun, persaingan terlalu ketat.


Aarav menulis bahwa ia masuk berhasil diterima di universita ternama, jurusan TIK. Aku tidak terlalu terkejut. Dari dulu ia memang cocok dengan bidang seperti itu.


Sementara itu, aku tidak benar-benar punya banyak pilihan. Dengan nilaiku yang biasa-biasa saja, mimpiku untuk kuliah di universita ternama pun sirna. Tapi tidak dengan mimpi mengejar jurusan hukum. Untungnya, beasiswa yang kukejar berhasil kudapat.


Aku tidak datang dari keluarga kaya, jadi itu sempat terasa seperti pertolongan besar. Uang kuliah tertutupi, dan bahkan ada uang jajannya juga untuk keperluan sehari-hari. Tapi ternyata, uang itu tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan rumah.


Ya, pelan-pelan aku mulai menggunakannya bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga.


Saat itu, ayahku jatuh sakit dan harus pensiun dari pekerjaannya sekitar setahun sebelumnya. Penyakitnya tidak parah, jadi beliau hanya dirawat di rumah. Aku, sebagai anak satu-satunya, mau tidak mau harus jadi tulang punggung baru di rumah.


Aku tidak banyak menjelaskan semuanya di chat, tapi Aarav menangkap garis besarnya.


Dan anehnya, aku justru merasa nyaman saat bercerita padanya. Aku memang masih aktif di kampus, punya banyak teman, dan cukup dikenal oleh para mahasiswa atau dosen. Tapi setelah kuliah, aku tidak punya waktu untuk bergaul dan bermain.


Waktuku habis untuk bekerja, pulang, belajar sebentar, mengerjakan tugas, lalu tidur. Hari-hariku seperti berlari terus tanpa benar-benar berhenti. Parahnya, berlari pada sebuah pengulangan yang memusingkan.


Toko roti kecil itu, tempatku bekerja hanya bangunan dua lantai, dengan lantai atas tempat tinggal pemilik. Pemiliknya baik sekali padaku. Ia memahami keadaanku, jadi ia memberiku jadwal yang tidak tetap, lebih seperti kerja freelance dari pada part-time yang terjadwal rapi.


Karena itu juga, wajar saja jika penghasilannya tidak besar.


Aarav mendengarkan semua itu dengan tenang.


Sejak reuni kami saat itu, ia mulai datang hampir setiap hari. Kadang benar-benar membeli roti dan kopi, kadang hanya duduk sebentar di depan toko. Entah ia selalu datang karena suka produk kami, atau karena ingin melihatku.


Mungkin dua-duanya.


Yang jelas, tanpa kusadari, aku mulai menunggu kehadirannya. Kehadirannya berubah dari terasa biasa menjadi penting.


Kami perlahan jadi lebih dekat daripada waktu sekolah dulu. Obrolan kami tidak lagi canggung, Ada semacam keluwesan baru di antara kami, sesuatu yang datang diam-diam, seperti pintu yang perlahan terbuka dengan sunyi.


Belakangan kami selalu menghabiskan waktu yang lama untuk mengobrol. Aku menatap layar ponsel sambil menyadari satu hal, aku menikmati ini.


Bukan sekedar chatnya.


“Um… kalo kamu ada waktu, nih, misalnya… mau nggak kalo kita jalan-jalan? Nggak perlu jauh-jauh. Kayak, ke mana gitu? Sekitaran sini juga nggak apa-apa…”


Beberapa hari setelah itu, saat toko kembali sepi dan Aarav datang seperti biasa, sambil mengambil roti yang diinginkannya, ia sempat mengajakku jalan-jalan. Mungkin, hang out maksudnya? Ia mengatakannya dengan kurang jelas.


Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena aku tahu jawabannya akan sulit. Hari liburku hampir tidak pernah benar-benar kosong. Kalau tidak kuliah, aku bekerja, full-time, dari pagi hingga sore.


“Lihat nanti, ya,” jawabku waktu itu.


Dan seperti banyak hal lain dalam hidupku, ajakan itu lewat begitu saja.


Sampai beberapa minggu kemudian.


Hari itu, paginya, bosku mengabarkan lewat chat WA bahwa ia tiba-tiba tidak enak badan dan memutuskan untuk libur sehari. Ini adalah momen yang langka. Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya membuka chat dengan Aarav.


Aku tidak terlalu memikirkannya. Hanya menulis santai, seolah itu hal biasa.


Hari ini aku libur.


Hanya dalam sepersekian detik, balasan datang.


Aku juga.


Cepat sekali.


Percakapan itu langsung mengalir. Kami mulai menyusun rencana sederhana; tidak ada tujuan jelas, hanya ingin keluar dan menghabiskan hari bersama.


Namun, di tengah obrolan itu, aku sempat ragu.


Aku tidak ingin salah paham.


Jadi aku menulis lagi.


Kamu bakal bawa brp orang? Aku juga bakal ajak teman kuliah, nggak banyak, sih.


Pesan terkirim, beberapa menit berlalu dan masih tidak ada balasan.


Aneh. Aarav biasanya tidak selama ini.


Lalu akhirnya muncul.


Aku pengennya kita berdua aja.


Aku menatap layar cukup lama. Jari-jariku sempat berhenti di atas keyboard, berpikir dalam hati.


Ah, jadi ini bukan hang out, tapi ajakan ngedate


Lalu akhirnya aku membalas dengan singkat.


Oh, oke.


Masih di hari yang sama, aku datang ke tempat yang kami sepakati untuk bertemu.


Aku bersiap-siap dengan sedikit usaha lebih dari biasanya. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa aku memang memikirkan hal ini.


Maksudku, dilihat dari mana pun, ini adalah sebuah kencan, kan?


Sesuatu yang masih terasa asing bagiku.


Aarav, seperti yang kuduga, sudah datang lebih dulu.


Ia menunggu di atas motor hitam yang terlihat berbeda dari yang biasanya. Aku tidak terlalu mengerti sepeda motor, tapi yang ini tampak lebih besar dan gagah. Tebakanku, itu adalah motor yang sangat mahal.


Aku menghampirinya, “Oh, motor kamu beda?”


Aarav menoleh, lalu tersenyum kecil. “Ah, ini? Iya. Punya papa.”


“Pertama kali lihat ini.”


“Soalnya, yang biasa aku pake sehari-hari nggak enak kalo dibuat bonceng orang.”


Aku mengangguk pelan. Aku ingat motor yang biasa ia pakai saat ke toko terlihat lebih sporty, lebih seperti motor yang sering terlihat di ajang balapan.


“Ngomong-ngomong soal motor,” kataku, “aku jadi ingat waktu kita reuni waktu itu, kamu kok jalan kaki?”


Aarav tertawa kecil, menggaruk kepalanya. 


“Oh itu… aku lihat kamu dari kejauhan, terus refleks ngejar. Motor aku tinggal di parkiran. Dan, ngeliat kamu jalan kaki, kupikir tempat kerjamu dekat, jadi ya udah, ikut jalan aja.”


“Kena uang parkir dua puluh ribu aku. Hahaha…” lanjutnya.


Aku tersenyum kecil.


“Yaudah, ayo berangkat,” kataku. “Karena kamu yang ngajak, aku ikut aja.”


“Ah, oke.” Ia tampak sedikit lega. “Aku sebenarnya juga nggak ada rencana mau ke mana sih.”


Ia menyerahkan helm padaku. Aku memakainya, lalu naik ke belakang.


Motor itu dinyalakan, suara mesinnya terdengar dalam dan halus. Kami mulai bergerak, meninggalkan tempat itu perlahan. Saat laju motor bertambah, di tengah suara angin dan mesin, aku sempat mendengar Aarav bergumam pelan—


memuji penampilanku hari itu.


Kamu terlihat cantik, katanya.


Suaranya samar.


Tapi cukup untuk membuatku terdiam selama di perjalanan itu.


Hari itu kami benar-benar menghabiskan waktu dari satu tempat ke tempat lain.


Awalnya kami hanya berjalan-jalan di dalam mal, masuk ke toko-toko yang tidak terlalu penting untuk dikunjungi tapi tetap menyenangkan untuk dilihat. Sekedar cuci mata dengan melihat-lihat baju, sepatu, aksesoris mahal, lalu keluar lagi.


Ada juga toko buku kecil yang membuatku berhenti agak lama, sementara Aarav menunggu di sampingku sambil pura-pura membaca judul-judul buku dengan serius. Buku-buku itu terlihat agak usang sehingga bisa murah harganya. Itu hal yang kuincar.


Setelah itu, kami pergi ke bioskop. Filmnya tidak terlalu kuperhatikan alurnya, setidaknya tidak sebanyak aku memperhatikan suara tawa kecil Aarav pada beberapa adegan. Tentu, kami duduk bersebelahan.


Selesai dari sana, masih di dalam mal, kami makan di salah satu restoran. Makanannya biasa saja, tapi suasananya tetap terasa menyenangkan karena kami selingi beberapa obrolan. Tentang film tadi, tentang kampus, dan hal kecil lain.


Perut terisi penuh. Sebelum meninggalkan mal, aku mengajak Aarav mampir ke sebuah toko kosmetik. Ia mengikutiku tanpa banyak komentar.


Aku berjalan mendekati rak demi rak, lalu mulai memilih dengan hati-hati beberapa barang yang kuinginkan–skincare, pelembap, dan item-item lain yang berhubungan dengan perawatan kulit dan wajah.


Sementara itu, Aarav hanya mengekoriku, dengan diam melihat-lihat sekeliling tanpa mencoba memulai obrolan atau apapun yang kiranya menggangguku. Aku yang sadar akan hal itu, tersenyum kecil.


Setelah beberapa menit, puas dengan barang yang kuinginkan, kami keluar dari toko itu.


Aarav menoleh ke arahku, lalu berkata, “Kamu sangat menyayangi penampilanmu, ya.”


“Ah, aku nggak maksud aneh, kok! Justru aku senang,” lanjutnya buru-buru.


“Yah, kau tahu, namanya juga cewek, hehe.”


Aarav mengangguk.


“Tapi, lebih dari itu, aku punya alasan lain,” lanjutku.


“Apa itu?”


“Memalukan sih, tapi dari kecil, tumbuh menjadi cantik adalah salah satu cita-citaku. Beruntungnya, dengan bangga kukatakan, aku dapet gen cantik dari mama. Jadi hanya perlu kurawat dan pertahankan aja,” kataku, dengan percaya diri yang tidak biasa.


“Dengan ini,” tambahku sambil mengangkat tas belanjaan dari toko tadi.


Aarav yang dari tadi memperhatikanku, hanya tersenyum.


Tatapan kami sempat bertemu.


Lalu entah kenapa, tiba-tiba aku sadar betapa memalukannya ucapanku tadi.


Aku langsung berjalan lebih cepat di depan, seolah mencoba kabur. Ketika aku mencoba menyibukkan diriku dengan memikirkan hal lain, untuk mengusir rasa malu itu, tiba-tiba sesuatu menarik tanganku.


Aku berhenti.


Mataku refleks tutun, melihat tangan kiriku yang kini digenggam oleh tangan kanan Aarav.


Beberapa detik, aku hanya terdiam.


“A-abis ini menurutmu enaknya kita ke mana?” tanya Aarav, seolah tidak terjadi apa-apa.


Pertanyaan itu membuatku tersadar. Tapi anehnya, bukan itu yang paling terasa, melainkan hangat dari genggaman tangannya yang masih belum dilepas.


“Te… terserah kamu…” jawabku pelan.


“Mau nyantai nonton sunset di tempat terbuka?”


Aku mengangguk kecil. “Boleh.”


Aarav berjalan lebih dulu, menarikku pelan agar mengikutinya. Tangannya masih menggenggam tanganku, dan aku… tidak melepaskannya.


Aneh.


Bukan kepadanya.


Tapi pada diriku sendiri.


Kenapa aku tidak menarik tanganku kembali?


Kenapa rasanya… berat?


Wajahku mulai terasa panas. Untungnya, mata Aarav hanya fokus pada jalan di depan, jadi aku tidak perlu khawatir ia tiba-tiba menoleh dan melihat wajahku saat itu.


Aku sedikit menunduk. Dilihat atau tidak, disadari atau tidak olehnya, tetap saja terasa memalukan. Aku berjalan di belakangnya, mencoba menenangkan diri yang tiba-tiba sulit dikendalikan.


Di sela-sela itu, aku sadar–entah sejak kapan, genggaman itu berubah.


Lebih erat.


Tanganku, seolah punya kesadaran sendiri, membalas genggamannya. Aku seratus persen yakin Aarav juga menyadarinya.


Kalau kuingat lagi, momen itu berlangsung cukup lama. Dari lantai lima sampai basement parkiran, kami memilih eskalator karena lift terlalu penuh, jadi waktu terasa berjalan lebih lambat.


Saat sudah di jalan, angin sore menerpa, dan waktu kembali terasa mengalir seperti biasa. Tidak lama kemudian, Aarav menghentikan motornya. Kami tiba di sebuah danau buatan yang luas, dengan air yang mengalir dari sebuah kali.


Di parkiran, kami berjalan berdampingan seperti biasa, mampir ke salah satu kedai untuk membeli minum, lalu lanjut jalan lagi mencari bangku yang kosong. Tempat itu tidak terlalu ramai, jadi tidak sulit untuk menemukannya.


Diiringi suara air yang mengalir dan langit yang perlahan berubah warna, kami bercanda dan mengobrol tentang apa saja. Tentang betapa cepatnya waktu berlalu, meski dulu kami hanya dua anak yang kebetulan pernah satu kelas.


Aku tidak ingat semua isi percakapan kami, tapi aku ingat perasaannya.


Ringan dan hangat.


Dan, berbicara hal yang menghangatkan, aku jadi teringat kejadian bergandengan tangan tadi. Untuk mengalihkan pikiran, dengan cepat aku menyedot minumanku hingga kering. 


“...!” Aarav yang terkejut dengan itu, malah meniruku.


Hari sudah gelap. Tempat itu mulai ditinggalkan manusia, digantikan oleh nyamuk yang semakin banyak. Kami pun berjalan kembali menuju parkiran.


Menyalakan motornya, Aarav berkata, “Aku tahu tempat makan yang kayaknya bakal enak.”


Aku menoleh. “Masih di sekitaran sini?”


“Lumayan.”


Lekas kami berangkat.


Ternyata tempat yang ia maksud adalah sebuah restoran yang dari luar saja sudah terlihat cukup mahal. Aku berhenti di depan pintu masuk, ragu untuk melangkah.


“Rav, ini mahal, ya?”


Aarav mengangkat bahu kecil. “Nggak tau juga sih.”


“Nggak, nggak… dilihat dari manapun ini jelas restoran mahal…” ucapku dengan suara kecil.


“Nggak, kok. Coba masuk aja dulu.”`


Aku yang masih ragu, melihat Aarav mengambil langkah. “Hei, tunggu dulu.”


Tanpa kusadari, aku ikut berjalan masuk. Melihatku yang masih penuh dengan keraguan, Aarav menjulurkan tangannya ke arahku. Aku sempat diam.


Namun entah kenapa, dalam suasana yang terasa asing dan canggung itu, tanganku bergerak sendiri. Aku meraih dan menggenggam tangannya tanpa benar-benar berpikir. Dan aku tahu bahwa itu membuatku secara tak sadar menjadi sedikit lebih tenang.


Aarav menarikku pelan.


“Aku yang traktir,” katanya dengan nada biasa saja, seolah itu hal sederhana.


Ia kemudian berjalan mendekati meja resepsionis, masih menggandeng tanganku, dan menyebutkan namanya untuk reservasi. Seorang pelayan datang dan memperlisakan kami mengikuti, mengantar kami menuju meja yang sudah dipesan.


Saat itu, sudah dipastikan bahwa tempat ini memang bukan restoran yang bisa dimasuki begitu saja.


Baru setelah duduk, aku sadar apa yang baru saja kulakukan. Tapi entah kenapa aku tidak langsung melepaskan ingatan itu. Setelah seharian berpindah-pindah tempat, duduk di restoran itu justru terasa seperti penutup yang pas.


Aku menikmati makan malam di sana.


Tentu saja, restoran seperti itu menyajikan makanan berkualitas tinggi, beberapa diantara banyak makanan itu baru pertama kalinya aku rasakan. Aarav memesan cukup banyak, dan saat aku berkata sudah cukup, ia justru menambahkan pesanan lagi untukku.


Tidak heran kalau akhirnya aku merasa sangat kenyang.


Meski pengunjungnya banyak, suasana restoran tetap rapi dan tenang. Kami makan sambil mengobrol pelan, sesekali tertawa kecil menanggapi satu sama lain.


Topiknya sederhana, apa saja yang terlintas. Tentang apa yang telah kami lakukan seharian tadi, atau bahkan hal-hal yang sebenarnya sudah pernah kami bicarakan sebelumnya.


Aku menikmati hari itu. Tempat-tempat yang kami datangi, apa yang kami lakukan, dan semua yang terjadi di antaranya. Kami terlalu asyik dengan makanan dan obrolan, sampai tidak terasa hari sudah larut.


Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Ia bersikeras mengantarku, jadi kuberi tahu alamat rumahku. Saat kami sampai di depan rumah, malam sudah terasa lebih tenang. Aarav, tanpa mematikan mesin motornya, menoleh padaku dengan ekspresi ragu.


“Boleh nggak… nanti, kapan-kapan, aku ajak jalan lagi?”


Sedikit terkejut, aku tersenyum kecil lalu menjawab, “Boleh, kok.”

Senyum Aarav melebar, terlihat jelas begitu girang mendengar jawabanku.


“Haha… Makasih, ya untuk hari ini! Selamat malam!”


Mesin motor itu meraung, lalu dalam sekejap ia melaju pergi, sedikit lebih cepat dari sebelumnya, seolah tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Aku berdiri di sana, memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh.


Tanpa sadar, tanganku terangkat dan melambai kecil.


Hati ini terasa ringan. Hangat.


Hari ini telah meninggalkan banyak hal yang sulit dijelaskan, tapi jelas terasa menyenangkan.


Kegembiraan yang sulit untuk dijelaskan.


Aku menunduk sedikit, pipiku terasa panas.


Dengan suara pelan, hampir seperti takut didengar orang lain, walau jelas tidak ada siapa-siapa di sekitar—


“...Hehe, hari yang menyenangkan.”


Comments

Post a Comment