Karena, jujur saja, tidak banyak yang terjadi.
Hari itu, bahkan hari sebelumnya, dipenuhi kejadian yang datang tanpa jeda. Aku sempat khawatir tubuhku tidak akan mampu bertahan. Tapi nyatanya, di sini aku berada, di rumah sakit, berjalan cepat bersama Aarav menuju kamar tempat Papa dirawat.
Saat melangkah masuk, aku sempat ingin berteriak ‘Papa’, tapi kutahan. Ini bukan kamar pribadi. Ada beberapa pasien lain, dipisahkan hanya dengan tirai-tirai tipis.
Papa berada di ujung, dekat jendela.
Aku membuka tirainya pelan.
Di sana, Mama duduk di samping tempat tidur. Mereka tampak sedang mengobrol pelan.
Begitu melihatku, ekspresi mereka berubah. Ada lega, ada senang, dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka saat menyadari aku tidak datang sendirian.
Aku tidak sempat menjelaskan. Bahkan memperkenalkannya pun tidak.
Aku langsung menghampiri Papa, menanyakan keadaannya, juga kenapa Mama tidak langsung memberitahuku.
Syukurlah, kondisinya tidak separah yang kubayangkan. Semuanya sudah ditangani dengan cepat.
Aku merasa lega.
Meski begitu, ada sedikit kesal yang tertinggal.
Alasan Mama sederhana, ia tidak ingin menggangguku saat bekerja. Karena itu, ia baru mengabari lewat pesan, setelah jam kerjaku selesai.
Aku mengerti maksudnya.
Tapi bagiku, keluarga tetap lebih penting dari apa pun.
Mendengar kabar itu dari tetangga di larut malam, meninggalkan rasa tidak enak di dada.
Tanpa kusadari, waktu kunjungan habis. Malam semakin larut, dan para pasien harus beristirahat.
Mama memutuskan untuk menginap, menjaga Papa.
Ia menyuruhku pulang.
Aku menurut.
Aku pulang bersama Aarav, dengan tubuh yang terasa sudah sangat berat. Namun setidaknya, melihat Papa dalam keadaan baik membuatku sedikit tenang.
Malam itu, mau tidak mau aku harus kembali ke rumah yang kosong.
Aku sempat, setengah bercanda, menawarkan Aarav untuk menginap.
Seperti yang bisa ditebak, reaksinya… rumit. Seolah ia ingin mengiyakan, tapi pada akhirnya tetap memilih menolak.
Sebagai gantinya, ia bilang akan menjemputku besok pagi.
Ia juga menyuruhku untuk jangan lupa mengunci pintu dan jendela, dan mengabarinya kalau ada apa-apa.
Seperti orang tua yang khawatir.
Padahal, secara teknis, aku hanya sendirian selama beberapa jam saja.
Cukup untuk tidur.
Dan mungkin… untuk berpikir.
Awalnya, kupikir begitu.
Setelah mengganti baju dan lain-lain, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tidak butuh waktu lama, aku tertidur.
Pagi itu masih gelap ketika aku setengah sadar, bahkan sebelum alarm berbunyi.
Aku sempat mengangkat tangan, berniat mematikan HP yang biasanya akan membangunkanku beberapa menit lagi. Namun sebelum sempat benar-benar menyentuh layar, nada telepon justru masuk memecah keheningan kamar.
Aarav.
“Aku udah di depan,” katanya singkat.
Aku yang baru bangun hanya bisa menatap langit-langit sebentar, lalu bangkit dan berjalan keluar dengan langkah yang masih berantakan.
Begitu pintu terbuka, Aarav langsung melihatku.
Dan seperti yang bisa kutebak, ia segera menoleh ke samping, tampak sedikit malu.
Aku justru tersenyum.
Harusnya aku yang malu, pikirku.
Tapi entah kenapa, aku tidak keberatan jika ia melihatku dalam keadaan seperti ini. Masih kusut, setengah tidur, dan jelas belum siap untuk melangkah keluar rumah.
“Masuk dulu aja,” kataku santai.
Saat berjalan ke dalam, tiba-tiba aku berpikir ingin sedikit menjahilinya.
“Tunggu di dalam aja. Nyalain TV boleh. Aku mau mandi dulu.”
Aarav, yang berusaha tetap terlihat santai, mengangkat tangannya kecil.
“Ah, nggak usah, aku tunggu di teras aja.”
Aku hanya menahan senyum.
Beberapa menit kemudian, aku sudah siap.
Selesai mandi dan berdandan, tentunya.
“Ini, satu buat kamu,” katanya sambil memberikan sebungkus bubur ayam.
Aku menatapnya sebentar.
“Pasti kemarin sampe rumah langsung tidur, kan? Aku yakin kamu masih capek banget sampe nggak sempet bikin bekel. Sarapan ‘roti gagal’ doang nggak bakal cukup,” katanya, menyuruhku duduk di sampingnya
Aku menurut.
Kami duduk di bangku teras, makan bersama, mengusir dinginnya pagi.
Setelah itu, Aarav mengantarku ke toko. Jalanan masih sepi, dan aku sampai lebih awal dari biasanya.
Sebelum mengganti pakaian, karena Mama tidak ingin menghubungiku ketika jam kerja, jadi aku yang lebih dulu mengirimnya pesan.
Aku menanyakan kabar Papa, dan apakah Mama akan pulang hari ini.
Ternyata kondisi Papa membaik. Mama memutuskan pulang untuk beristirahat, karena katanya ia sangat kelelahan.
Masuk akal.
Mendengar itu, aku merasa bisa menjalani hari ini dengan lebih tenang.
Beberapa hari berlalu, dan perasaan itu masih tetap sama.
Sejak hari itu dan hari sebelumnya, rutinitasku berubah.
Setiap pagi, aku benar-benar bisa merasa membantu Bu Fatma dan anaknya membuat roti. Tentu saja, kadang masih bisa salah. Ada adonan yang kepencet terlalu keras, takaran yang hampir meleset, dan beberapa hal kecil lain.
Tapi setidaknya, aku tidak sekikuk dulu.
Aku mulai hafal urutannya. Mulai tahu kapan harus cepat, kapan harus pelan. Mulai memahami bahwa ada banyak hal di balik roti-roti yang selama ini kujual tanpa pernah benar-benar kupikirkan.
Dan seperti itu, hari-hari pun berlalu.
Menjelang Natal, toko semakin ramai.
Sudah jadi tradisi, kami tetap tetap buka bahkan di malam dan hari Natal. Suasana toko jadi lebih hidup dari biasanya. Selain pelanggan yang makan di tempat atau take out, sering juga ada pesanan dalam jumlah besar untuk sebuah acara.
Pagi itu, aku berbicara dengan seorang cowok, bukan Aarav, bukan juga pelanggan. Tapi ia memang sesekali datang ke toko.
“Met pagi,” katanya.
“Ah, iya, pagi juga,” jawabku, sedikit terkejut melihat mobilnya yang baru berhenti.
“Lo baru datang juga, nih?”
“Iya,” kataku. “Itu bahan-bahan hari ini, ya? Gue sekalian bantu bawain, deh,” tambahku saat melihatnya membuka bagasi.
“Thanks. Hati-hati btw.”
Aku mengambil satu tas besar berisi buah-buahan. Tidak terlalu berat, jadi mudah kubawa.
“Beb!”
Datang suara dari pintu toko.
Anak dari Bu Fatma.
Selain mereka berdua, terkadang pacar anaknya Bu Fatma datang membantu. Entah mengantar bahan atau ikut di dapur.
“Kalian, bantu turunin ini dulu semuanya. Ada bahan yang tadi sengaja ditinggal dulu di pasar. Jadi mau balik lagi,” katanya.
“Oke!” jawab anak Bu Fatma dengan semangat.
Aku mengangguk dan ikut membantu.
Meski kami bertiga, menurunkan semua bahan dan membawanya ke dapur tetap memakan waktu.
Apalagi ia masih harus kembali ke pasar untuk mengambil sisanya.
Pagi ini akan panjang, pikirku.
Keesokan paginya juga terasa sama panjangnya. Dapur lebih sibuk dari biasanya, menyiapkan roti untuk dijual sekaligus memenuhi pesanan. Aku sempat memperhatikan pacar anak Bu Fatma, berpikir kehadirannya membuat semuanya terasa lebih ringan.
Beberapa jam kemudian, toko tidak hanya ramai oleh pelanggan biasa, tapi juga oleh mereka yang mengambil pesanan besar dari hari sebelumnya.
Di tengah semua itu, Aarav tetap datang seperti biasa.
Saat jam istirahat makan siang, aku keluar membawa bekalku.
Belum sempat benar-benar membuka wadahnya, Aarav bertanya, “Kamu abis ngobrol ama siapa tadi?”
Aku menatapnya sebentar, berpikir banyak orang yang aku ajak obrol tadi.
Jadi, siapa yang ia maksud?
“Maksudku, dia sering dateng kesini… siapanya Bu Fatma?”
Aku tersenyum, mulai melihat arah obrolan ini.
“Oh, dia pacar anaknya Bu Fatma.”
“Hmm… dia sering bantu-bantu di sini juga, ya? Aku jarang liat.”
“Kadang dateng pagi-pagi buat bantu bawain bahan. Kadang di dapur, kadang cuma nyantai di lantai dua bareng pacarnya.”
Aarav terdiam sebentar, lalu bertanya lagi, “Kamu… deket ama dia?”
“Ya... mau nggak mau. Aku selalu ada di sini, dan kadang dia dateng. Sewajarnya aja.”
“Maksudku, kayak, sering ngobrol atau apa gitu?”
“Kamu cemburu?” kataku sambil menatapnya.
“Uhuk! Uhuk!–”
Aarav tersedak. Donat yang sedang dikunyahnya hampir menyembur keluar. Aku buru-buru menyodorkan botol minumku, dan ia langsung meminumnya.
Melihatnya sudah tenang, aku berpikir untuk mengakhiri topik ini.
“Ingat tadi? Dia pacarnya anak Bu Fatma. Kami cuma kenalan biasa aja.”
Aku lalu mengalihkan pembicaraan. “Daripada itu, aku tahu makanan kami enak-enak, tapi emangnya kamu nggak bosan, ya?”
“Katamu tadi, karena enak makanya aku nggak bosan,” jawabnya. “Apa lagi donat isi keju dan coklat yang kamu bilang kemarenan ini, yang 100% sudah buatanmu. Matangnya pas dan bentuknya udah keliatan sempurna.”
Aku memang sudah cukup berkembang sampai Bu Fatma mulai mempercayaiku membuat satu menu secara mandiri.
Tetap saja, mendengar pujiannya membuatku sedikit malu.
“Bekalku juga buatan sendiri. Mau coba juga?” tanyaku santai.
“Mau! Ah, oh, kalo boleh…”
Melihat perubahan drastis ekspresinya, aku tertawa kecil.
“Aku suapin. Aaa….”
Aarav sangat terkejut, matanya bergerak ke sana-sini sebelum akhirnya menurut dan membuka mulut.
“Enak?” tanyaku.
Ia belum selesai mengunyah, seakan sengaja ingin merasakan tiap-tiap bulir nasi dan lauk dengan dalam, jadi hanya mengangkat jempol.
Aku kembali makan, sesekali menyuapinya lagi karena melihatnya beberapa kali melirik ke arahku.
Aarav sempat menolak, katanya kalau ia ikut makan, porsiku jadi berkurang. Aku bilang aku sedang mulai diet. Kebanyakan makan ‘roti gagal’–yang mana adalah hasil dari belajarku di dapur–di pagi hari cukup berbahaya untuk berat badan.
Dengan itu, ia tidak punya alasan untuk menolak.
Beberapa saat kemudian, bekalku habis lebih cepat dari biasanya.
Dan seperti sebelumnya, Aarav kembali memuji rasanya.
Setelah itu, suasana di antara kami hening. Hanya suara kendaraan dari jalan raya yang terdengar. Aku ingin merapikan kotak bekalku dan kembali ke dalam toko.
Namun kuurungkan.
Karena biasanya, Aarav akan mulai mengobrol lagi. Tapi kali ini tidak.
Aku meliriknya.
Tangannya memainkan sendok yang kami gunakan tadi, matanya kosong menatap jalan.
Aneh.
“Ada apa?” tanyaku akhirnya.
“Hm?” Ia menoleh cepat. “Ah, nggak. Nggak ada apa-apa.”
Aarav bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.
“Mikirin sesuatu?” tanyaku lagi.
Ia tersenyum kecil. “Dikit.”
“Boleh tau?”
Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali ke depan.
Beberapa detik berlalu.
“Besok udah Natal, kan, ya…” katanya pelan.
Aku mengangguk pelan.
“Event yang ditunggu-tunggu semua orang, untuk dirayakan. Tapi buatku… aku biasanya hanya menyambutnya sebagai hari libur biasa. Paling cuma makan bareng keluarga, terus ya.. udah. Tapi tahun ini…” Ia berhenti sejenak.
Aku menunggu.
“Kamu tau, aku, tahun ini… pengen ada yang berubah. Nggak cuma lewat begitu aja. Tapi ya… nggak berharap banyak juga, sih…”
Aku tersenyum.
Sekali lagi, mudah terbaca.
Membuatku ingin menjahilinya.
“Kalo aku, sih, sangat menantikan hari Natal. Soalnya ada janji mau pergi.”
“Kamu udah ada rencana sama orang?!”
Nada Aarav tidak biasanya meninggi.
Aku tertawa kecil sebelum menjawab.
“Iya… sama keluarga.”
“Hah?”
“Hari Natal nanti, Papaku udah boleh pulang dari rumah sakit,” lanjutku.
“O-oh… bagus, deh. Aku ikut seneng. Haha…”
Aku lalu menatapnya. “Mau ikut jemput? Biar Natal tahun ini ada bedanya. Bukan berarti ada pesta, sih.”
“Mau!” jawabnya cepat. “Hari Natal Papaku libur, aku bisa pinjem mobil.”
“Ah, nggak usah repot-repot. Naik taksi juga udah cukup, kok.”
“Nggak usah malu-malu. Aku udah ada SIM dari SMA. Nggak nembak,” katanya percaya diri.
Aku sempat ingin menolaknya lagi, tapi akhirnya hanya tertawa dan mengangguk.
Dan begitu saja, keinginannya untuk hal yang berbeda di hari Natal, terwujud.
Biasanya aku juga hanya menghabiskan libur Natal di rumah, atau sesekali diajak teman untuk pergi.
Tapi kali ini terasa berbeda. Lebih… spesial, bahkan.
Aku berterima kasih pada Bu Fatma yang langsung memberikan izin pulang lebih cepat. Aku hanya perlu membantu di dapur pagi harinya, lalu sekitar jam sembilan, Aarav akan datang menjemput dengan mobil untuk menjemput Papa.
Hari yang dinanti-nantikan akhirnya datang.
Aarav tiba tepat waktu di depan toko.
Karena sudah tidak sabar untuk membawa Papa pulang, aku pamit sebentar pada Bu Fatma, anaknya, dan si pacar.
Jalanan masih cukup sepi. Dugaanku, orang-orang terlalu lelah untuk bangun setelah pesta malam Natal.
Aku tahu Aarav sedang menyetir, tapi tidak biasanya ia diam saja. Karena kupikir ia akan memulai obrolan, aku sudah pasang telinga.
Raut wajahnya tidak terlihat tenang, ada sedikit gelisah di sana.
“Grogi?” tanyaku akhirnya.
“Ketemu orang tuamu? N-ngak juga, kok. Sebelumnya kan udah pernah ketemu.”
Aku tertawa kecil, lalu menerimanya dengan diam.
Maksudku, nanti juga akan kelihatan
Karena hanya dalam sekitar lima menit, kami akan sampai
Mobil melambat, lalu berhenti tepat di depan rumah sakit.
Aarav mematikan mesin, menarik napas pelan, menatap ke depan beberapa detik sebelum akhirnya menoleh padaku.
“Ayo,” katanya singkat.
Aku menangguk.
Tidak butuh waktu lama sampai kami keluar lagi, kali ini tidak berdua.
Mama berjalan lebih dulu, pelan, memastikan langkah Papa tetap stabil. Papa terlihat jauh lebih baik dibanding terakhir kali aku melihatnya di sini, meski jelas masih lemah.
Aarav dengan sigap membuka pintu mobil bagian belakang.
“Pelan-pelan, Om,” katanya lembut.
Papa menangguk kecil, lalu masuk ke dalam dengan bantuan Mama.
Mama ikut duduk di sampingnya.
Aku kembali ke kursi depan.
Dan mobil kembali berjalan.
Suasana di dalam mobil… sunyi.
Bukan canggung, tapi juga tidak benar-benar santai. Hanya suara mesin dan AC yang terdengar.
Aarav sesekali melirik ke kaca spion tengah, memastikan keadaan di belakang.
Lalu akhirnya ia membuka suara.
“Nggak kedinginan kan, Om, Tante?”
“Nggak, kok, Nak,” jawab Mama cepat.
Papa mengangguk menyetujui.
“Terima kasih ya, udah bantu jemput begini,” tambahnya.
“Iya, sama-sama, Om,” balas Aarav.
…
“Ma, Pa,” kataku santai, memotong keheningan. “Ini Aarav. Pacar aku.”
Hening. Satu detik. Dua detik.
Mama hanya mengangkat alis sedikit, lalu tersenyum.
“Oh…”
Papa melirik sekilas dari belakang.
“Hmm,” jawabnya pendek tidak terkejut.
Seolah mereka sudah tahu sejak lama.
Aku menoleh sedikit, mencoba melihat reaksi mereka lebih jelas.
Dan ya, tidak ada yang benar-benar kaget.
Sementara itu, di sebelahku–
“Uhuk!”
Aarav batuk kecil.
Tangannya yang memegang setir sedikit mengencang, tetapi ia tetap menjaga arah mobil tetap stabil.
“Iya… eh.. maksudnya, saya… memang deket ama Sera,” katanya sempat terbata sebelum akhirnya kembali ke nada normal. “Waktu itu belum sempet kenalan… nama saya Aarav, Om, Tante. Kampus kami beda, tapi dulu sempet satu SMA.”
Aku menahan tawa.
“Ohh…” kata Mama dan Papa bersamaan.
Berbeda dari yang kubayangkan sebelumnya, Aarav tidak terlihat segugup itu
Wajahnya memang sempat kaku sesaat, tapi tidak sampai panik berlebihan. Ia masih bisa fokus menyetir, masih bisa menjawab dengan sopan.
Seolah rasa gugupnya… tertutup oleh sesuatu yang lain.
Mungkin karena senang.
Mungkin karena akhirnya benar-benar berada di situasi ini.
Mama di belakang hanya tersenyum kecil.
“Asal jaga Sera baik-baik, ya,” katanya ringan.
“Jelas, Tante,” jawab Aarav cepat, kali ini tanpa ragu.
Papa tidak banyak bicara, hanya menepuk pelan sandaran kursi di depannya.
“Semoga langgeng,” ucapnya singkat.
“Amin, Om.”
Aku menyandarkan punggungku ke kursi.
Menatap ke depan.
Dan tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahku.
Mobil terus melaju, membelah jalanan pagi yang masih sepi.
Dan untuk pertama kalinya, perjalanan itu terasa… seperti sesuatu yang lebih dari sekedar pulang.
Di rumah, suasananya terasa lebih hangat.
Aarav disambut dengan baik.
Mama langsung mengajaknya mengobrol sebentar. Papa juga, meskipun sudah diminta istirahat, tetap ikut menyapa dan berbincang ringan. Tidak ada yang terlalu penting, hanya ucapan terima kasih sekali lagi, dan beberapa pertanyaan sederhana.
Obrolan random yang justru membuat suasana lebih hidup.
Aarav menjawab semuanya dengan santai.
Sementara itu, aku membawa barang-barang Papa masuk ke dalam, sekalian menyiapkan minum untuk mereka.
Kali ini justru aku yang merasa sedikit malu.
Entah kenapa, melihatnya yang begitu sopan, begitu tenang, dan diterima begitu saja oleh keluargaku membuat dadaku terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan.
Aku sempat menatapnya diam-diam, lalu tersenyum kecil.
Aku kembali dari dapur sambil membawa beberapa gelas minuman.
Suasana di ruang tamu masih terasa hangat. Mama dan Papa terlihat jauh lebih santai, sementara Aarav duduk di depan mereka, berusaha menjaga dirinya tetap tenang–meskipun sesekali aku bisa melihatnya gugup dari cara ia menggerakkan tangannya.
Aku meletakkan gelas-gelas itu satu per satu di meja.
Dan tepat saat itu–
“Ehh,” suara Aarav tiba-tiba terdengar, sedikit ragu tapi tetap terdengar ringan, “gimana kalau… kita dinner bareng di rumah aku?”
Aku berhenti sejenak.
“Sekalian aja,” lanjutnya cepat, seolah tidak ingin memberi waktu pikir terlalu lama, “mumpung Natal, mumpung kamu juga udah izin pulang cepat. Daripada bingung mau ngapain…”
Aku menatapnya, benar-benar tidak menyangka.
“Kenapa tiba-tiba?” tanyaku refleks.
Aarav hanya mengangkat bahu, tersenyum tipis.
“Kenapa nggak?” jawabnya santai. “Sekalian merayakan Papa kamu yang baru keluar rumah sakit.”
Mama dan Papa saling berpandangan.
Lalu, hampir bersamaan, mereka berdua menoleh ke arahku.
Seolah keputusan itu… ada di tanganku.
Aku mengalihkan pandanganku kembali ke Aarav.
“Emangnya… bener nggak apa-apa?” tanyaku, sedikit lebih pelan kali ini.
Aarav langsung mengangguk.
“Iya. Kalau kamu sama Om dan Tante setuju, aku mau langsung pulang dulu buat ngabarin orang rumah dan siap-siap.”
Nada suaranya terdengar ringan.
Tapi entah kenapa, dari caranya menatapku, aku tahu ia benar-benar serius.
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu tanpa sadar, aku melirik Mama dan Papa lagi.
Dan di sana–tidak ada penolakan.
Hanya tatapan tenang.
Aku menarik napas kecil.
“Yaudah…” kataku akhirnya. “Kita ikut.”
Senyum Aarav langsung melebar.
Seolah keputusan kecil itu adalah hal besar baginya.
“Bener, ya?” tanyanya lagi, memastikan.
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Aarav langsung bangkit dari duduknya, sedikit terlalu cepat sampai hampir membuat sofa bergeser.
“Kalau gitu aku duluan, ya,” katanya, berusaha tetap terlihat santai meskipun jelas tidak sepenuhnya berhasil. “Nanti aku jemput lagi.”
Ia menunduk sopan ke arah Mama dan Papa, berpamitan singkat, lalu berbalik keluar rumah dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya.
Aku hanya berdiri di tempat, menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.
Hening sebentar.
Lalu–
“Pacarmu itu…,” suara Mama terdengar pelan dari belakangku.
Aku menoleh.
Mama tersenyum tipis.
“...baik, ya.”
Aku tidak langsung menjawab.
Hanya tersenyum kecil.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak dimulainya hubungan romantis kami, aku benar-benar merasa ini semua… bergerak terlalu cepat.
Mama bangkit dari kursinya, menepuk pelan lututnya.
“Kalau gitu, Mama juga harus siap-siap,” katanya sambil melirik ke arah dapur.
Aku mengerutkan kening.
“Masa kita datang cuma makan aja?” jawabnya ringan. “Mama mau masak sedikit. Biar ikut bawa lauk.”
Papa yang sejak tadi duduk ikut tersenyum kecil, lalu perlahan bangkit.
“Papa istirahat dulu, ya,” katanya sambil melangkah ke kamar. “Biar nanti malam nggak kelihatan lemes.”
Aku hanya mengangguk.
Tak lama, ruang tamu kembali sepi.
Aku duduk di sofa, memandang gelas-gelas minuman yang tadi kubawa. Tidak ada satu pun yang tersentuh.
Aku menghela napas pelan, lalu meraih ponselku.
Tanpa banyak pikir, aku mengetik pesan.
Jam berapa?
Beberapa menit berlalu.
Balasan masuk.
Jam 7 ya.
Aku menatap layar itu sebentar, lalu membalas singkat.
Oke.
Setelah itu, aku bangkit. Merapikan meja, menggeser gelas-gelas ke dapur, lalu kembali ke kamar untuk berganti pakaian yang lebih santai.
Begitu pintu tertutup, aku menjatuhkan diri ke atas kasur.
Hening.
Dan di situlah pikiranku mulai berjalan.
Baru beberapa waktu lalu kami resmi berpacaran. Aarav sudah bertemu orang tuaku, dan entah bagaimana, semuanya berjalan lancar. Bahkan terasa natural.
Dan sekarang–
Di hari yang sama, aku yang akan bertemu keluarganya.
Aku menatap langit-langit kamar.
Berdoa dalam hati.
Semoga semuanya berjalan baik.
Setidaknya… seperti bagaimana Mama dan Papa tadi memperlakukannya.
Aku bangkit pelan dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari, dan mulai membukanya satu per satu.
Mencari sesuatu yang pantas.
Tidak terlalu berlebihan, tapi juga tidak terlalu santai.
Tanganku sempat berhenti di beberapa pilihan, lalu berpindah lagi.
Sambil berpikir, aku kembali mengambil ponselku.
Aku membuka chat dengan salah satu teman dekatku.
Temenin keluar bentar, yuk. Aku mau beli sesuatu.
Kukirim tanpa banyak penjelasan.
Beberapa detik kemudian, balasan langsung muncul.
Ya, mungkin aku butuh itu.
Sedikit waktu untuk menenangkan diri.
Sekalian membeli beberapa hal–kosmetik, aksesori kecil, atau… mungkin baju baru, kalau memang ada yang terasa pas.
Aku menutup lemari perlahan.
Sampai beberapa bulan yang lalu, hidupku terasa seperti rangkaian masalah yang datang tanpa jeda.
Nilai kuliah. Uang. Pekerjaan. Kesehatan Papa.
Ada masa ketika aku bangun setiap pagi hanya untuk memikirkan apa lagi yang harus dikhawatirkan hari itu.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku justru sedang memikirkan hal yang jauh lebih sederhana.
Baju apa yang harus kupakai.
Konyol, memang.
Tapi entah kenapa, aku tidak membencinya.
Mungkin karena setelah semua yang terjadi, aku akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menikmati sedikit kebahagiaan yang datang tanpa perlu kukejar mati-matian.
Aku tersenyum kecil.
Besok, lusa, atau beberapa bulan ke depan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Hidup memang selalu seperti itu.
Datang tanpa permisi, pergi tanpa aba-aba.
Apa pun yang akan terjadi nanti, biarlah nanti.
Comments
Post a Comment