Bagian 4
Aku ingat, waktu itu bulan Desember. Kuliah sedang libur, dan itu berarti satu hal bagiku–bekerja full time.
Pagi itu, sekitar pukul delapan, aku naik kereta lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Udara dingin menemani langkahku. Tidak lama kemudian, aku sampai dan membuka pintu.
Di dalam, seperti biasa, owner bakery ini, Bu Fatma sudah ada bersama anaknya. Mereka sudah sibuk sejak pagi buta, menyiapkan roti dan berbagai produk dari nol. Aroma adonan dan biji kopi yang kuat langsung menyambutku begitu masuk.
“Pagi, Bu.”
“Pagi, Sera,” jawab Bu Fatma sambil tersenyum.
Anaknya juga menyapaku singkat sebelum kembali fokus dengan pekerjaannya.
Pemandangan itu sudah sangat akrab bagiku. Selama ini, mereka berdua yang selalu membuat semua produk di toko ini. Bu Fatma biasanya ikut menjaga toko sampai aku datang dan menggantikannya.
Aku bersiap masuk ke ruang kecil di belakang untuk berganti pakaian. Namun sebelum sempat melangkah jauh, suara Bu Fatma memanggilku.
“Sera, kuliahnya sudah mulai libur, ya?”
Aku menoleh. “Iya, Bu.”
Bu Fatma mengangguk pelan, lalu diam sejenak, seperti sedang menyusun kata.
Aku jadi penasaran.
“Emangnya kenapa, Bu?”
Ia tersenyum tipis, tapi terlihat lelah.
“Begini… Jujur aja, Ibu udah mulai nggak kuat kalau harus dari pagi buta sampai siang bikin roti begini,” katanya pelan. “Kalo kamu emang lagi libur kuliah dan ada waktu, Ibu mau minta tolong… kamu datang lebih pagi. Bantu dari awal.”
Aku terdiam.
“Upahnya nanti Ibu tambah, kok,” lanjutnya.
Kalimat itu membuatku langsung mengerti maksudnya.
Selama ini aku hanya datang untuk menjaga toko dan melayani pelanggan. Aku tidak pernah benar-benar terlibat dalam proses membuat roti dari awal seperti mereka.
Dan sekarang, aku diminta untuk ikut masuk ke bagian itu.
Datang pagi-pagi buta.
Membantu membuat roti.
Lalu tetapi bekerja seperti biasa sampai toko tutup.
Aku terdiam cukup lama.
Di satu sisi, aku tahu aku butuh waktu untuk belajar. Nilai-nilaiku tidak bisa dibilang aman. Kalau menambah jam kerja, apalagi dimulai dari pagi sekali, aku pasti akan lebih sering kelelahan. Ditambah lagi, pengalamanku dalam membuat roti itu nol.
Sebentar lagi juga segera datang Natal dan Tahun Baru. Itu berarti pesanan dan pelanggan akan meningkat.
Tapi di sisi lain…
Upahnya akan bertambah.
Dan aku tahu itu bukan hal kecil untukku.
Aku menunduk sebentar, memikirkan semuanya.
Saat aku mencoba menimbang semuanya, pikiranku justru berjalan ke belakang–kembali ke awal, ke bagaimana semua ini dimulai, ke bagaimana aku bisa bekerja di tempat ini.
Waktu itu, aku baru pulang dari jalan-jalan bersama teman-temanku. Seharian kami keliling, dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya tinggal aku dan satu temanku saja di perjalanan pulang, karena rumah kami kebetulan searah.
Kami kelelahan, jadi memutuskan untuk beristirahat sebentar. Berhenti di sebuah toko yang menarik perhatian kami. Di pinggir jalan yang panas dan ramai itu, aroma roti dari dalam toko entah bagaimana berhasil membuat kami masuk.
Fatma Bakery & Coffee, begitu nama tokonya. Kami memesan, lalu duduk di depan, menikmati roti dan es kopi sambil mengistirahatkan kaki yang pegal. Kursinya memang berbahan besi, tapi tetap terasa nyaman jika ditemani makanan dan minuman yang enak.
Kami berhenti lebih lama dari yang direncanakan.
Saat hendak beranjak pulang, mataku tertuju pada secarik kertas di kaca toko.
Lowongan kerja.
Keesokan harinya, aku datang lagi sendirian.
Aku berjalan secepatnya, takut kesempatan itu diambil orang lain. Tapi di saat yang sama, aku juga datang dengan keyakinan bahwa aku mungkin akan ditolak.
Syarat yang kubawa terlalu merepotkan.
Aku hanya bisa bekerja di waktu-waktu kosongku, yang bahkan tidak menentu.
Saat duduk di depan Bu Fatma waktu itu, aku menunduk. Rasanya seperti sedang mengajukan sesuatu yang tidak pantas.
Namun beliau tidak langsung menolak, ia terlihat memikirkannya dengan dalam.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku masih ingat betapa terkejutnya diriku saat itu.
Aku langsung menjelaskan semuanya. Tentang kuliahku, tentang keluargaku, tentang bagaimana aku hanya ingin mencari penghasilan tambahan. Bahkan aku bilang kalau upahnya lebih kecil pun tidak apa-apa.
Tidak ada kebohongan atau sesuatu yang dilebih-lebihkan.
Bu Fatma mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.
Dan kemudian beliau menerimaku.
Beliau memang sedang sangat butuh pekerja tambahan, tapi dengan jadwalku yang tidak pasti, beliau memperingati bahwa ia tidak bisa memberi upah banyak.
Aku menjawab tanpa ragu.
“Nggak apa-apa, Bu. Aku siap!”
Dan begitulah awal bagaimana aku bisa bekerja di sini.
Aku mengakhiri flashback-ku, dan kembali ke pagi itu.
Melihat Bu Fatma yang sudah tidak lagi muda, tetap sibuk membuat roti bersama anaknya sejak hari masih gelap, aku akhirnya menemukan jawabanku.
Aku menarik napas pelan.
“Baik, Bu. Aku bisa bantu.”
Wajahnya tampak lega, meski keringat dan napas beratnya belum hilang.
“Terima kasih, ya, Nak. Nanti pelan-pelan Ibu ajarin kamu caranya.”
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Hari itu bahkan benar-benar dimulai, tapi entah kenapa aku sudah merasa hari-hariku ke depan akan jadi lebih panjang. Dan, mau tidak mau, aku seperti kembali menjadi seorang trainee di toko ini.
Malamnya, setelah semua pekerjaan selesai dan akhirnya bisa berbaring sejenak, aku mengirim pesan pada Aarav. Aku menulisnya santai, seperti biasa.
Mulai beberapa hari ke depan, aku harus bantu di toko lebih pagi.
Tidak ada alasan khusus kenapa aku harus langsung memberitahunya. Mungkin karena kami sudah terbiasa berbagi cerita. Atau mungkin karena aku tidak ingin tiba-tiba harus menolak ajakan kencannya lagi nanti.
Aarav membalas seperti biasa.
Lalu di tengah obrolan, ia menulis,
Berarti beberapa hari ke depan kalo aku main ke sana, aku bakal makan roti buatanmu dong?
Aku tersenyum kecil membaca itu.
Paling aku cuma bantu-bantu kecil dulu. Belum disuruh langsung bikin, balasku.
Tapi kalau kamu tetap datang dengan pikiran kayak gitu, aku senang. Ditunggu aja, nanti aku bikin rasanya lebih enak, haha.
Beberapa detik kemudian, aku menambahkan lagi.
Aku juga bakal tidur lebih awal. Jadi nggak bisa lagi temenin chat sampai malam-malam banget.
Balasan Aarav datang tidak lama.
Ia bilang itu sedikit menyedihkan, seolah ia akan kesepian. Namun setelah itu, mencoba dengan tegar menerimanya, ia menyuruhku istirahat yang cukup, jangan terlalu capek, dan jaga diri.
Aku membaca pesannya beberapa kali, lalu menatap layar ponsel lebih lama dari biasanya.
Dan tanpa sadar, aku tersenyum. Hari-hariku memang akan jadi lebih berat. Tapi entah kenapa, malam itu rasa optimis datang begitu saja, seolah sudah mengangangkat beban yang bahkan belum tiba.
Bagaikan bintang jatuh, cahayanya cantik namun tidak bertahan lama.
Pagi datang, dan karena suatu hal, semuanya terasa kembali seperti semula.
Keesokan harinya, pukul lima pagi, saat itu aku sudah bersiap berangkat kerja.
Di lorong rumah yang masih remang, aku melihat Mama baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya agak basah, dan ia tampak sedang sibuk melakukan sesuatu.
Semalam, aku sudah sempat memberitahunya tentang perubahan jam kerjaku. Jadi pagi itu, aku hanya berniat pamit sebentar sebelum pergi…
“Ma, aku berangkat dulu,” kataku pelan.
Mama menoleh. “Iya. Hati-hati.”
Aku mengangguk, siap melangkah keluar, tapi langkahku terhenti saat aku sadar wajah Mama tampak lebih lelah dari biasanya.
“Kenapa, Ma? Kok udah sibuk aja?”
Mama terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada yang berat, seolah tidak ingin mengatakannya.
“Papamu… semalam keadaannya memburuk. Udah nggak bisa bangun dari tempat tidur…”
Aku terdiam.
Dadaku langsung terasa sesak.
“Aku izin libur hari ini.”
Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulutku. Di rumah saja mungkin tidak bisa banyak membantu, tapi tidak mungkin juga aku pergi bekerja dengan perasaan berat seperti ini.
Aku sangat khawatir.
Wajahku memucat, keringat dingin perlahan keluar.
Melihat ekspresiku, buru-buru Mama menenangkanku.
“Ngomong apa sih kamu, nak? Udah, tenang aja, Mama masih bisa urus kok. Kamu fokus kerja aja sana, nggak usah khawatir dulu, apalagi mikir yang ke mana-mana.”
“Tapi…”
“Nggak apa-apa, kok, Sera…”
Aku sangat ingin izin libur hari ini, namun mengingat janji pada Bu Fatma kemarin, dan perkataan Mama saat ini, membuat kepalaku terasa kacau.
Pada akhirnya aku mengangguk pelan, meski rasanya sulit.
Semalam aku merasa sangat optimis, merasa siap menyambut hari baru dan pengalaman baru di tempat kerja. Namun pagi itu, semuanya tiba-tiba saja depresi menghantam.
Aku tetap berangkat.
Hanya saja langkahku tak seringan angin pagi, meski tubuhku sedingin pagi itu. Kepalaku agak kabur, dan sepanjang jalan aku terus memikirkan Papa, Mama, dan hari-hari yang akan terasa lebih berat dari biasanya.
Bisakah aku melewati semua ini?
Aku hanya bisa berdoa kecil agar semuanya akan baik-baik saja. Doa itu kuulang-ulang, sampai tanpa sadar aku sudah tiba di toko.
Bu Fatma dan anaknya sudah menungguku di dapur.
Kami bertiga sudah siap dengan masker, sarung tangan, dan penutup rambut. Udara ruangan terasa hangat, dipenuhi aroma tepung, mentega, buah, dan bahan-bahan lain.
Seperti yang sudah direncanakan, hari itu aku ikut membuat adonan bersama mereka.
“Nak, tolong gulanya dulu, ya,” kata Bu Fatma sambil menunjuk wadah di depanku.
“Ya, Bu.”
Aku mengambil wadah itu dan bersiap menuangkannya dengan sendok secara satu persatu sampai diperintahkan berhenti.
“Hei, itu garam!” anak Bu Fatma berseru.
Tanganku langsung terhenti.
Aku menatap wadah itu lagi. Ternyata memang garam.
“Ah–terigunya! Bu Fatma, maaf, ya, bu!” ucapku gugup, buru-buru mencoba memisahkan bagian yang sudah tercampur.
Beberapa menit kemudian, aku kembali mencoba membantu.
Kali ini tugasku memecahkan telur. Aku mengetukkan satu butir telur ke pinggir meja, lalu membukanya perlahan di atas mangkuk. Telur kedua, lalu ketiga.
Namun saat telur keempat, peganganku lepas. Telur itu jatuh ke lantai dan pecah di sana.
Aku terdiam.
Belum selesai, saat bergeser sedikit, kakiku malah tersandung adonan yang diletakkan terlalu dekat. Aku sempat menahan diri agar tidak jatuh, tapi tetap saja terasa makin kikuk.
Rasanya seperti hanya menyusahkan.
Setiap gerakanku seolah salah.
Setiap bantuan kecil justru menambah pekerjaan mereka.
Aku menunduk, malu pada diri sendiri.
Bu Fatma dan anaknya terlihat saling bertukar pandang.
Tidak lama kemudian, Bu Fatma bertanya pelan, “Sera, kamu lagi nggak enak badan, ya, Nak? Nggak biasanya kamu begini…”
Anaknya ikut memperhatikan. “Iya, mukamu keliatan lemes banget, tuh. Masuk angin, ya?”
Aku tidak langsung menjawab.
Bukan karena tidak mau, tapi karena rasanya sulit membuka mulut saat pikiranku masih penuh.
“Nggak, kok, Bu. Aku nggak apa-apa…” jawabku pelan, tidak terdengar yakin.
Bu Fatma sempat terdiam, lalu menghela napas ringan. Seolah ia memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur.
“Kalau memang cuma gugup karena ini hari pertamamu bantu di dapur, nggak apa-apa,” katanya lembut. “Pelan-pelan aja.”
Aku mengangguk kecil.
“Maaf, Bu…”
Aku memang gugup. Tapi jauh di dalam hati, rasanya lebih dari itu.
Aku menghembuskan napas pelan. Di dalam hati, aku sempat bertanya, bagaimana ke depannya kalau aku terus mengacau seperti ini? Hari bahkan belum benar-benar dimulai.
Bagaimana kalau nanti Aarav datang, dan melihatku dalam keadaan seperi ini?
Aku mencoba membantu lagi. Tapi hasilnya?
Aku tidak sengaja menjatuhkan mangkuk besi ke lantai, membuat Bu Fatma dan anaknya terkejut.
Saat mencuci sendok, air keran memantul dari lengkungannya dan menyiprat ke mana-mana.
Dan ketika diminta Bu Fatma untuk menambahkan beberapa tetes pewarna makanan hijau, aku justru meneteskan warna pink.
Omong-omong, aku tidak buta warna.
Beberapa jam berlalu di dapur yang terasa semakin kacau. Kekacauan yang, mau tidak mau, aku sendiri yang menciptakannya. Sementara itu, mereka tetap bekerja seperti biasa. Aku yakin mereka terganggu, hanya saja tidak enak untuk mengatakannya.
Akhirnya aku berkata pada Bu Fatma. Karena sudah terlalu banyak membuat masalah, aku menawarkan diri untuk mencuci semua peralatan kotor.
Setidaknya biarkan aku menebus kesalahanku, kataku.
Bu Fatma sempat menolak, tapi setelah kuyakinkan, ia mengizinkan.
Jadi, sementara mereka kembali melanjutkan pekerjaan lain, aku berdiri di depan wastafel, mencuci piring, mangkuk, spatula, cetakan, dan alat-alat lainnya satu per satu.
Waktu berjalan pelan.
Matahari perlahan naik, dan udara di dapur semakin hangat. Aku menoleh ke jam tangan, lalu berhenti sejenak.
Pukul delapan.
Biasanya, jam segitu Aarav sudah datang.
Aku menatap tumpukan peralatan di depan. Aku belum sarapan. Belum ganti ke seragam. Dan masih banyak alat yang belum selesai dicuci.
Baru saat itu aku benar-benar sadar.
Betapa banyaknya yang harus dipersiapkan setiap hari.
Betapa sulitnya membuat semua menu dari awal.
Dan Bu Fatma, yang sudah tidak muda lagi, selama ini melakukan semuanya hampir setiap pagi.
Dadaku terasa sedikit sesak.
Plak!
Aku menepuk kedua pipiku, mencoba memaksa diriku kembali.
Jangan mikir aneh-aneh. Fokus!
Aku menunduk lagi, menyabuni peralatan di tanganku, menggosok-gosoknya, lalu membilasnya satu per satu.
Beberapa menit kemudian, jam di tanganku menunjukkan pukul 8.47.
Aku akhirnya selesai mencuci semuanya, lalu bersiap pindah ke bagian depan untuk mulai bekerja seperti biasa. Aku mengambil seragam, buru-buru memakainya, lalu merapikan rambut dan pakaian seadanya.
Saat semuanya beres, aku melangkah keluar dari toko untuk menghirup udara dan meregangkan tubuh sebentar.
Lalu aku mendengar suara itu.
“Yo.”
Aku membeku.
Aarav sedang duduk di sana.
Aku langsung berbalik setengah panik, merapikan rambut, menepuk-nepuk bajuku, memastikan semuanya terlihat normal. Aku baru saja keluar dari dapur dengan wajah yang pasti sangat tidak enak untuk dipandang.
Aarav tertawa melihatku melakukan semua itu.
“Nggak liat WA?”
Baru saat itu aku sadar, sejak pagi aku belum sempat membuka HP. Ada beberapa pesan darinya, tentang dirinya yang mengabari sudah sampai, sedang menungguku, dan semacamnya.
Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Kamu udah pesan…”
Mataku jatuh ke meja.
Di sana sudah ada dua potong sandwich dan secangkir kopi.
Biasanya akulah yang melayaninya. Tapi sepertinya tidak hari ini.
“Ah, iya,” katanya santai. “Jadi, mana menu yang buatanmu? Aku mau pesan lagi, mau nyicip.”
Aku panik.
“Aku nggak buat apa-apa…”
“Eh? Tapi katanya kamu mulai bantu-bantu hari ini, kan? Makanya aku udah datang buru-buru. No sarapan, biar bisa banyak nyobain,” katanya sambil tertawa.
Suara yang keluar dari mulutku lebih pelan dari yang seharusnya. “Aku nggak banyak bantu… malah cuma merepotkan.”
Aarav langsung berhenti tertawa.
“Kenapa?”
Aku sempat diam. Memang hanya berniat diam.
Lalu, entah kenapa, semuanya tumpah juga.
Aku menceritakan padanya bagaimana sejak pagi aku terus mengacau. Salah ambil bahan, salah menuang warna, menjatuhkan telur, menjatuhkan wadah, tersandung, dan hal-hal lain.
Agar tidak membuatnya khawatir, aku dengan cepat mengatakan bahwa aku tidak sedang sakit. Hanya saja pikiranku sedang tidak benar-benar di sana, apalagi setelah mendengar kondisi Papa yang memburuk pagi tadi.
Ya, aku ceritakan semuanya, termasuk keadaan Papaku.
Aarav mendengarkan tanpa memotong.
Tidak menyela. Tidak buru-buru menenangkan. Hanya mendengarkan dengan wajah serius.
Saat aku selesai, ia menatapku sebentar lalu bertanya pelan, “Kamu beneran nggak apa-apa?”
“Sumpah,” jawabku berusaha tersenyum.
“Hari ini nggak bisa izin libur?”
Aku menggeleng kecil. “Nggak tahu… tapi rasanya nggak perlu juga, sih. Aku udah janji mau bantu hari ini. Jadi susah bilangnya.”
Aarav sempat bangkit dari kursinya. “Biar aku ngomong ke Bu Fatma.”
Aku langsung menatapnya dan menggeleng , mencoba menghentikannya.
Ia memang cukup sering datang ke sini, sampai Bu Fatma dan dirinya saling mengenal. Mereka beberapa kali sempat mengobrol santai, dan Bu Fatma bahkan sering menggoda hubunganku dengannya.
Pacarmu hari ini nggak datang, Nak?
Kalimat itu sudah beberapa kali keluar dari mulut Bu Fatma tiap kali Aarav tidak muncul di toko sehari saja. Aku selalu salah tingkah mendengarnya.
Bukan pacar, Bu. Jawabku waktu itu.
Berkali-kali. Sampai akhirnya aku sendiri tidak terlalu reaktif lagi saat Bu Fatma menganggap kami seperti itu.
“Jangan,” kataku pelan. “Nanti aku malah makin nggak enak.”
Paham maksudku, Aarav kembali duduk.
“Kamu beneran nggak apa-apa, nih?”
Aku mengangguk.
“Bisa lanjut kerja?”
“Bisa.”
“Yakin?”
Aku mengangguk lagi.
Ia menatapku beberapa detik, lalu menghela napas kecil. “Kalo hari ini kamu emang ngerasa capek banget, bilang aja.”
“Aku nggak ada jadwal apapun hari ini,” lanjutnya. “Jadi aku bisa di sini terus, kok. Kalo kamu butuh sesuatu.”
Tidakkah ia merasa bosan hanya duduk di sini melihat jalan raya? Tanyaku dalam hati.
Kesampingkan itu, aku sadar bahwa bicara dengannya membuatku merasa aman. Entah kenapa, mendengar itu membuatku sedikit lebih tenang. Seolah ada sesuatu yang menahan semuanya agar tidak runtuh begitu saja.
Di situ aku seperti mendapatkan kembali motivasiku semalam. Aku tersenyum tipis.
“Kamu udah sarapan?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum…”
“Mau aku beliin sesuatu?”
“Nggak, nggak perlu repot-repot,” jawabku cepat. “Kamu tahu, fun fact, di sini aku tidak pernah benar-benar kelaparan. Itu karena aku bawa bekal dari rumah. Sementara itu, paginya disediain sarapan,” lanjutku.
“Serius?” tanya Aarav terkejut. “Apa makanannya?”
“Roti gagal.”
“Hah?”
“Di banyak toko-toko roti kayak gini, roti atau pastri yang bentuknya gagal atau aneh, biasanya dimakan pegawai,” jawabku, awalnya cukup yakin.
“Serius…?”
“Um… mungkin? Setidaknya di sini begitu…” suaraku makin pelan.
“Bu Fatma dan anaknya sudah sarapan, jadi mereka selalu ngasih pastri-pastri gagal itu untuk sarapanku. Kamu tahu, kan, di banyak bakery pastinya semua bentuknya, nggak ada yang gagal? Aku yakin pasti yang gagal juga dimakan oleh pegawai…”
Awalnya aku percaya diri, tapi semakin banyak aku mengoceh, semakin hilang kepercayaan diri serta suaraku.
Aarav, seolah tidak memedulikannya, malah bertanya “Emangnya begitu, ya?”
“... Maksudmu?”
“Aku pernah ke bakery lain–ah, tentu sebelum kenal toko ini! Di sana aku lihat roti atau pastri yang bentuknya gagal tetep dijual, tapi dengan harga setengahnya.”
“Serius?”
Kini aku yang bertanya begitu, seolah posisi kami tadi berbalik. Pembicaraan ini, jika kupikirkan lagi, sangat receh. Dua orang dewasa, di pagi hari, dengan keadaan lapar, berdiskusi tentang bagaimana sebuah toko bakery memperlakukan produk yang gagal mereka.
Tapi ini terasa menyenangkan, sampai-sampai obrolan mengalir begitu saja. Aku bahkan melupakan apa tujuanku tadi melangkah keluar toko.
Candaan kecil di pagi hari untuk merilekskan diri itu tidak apa-apa, kan?
Kami tertawa kecil, berbincang ringan, lalu diam sejenak. Aarav kembali menyantap sandwichnya, sampai yang tersisa hanya remah-remah di piring yang perlahan, dan hati-hati, masih ia nikmati.
Begitu telah benar-benar mengosongkan piringnya. Ia tiba-tiba bertanya lagi.
“Aku penasaran… namamu kan Kisara. Tapi kenapa dipanggilnya Sera?”
Aku tersenyum kecil. “Well… kalau dipanggil Kisara kepanjangan dan ribet, kayak nama orang Jepang,” jawabku santai. “Tapi kalau cuma dipanggil SARA… bisa gawat.”
Aarav mengangguk pelan. “Oh…”
Kalimat itu, tanpa kusadari, secara tidak langsung mengulang ucapan Mama dulu. Saat aku mulai tumbuh, Mama sadar namaku terlalu ribet untuk dipanggil sehari-hari, tapi kalau disingkat jadi “Sara” bisa jadi masalah. Akhirnya Mama mengubahnya sedikit menjadi “Sera”.
Beberapa kemudian–
“OH–”
Ia langsung tertawa, baru saja menangkap maksud dari perkataanku tadi. Tawanya ringan, tapi cukup menular hingga membuatku juga ikut tertawa juga.
Setelah suasana kembali tenang, aku duduk di kursi kosong di sampingnya.
“Maaf, aku lupa, apa nama lengkapmu, Rav?” tanyaku.
“Aku? Aku Aarav Pranata,” jawabnya. “Nama yang nggak biasa, kan?” lanjutnya, sambil terkekeh.
“Sama. Namaku juga nggak biasa.”
Ia tertawa lagi, lebih lepas.
“Iya, ya… sama-sama nggak biasa…” ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “...mungkin jodoh.”
Kalimat itu seolah keluar begitu saja tanpa disadarinya.
Aarav membeku, senyumannya langsung hilang, digantikan ekspresi kaku. Keringat kecil mulai terlihat di dahinya, seolah baru sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Keheningan jatuh di antara kami.
Keheningan yang memekikkan.
Ada banyak hal yang seharusnya bisa dikatakan, tapi tidak ada satu pun yang keluar. Aku masih ditempat, duduk di sampingnya, hanya dipisahkan meja kecil.
Terlihat Aarav memasang ekspresi yang tampak seperti berharap waktu bisa mundur beberapa detik. Ia yang biasanya akan memecah suasana dengan lelucon, kali ini hanya diam.
Dan aku harus terjebak dalam keheningan itu bersamanya, setidaknya sampai ada pelanggan lain yang datang dan harus dilayani. Untungnya, tidak perlu menunggu lama.
Tap-tap-tap.
Suara langkah kaki dari tiba-tiba terdengar. Seorang pelanggan mendekat. Refleks, aku langsung berdiri.
“Sebentar, ya,” kataku pelan, lebih seperti pada diriku sendiri.
“Ah, iya, silakan,” balas Aarav.
Aku masuk ke dalam, mengambil alih pesanan dengan gerakan yang sudah otomatis. Memberi pelanggan sebuah nampan serta capit, membiarkannya memilih, lalu menerima pesanannya, kuhitung, dan membungkusnya.
Seolah tidak ada apa-apa.
Seolah beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi.
Namun saat aku melirik keluar, Aarav masih duduk di sana. Ia sedikit menunduk, memainkan gelasnya, sesekali menggaruk tengkuknya.
Aku menarik napas kecil, lalu kembali duduk di sampingnya. Kami tidak langsung bicara.
Beberapa detik berlalu.
“Kamu sering ya ngomong tanpa mikir dulu?” kataku pelan.
Maksudku bercanda, tapi ia langsung menoleh dengan panik.
“Ah–itu–bukan, maksudku–”
Ia berhenti sendiri. Aku menahan senyum. Tidak menertawakannya, tidak juga menyangkal. Hanya membiarkan kalimat itu menggantung di antara kami.
Dan entah kenapa, kali ini keheningan yang datang tidak seberat sebelumnya. Masih canggung, tapi tidak juga ingin kuhindari.
Sebelum ada pelanggan lagi, aku bertanya, “Jadi… maksudmu tadi apa, Rav?”
Aarav kembali panik, seolah baru sadar sudah terlanjur membuka sesuatu yang seharusnya belum ia buka, di depan toko roti kecil ini. Ia menarik napas pendek, mencoba fokus.
“Mau nggak malam ini kita pergi ke suatu tempat?” katanya cepat. “Biar enak ngobrolnya.”
Aku mengangguk. “Boleh, tuh. Asal nggak lama-lama.”
Dan begitu saja, obrolan itu berakhir.
Aku kembali masuk ke dalam, melayani pelanggan, menata roti, membersihkan apa pun yang bisa kubersihkan, melakukan semuanya seperti biasa.
Tapi hari itu berbeda.
Tanpa kusadari, Aarav tiba-tiba mendatangiku sebentar, bilang ada urusan, jadi harus pergi dulu.
Aku sedikit penasaran. “Bukannya tadi kamu bilang hari ini lagi free?”
“Ya… tadinya gitu,” katanya singkat, menghindari tatapanku. “Dah, ya. Nanti malam aku jemput!”
Aku melihat dirinya buru-buru keluar toko, menyalakan motornya, lalu menghilang begitu saja.
Hari berlanjut seperti biasa, tapi jauh lebih melelahkan. Banyak pelanggan datang silih berganti, dan tenagaku hampir habis.
Pukul sembilan malam, pekerjaanku selesai.
Dan benar saja, Aarav sudah menunggu di sana.
Aku terlalu lelah untuk bisa menyadarinya lebih awal, terlalu lelah untuk memulai percakapan. Setelah berganti pakaian dan pamit sebentar, aku langsung naik ke jok belakang motornya tanpa bicara.
Kaget dengan kehadiranku, Aarav hanya diam dan menyerahkan helm.
Kami berangkat.
Sepanjang jalan, aku hanya terdiam. Ia tidak mengajakku mengobrol, tapi bukan karena itu alasannya. Melihat semua hal yang terjadi belakangan ini, aku sudah bisa menebak arahnya.
Bukan arah tujuan kami.
Tapi arah pikirannya.
Arah perasaan itu, yang sejak tadi mulai terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
Kami akhirnya sampai di tujuan. Ini adalah danau yang pernah kami datangi sebelumnya. Malam itu tempatnya lebih tenang. Angin pelan, cahaya lampu, suara air yang digerakkan oleh ikan-ikan, suasana yang jauh lebih sunyi daripada perkotaan.
Sebelum mulai bicara, Aarav mengajakku membeli seporsi bakso dari pedagang di sekitar, untuk makan malam kami. Kami duduk di bangku dekat tepi danau, mangkuk hangat di tangan, lalu mulai menyantapnya sambil memandang air yang gelap.
Aku mengunyah pelan. Setiap suapan, gigitan, terasa seperti mengulur waktu.
Aku tahu apa yang ingin ia katakan. Yang belum kupahami hanya jawabanku sendiri.
Saat makananku habis, Aarav mengambil mangkukku tanpa banyak bicara, lalu mengembalikannya. Aku yakin ia juga sudah membayarnya untukku. Tidak lama, ia kembali dengan dua gelas es teh, lalu kembali duduk.
Kami menyeruput minuman itu dalam diam.
Dan tiba-tiba, tanpa basa-basi, Aarav berbicara.
“Sera, aku suka kamu.”
Aku tersentak sampai hampir memuntahkan tehnya.
“Eh–ah, maaf, maaf, maaf! Aku nggak niat ngagetin kamu!”
Padahal aku sudah tahu ia akan mengatakan itu, tetap saja aku tidak bisa pura-pura tidak terkejut. Terlebih lagi ia mengatakannya dengan begitu santai. Aku menaruh gelas perlahan, mencoba menenangkan diri.
“Kenapa aku?” tanyaku akhirnya.
Aarav masih memegang gelasnya dengan kedua tangan, lalu menjawab, “Aku tahu ini bakal terkesan buruk, alasan murahan… tapi waktu pertama kali kita ketemu dulu… kamu sadar nggak, kamu cantik banget.”
Aku menatapnya. Jawaban itu tidak terdengar seperti kebohongan.
Ia mencoba tetap tenang, tidak malu, tidak mengalihkan pandangan. “Jadi ya… aku langsung, kamu tau, cinta pandangan pertama…”
Aku mengedip pelan, lalu berkata datar, “Kamu ngomong seolah semua orang bakal langsung jatuh cinta sama aku begitu mereka lihat wajahku.”
Aarav tertawa kecil. “Haha, iya, juga, ya.”
Aku menunduk, lalu bertanya lagi, kali ini lebih pelan. “Jadi pasti bukan cuma itu, kan?”
Aku bisa merasakan Aarav sedikit menegang.
“Maksudku… bisa aku anggap perasaan kamu waktu dulu dan sekarang… masih sama? Kamu seriusan nggak pernah lagi suka atau bahkan pacaran ama cewek lain setelah itu?”
Aarav menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Percaya nggak percaya… masih sama Bahkan lebih.”
Ia sempat melirik danau sebelum melanjutkan
“Sulit dijelasin. Dulu, meski kita jarang interaksi, ngeliat kamu selalu aktif dan ceria, udah cukup bikin aku tertarik. Dan, waktu kita sering banget satu kelompok… aku makin suka.”
Aku bergumam pelan. “Hmm…”
Aarav lalu bertanya hati-hati, “Kamu sekarang lagi nggak punya pacar, kan?”
“Kamu tahu aku terlalu sibuk untuk itu. Dan kalau aku emang lagi punya, nggak mungkin kan aku terima ajakan nge-date kamu waktu itu?” jawabku.
Wajah Aarav langsung memerah. Bukan karena ia tahu aku jomblo. Tapi karena ia sadar bahwa, meskipun aku tahu ia secara tidak langsung mengajakku kencan, aku tetap menerima ajakannya dengan mudah.
Atau mungkin hanya sesimpel, aku menganggap ajakan hang outnya sebagai kencan. Ia terlihat senang, bahkan terlalu senang, seolah bagian itu jauh lebih penting baginya daripada apapun yang tadi sudah kuucapkan.
Di tengah suasana itu, Aarav kembali menegakkan tubuh. “Jadi… jawabanmu?”
Aku sempat diam.
Aku teringat masa lalu, hubungan yang singkat dan tidak terlalu dalam. Aku sendiri yang pernah bilang aku tidak sedang mencari cinta. Tapi aku tidak bisa bilang Aarav tidak berarti.
Aku menarik napas dalam.
“Jujur, dulu aku pernah beberapa kali pacaran, tapi cuma bertahan sebentar,” kataku. “Kamu tahu, kan, cinta monyet? Rasanya hampa dan cetek banget, aku bahkan sampai ngorbanin waktu belajar, dan itu nggak worth it. Jadi aku kapok, tapi… aku juga nggak menolak kamu.”
Aarav menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, tapi jelas ia senang.
Aku melanjutkan, tetap tenang. “Kalo kamu emang mau… aku punya satu syarat ”
“Apa?” tanyanya cepat.
“Aku maunya hubungan yang serius. Sampai menikah.”
Aarav sempat terdiam.
Aku kira ia akan kaget lebih lama, tapi setelah memahami bahwa itu satu-satunya syaratku, ia justru menghembuskan napas kecil, memalingkan wajahnya ke arahku, lalu meraih kedua tanganku.
“Syarat?” katanya sambil tersenyum lebar. “Buat aku, itu doa. Bahkan sampai setelah menikah, sampai… aku malu mengatakannya, sampai… maut memisahkan…”
Aku tidak banyak merespon. Tapi aku tahu ia baru saja mengatakan apa yang tadi sempat ingin kukatakan, hanya saja aku terlalu malu untuk mengucapkannya.
Kami terdiam, saling menatap dalam keheningan yang kali ini terasa hangat.
Lalu kami melepaskan tangan masing-masing, kembali duduk menghadap depan.
Beberapa detik kemudian, Aarav kembali bicara, lebih pelan.
“Kalo gitu… bagaimana denganmu? Itu, um, artinya kamu juga… mencintaiku, kan?”
Ia buru-buru menambahkan, “Ah, maaf, sekali lagi aku nanya hal serius secara tiba-tiba!”
Aku yang tadi masih berpikir, justru tertawa. Bukan karena pertanyaannya lucu.
Tapi karena aku teringat, dulu ia juga tiba-tiba menyatakan perasaannya di kelas kosong itu. Pagi tadi juga. Dan sekarang
Ia seolah tidak peduli waktu atau suasana yang tepat. Bukan berarti aku menginginkan ditanya pertanyaan seperti itu di waktu dan lingkungan yang romantis. Hanya saja, ia banyak mengejutkanku.
Aarav terlihat panik, mengira aku menertawakannya.
“Ah, aku nggak–” aku dengan cepat menyela, masih tertawa kecil. “Bukan karena itu.”
Aku menarik napas, lalu menatapnya lagi. Dengan suara yang lebih mantap, aku berkata,
“Kamu udah tau jawabannya, kan?”
Aarav seperti meledak. Ia langsung bangkit dari bangku, hampir melompat, lalu beberapa kali bertanya dengan suara penuh tidak percaya.
“Ini serius? Serius, kan?”
Aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum.
Maksudku, aku menerimanya sebagai pacarku, bagaimana mungkin aku tidak mencintainya?
Tapi jujur, di dalam hati aku juga sempat bertanya.
Kenapa dia?
Aku bukan orang yang sedang mencari hubungan.
Waktuku sempit. Dan kalau boleh jujur, aku yakin perasaan ‘jatuh cinta’-ku padanya mungkin tidak seperti yang sering digambarkan orang. Berbeda sekali dengan yang terjadi di film atau buku.
Aku dulu memang sempat berkata bahwa aku menyukai keberanian Aarav untuk jujur.
Namun, bukan berarti aku merasakan ledakan perasaan.
Tidak ada momen yang terlalu dramatis. Atau kejadian-kejadian luar biasa di antara kami.
Tapi…
Aku merasa nyaman.
Sesederhana itu.
Aku ingat bagaimana ia selalu datang ke toko, duduk di kursi yang sama, dan berbicara dengan cara yang tidak pernah memaksaku untuk menjadi orang lain.
Aku ingat bagaimana ia mendengarkan.
Bukan sekedar menunggu giliran bicara, tapi benar-benar mendengarkan.
Obrolan harian kami, chat malam kami. Aku tidak merasa lelah atau bosan.
Aku juga ingat caranya bersikap. Kadang canggung, kadang terlalu jujur waktu yang tidak tepat. Tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata, tidak dibuat-buat.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Apakah ini yang disebut cinta?
Aku sudah dewasa, dan mungkin inilah waktunya untuk benar-benar jatuh cinta.
“Pulang, yuk,” kataku pelan.
Dengan cara seperti sebelumnya, aku duduk di belakang Aarav tanpa banyak bicara. Sesekali hanya memandang lampu-lampu jalan yang lewat satu per satu. Angin malam menerpa wajahku, menenangkan diriku setelah hari panjang.
Sampai akhirnya motor itu berhenti tepat di depan rumahku. Aku turun perlahan, melepas helm, lalu mengembalikannya.
Aarav menoleh ke arah rumahku, sedikit menyipitkan mata.
“Rumah kamu kok gelap banget, ya?”
Aku ikut menoleh.
Dan entah kenapa, tubuhku langsung menegang.
Rumah itu… terlalu gelap. Terlalu sepi. Tidak seperti biasanya
Aku melangkah mendekati pagar, mencoba meyakinkan diri bahwa Mama mungkin sedang ke warung, atau listriknya mati, atau alasan sederhana lain yang bisa kuterima.
Belum sempat aku membuka pagar–
“Hey, Sera!”
Suara itu datang dari samping.
Aku dan Aarav sama-sama menoleh. Itu adalah suara tetanggaku.
“Baru pulang kerja ini?”
“Iya, Tante…” jawabku refleks.
Aku mencoba tersenyum, meski rasanya kaku. “Ini Mama ke mana, ya, Tan? Kok rumah gelap banget?”
Tetanggaku terlihat sedikit kaget.
“Emang Mama kamu nggak nelpon?”
Jantungku seperti jatuh.
Aku buru-buru mengambil HP dari tas, membuka layar. Ada notifikasi pesan.
Belum sempat aku benar-benar membacanya–
“Papa kamu dibawa ke rumah sakit tadi sore.”
Suara itu datang bersamaan.
Kalimat itu.
Dan layar HP-ku
Pesan dari Mama.
Jam sembilan.
Memberitahu bahwa Papa dibawa ke rumah sakit.
Tanganku melemah. Tanpa kusadari, HP itu terlepas dari genggamanku dan jatuh ke tanah.
Aku tidak bergerak. Tidak memungutnya. Hanya menatap kosong ke depan.
Aarav langsung turun dari motor, memungut ponselku, memastikan kondisinya, lalu menatapku.
“Sera.”
Aku masih diam.
“Rumah sakit mana?”
Aku tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlangsung, terasa panjang.
Lalu, dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, aku memberitahunya.
Tanpa banyak bicara, Aarav langsung mengambil helm, menyodorkannya padaku.
“Ayo.”
Aku menurut. Naik ke motor itu dengan gerakan lambat.
Mesin dinyalakan.
Kali ini tanpa sempat berpikir apa-apa, tanpa menunggu, kami melaju menembus malam. Angin yang tadi terasa tenang kini terasa dingin, menusuk kulit.
Dan untuk kedua kalinya hari itu–
semuanya berubah.
Lika liku kehidupan, men..
ReplyDelete