Ganjil: Kereta Bayi
“Jadi gini…”
Begitu mengatakannya, mataku bergulir dari jalanan menuju satu mobil yang terparkir tidak jauh dari kami.
Mataku langsung membelalak.
“Kayak gitu!” kataku sambil menunjuk mobil itu.
“Apanya?” tanya temanku.
“Warnanya.”
“Hah?”
“Warna kereta bayinya,” ucapku.
Malam itu, ada satu kebiasaan yang cukup sering kulakukan ketika masih tinggal bersama Baba dan Enya:
duduk bersama Baba di ruang keluarga sambil menonton televisi sampai larut malam.
Entah apa yang kami tonton malam itu.
Aku tidak ingat apakah acaranya menarik atau tidak.
Tapi aku ingat iklan-iklan rokok sudah mulai bermunculan.
Itu artinya cuma satu.
Hari sudah sangat larut.
Baba sudah masuk ke kamarnya untuk tidur, meninggalkan aku dan televisi yang masih menyala.
Namun tidak lama.
Perlahan, rasa kantuk mulai datang.
Aku memutuskan untuk mematikan televisi dan pergi tidur.
Sebelum pergi, entah kenapa aku tiba-tiba ingin mengecek ruang tamu.
Omong-omong, ruang keluarga dan ruang tamu di rumah itu dipisahkan oleh sebuah dinding, pintu, dan sebuah kaca besar yang dilengkapi hordeng.
Aku berdiri di sana dan menempelkan tanganku pada hordeng.
Karena hordengnya tipis, aku bisa merasakan dinginnya kaca di balik kain.
Seolah ingin merasakan dinginnya secara langsung, perlahan kugeser hordeng itu.
Lalu kutempelkan tanganku langsung ke kaca.
Di baliknya terlihat ruang tamu kami.
Sebuah meja.
Sofa panjang.
Satu kabinet dengan radio jadul di atasnya.
Dan sebuah kereta bayi.
Mata lelahku yang sebelumnya menatap layar televisi tiba-tiba melotot.
Aku menempelkan pipiku ke kaca.
Dinginnya malam semakin terasa.
Membuatku semakin sadar.
Membuatku semakin yakin bahwa–
aku tidak mengerti kenapa benda itu ada di sana.
Kereta bayi.
Berwarna biru tua.
Biru navy.
Biru dongker.
Apa pun sebutannya.
Aku terdiam memperhatikannya sebentar sebelum berbalik dan pergi ke kamar.
Selangkah.
Dua langkah.
Aku bertanya-tanya, milik siapa benda itu.
Seingatku, aku adalah yang paling muda di rumah itu.
Namun aku sudah berada di umur yang tidak membutuhkan benda seperti itu.
Bahkan seingatku, tidak ada anak kecil lain di rumah-rumah tetangga.
Aku merasa bingung, tentu.
Namun rasa kantuk mengalahkannya.
Jadi aku mengabaikannya dan pergi tidur.
Dan tentu saja, ketika pagi harinya datang, semuanya kembali normal.
Kereta bayi itu sudah tidak ada.
Aku tidak tahu kapan benda itu menghilang.
Tidak ada yang membicarakannya.
Tidak ada seorangpun yang bertanya tentang kereta bayi.
Sampai sekarang, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulihat malam itu.
Mungkin aku salah melihat sesuatu dalam keadaan mengantuk.
Mungkin sebuah benda lain terlihat seperti kereta bayi dari balik jendela.
Aku ingat malam itu rumah memang sudah sangat gelap. Semua lampu dimatikan, kecuali lampu di ruang keluarga.
Mungkin ingatanku sebagai seorang anak telah mengubah sesuatu yang sebenarnya biasa menjadi sesuatu yang berbeda.
Aku tidak bisa memastikan.
Tetapi aku masih ingat bentuknya.
Sebuah kereta bayi berwarna biru gelap.
Terparkir begitu saja di samping meja.
Dan pada pagi harinya, benda itu sudah tidak ada.
“...Itu nggak horor,” kata temanku datar.
“Kan, gua bilang juga gitu,” balasku.
Sunyi tiba di antara kami.
Sesekali aku hanya mengecek layar HP.
“Jadi, kereta bayi itu kan yang kayak shopping cart tapi tertutup dan ada tudungnya?” tanya temanku tiba-tiba.
“Iya.”
“Warnanya biru tua?” Temanku memegang dagunya. “Aneh sih, aneh. Tapi ya cuma gitu doang...” lanjutnya.
“...Terlalu singkat untuk sebuah mimpi,” kataku, bersiap kalau temanku mau membantah dan mengatakan lagi bahwa pengalamanku itu hanya mimpi.
“Halusinasi berarti. Lagi-lagi bocil udah larut malam, bukannya langsung tidur malah nonton TV,” katanya. “Udah gelap juga, belum tentu lu ngelihatnya dengan jelas,” lanjutnya.
Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
Tiba-tiba sebuah mobil tiba di depan kami dan menurunkan jendelanya.
“Mas A, ya?” kata si sopir.
“Iya,” jawabku. “Ke Asem, kan?”
“Iya.”
Segera kubuka pintu belakang mobil dan masuk.
Setelah itu, obrolan kami berhenti begitu saja.
Entah karena kami sudah kehabisan bahan obrolan atau memang masih memikirkan cerita yang baru saja kuceritakan, aku tidak tahu.
Yang jelas, tidak ada lagi pembahasan tentang kereta bayi itu.
Aku sendiri sesekali masih memikirkannya.
Saat itu, kenapa aku hanya diam saja?
Kenapa tidak mencoba membuka pintu dan melihatnya lebih jelas?
Namun pada akhirnya, aku membiarkannya lewat begitu saja.
Perjalanan dilanjutkan dalam diam, melewati jalanan Jakarta yang semakin ramai menjelang sore.
Hingga akhirnya, ketika jam di layar ponselku menunjukkan pukul 17.39, mobil berhenti di depan tempat pangkas rambut.
Comments
Post a Comment