Skip to main content

Ganjil: Di Atas Pohon


Ganjil: Di Atas Pohon


Tepat beberapa langkah di samping Masjid, ada sebuah barbershop kecil dengan fasilitas yang cukup lengkap.


Tempat ini menjadi pilihan anak muda di sekitar, walaupun harganya cukup mahal dibandingkan pangkas rambut lainnya.


Begitu masuk ke dalam, kami langsung mengambil tempat duduk.


Toko itu selalu ramai.


Kami menunggu sambil sesekali melihat-lihat sekitar. Sesekali melihat HP atau menonton TV.


“Ya, Mas, silakan,” ucap salah satu tukang cukur.


Aku maju dan duduk di kursi cukur.


Tukang cukur memasangkan kain penutup di tubuhku, lalu mulai mencukur rambutku seperti biasa. Aku hanya duduk diam, melihat pantulan wajahku di cermin.


Setelah selesai, aku berdiri, membayar, lalu keluar dari toko.


Tanpa terasa, waktu sudah hampir magrib.


Arah pulang adalah ke sisi kanan, namun temanku menghadap ke kiri dan mulai mengambil langkah.


“Mau ke mana?” tanyaku.


“Lihat tempat cukur yang lu maksud tadi.”


“Seingat gua sih emang udah tutup dari lama,” lanjutnya.


Setuju, aku berjalan mengikutinya.


Tidak lama, kami tiba di sebuah perempatan.


Di samping kami ada sebuah gereja, dan di depannya ada mini market.


Kami menyeberang.


Beberapa langkah ke depan, di samping kami ada SD, dan di sampingnya ada mini market lagi.


Di seberang antara dua bangunan itu, tepatnya di depan kami, ada tiga ruko kecil. Di bagian kanannya adalah tempat pangkas rambut yang kumaksud.


Tempat cukur itu sudah tidak seperti yang kuingat.


Tulisan nama tempat itu masih ada, namun di depannya terdapat sebuah bangku, meja, dan etalase kaca di atasnya yang bertuliskan “nasi uduk”.


Tidak hanya berganti bisnis, sepertinya toko itu juga sudah lama tidak beroperasi.


Cat yang dulu berwarna hijau sudah memudar.


Di samping tempat itu pun sudah tidak ada jalan setapak seperti yang kuingat.


Sekarang, sebuah rumah mewah berdiri rapat di sebelahnya.


Kami hanya berdiri sebentar di depan tempat itu.


“Ini, kan?” tanya temanku.


“Iya.”


Aku melihatnya sekali lagi.


Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini terlihat bobrok itu pernah menjadi salah satu tempat yang kuingat sejak kecil.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.


Akhirnya, kami berbalik dan memutuskan untuk pulang.


Beberapa langkah kemudian, temanku berkata,


“...Mungkin nggak pocong yang lu lihat dari Kober?”


Pemakaman Kober Bunga Kamboja.


Letaknya memang tidak terlalu jauh dari tempat pangkas rambut tadi.


“Nggak tahu…”


Setelah itu, kami kembali berjalan dalam diam.


Beberapa menit kemudian, di sekitar sekolahan Prancis, ketika temanku akan belok, aku justru berjalan lurus.


“Lewat gang depan aja, yok,” kataku.


“Emang kenapa?”


“Gua ada satu cerita horor lagi.”


“Hah?... Lagi?”


“Iya. Kita langsung datengin TKP-nya.”


“Di mana emang?”


“Di RT 13 situ, lewat gapura,” kataku sambil menunjuk ke depan.


“Di sana gua ngelihat pocong–bukan, mungkin kuntilanak.”


“Hah?”


Melewati gapura itu, kami memasuki gang sempit di sebuah perumahan. Sambil berjalan, aku mulai bercerita.


Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah kebon. Di sampingnya terdapat lapangan tenis.


Kami, penduduk di sana, menyebutnya “Kebon Batak” karena di kebun itu ada satu rumah milik orang Batak.


Di kanan dan kiri Kebon Batak terdapat dua bangunan besar. Keduanya berisi rumah kontrakan.


Satunya bangunan kontrakan/kos tingkat dua berwarna oranye.


Satunya lagi lebih besar lagi, berwarna abu-abu.


Namun, dulu, sebelum ada kontrakan oranye, tempat itu hanya berupa satu bangunan rumah.


Di sampingnya terdapat sebuah bangku panjang yang mengarah ke depan, ke lapangan, ke Kebon Batak.


Sebelum menceritakan semuanya, kami duduk di kursi sebuah warung.


Karena hampir magrib, jalanan sudah sepi.


Tidak ada satu pun yang menyapaku, mengenaliku.


Aku hanya fokus menceritakan sejarah bangunan-bangunan itu kepada temanku.


Sebelum mulai bercerita lebih lanjut, aku berkata kepada temanku bahwa,


“Dibandingkan dengan kejadian-kejadian lain yang pernah kualami ketika masih kecil, yang satu ini justru terasa ringan.”


Bahkan, kalau kuingat sekarang, ada sedikit lucunya.


Malam itu aku dan beberapa temanku masih berkumpul di lapangan, meskipun waktu sudah cukup larut.


Aku tidak terlalu ingat siapa saja, tapi yang pasti ada temanku S, V, F, dan mungkin si kakak-adik R.


Mereka teman masa kecilku.


Aku sudah tidak ingat acara apa yang membuat kami bisa berada di sana sampai malam.


Yang jelas, kami masih bersama-sama, bermain seperti anak-anak pada umumnya.


Kami bermain sampai lelah.


Setelah itu, kami duduk di sebuah bangku di pinggir lapangan sambil mengobrol.


Aku tidak lagi ingat apa yang kami bicarakan pada awalnya. Namun, entah bagaimana,


percakapan kami akhirnya berbelok ke sesuatu yang jauh lebih menarik bagi anak-anak seusia kami.


Horor.


Kami mulai membicarakan setan dan hal-hal semacamnya.


Tidak ada yang benar-benar takut. Kami hanya saling bercerita dan menakut-nakuti satu sama lain, seperti yang biasa dilakukan anak-anak.


Sampai tiba-tiba salah seorang temanku berkata,


“Setan!”


Sambil menunjuk ke depan.


Kami semua langsung menoleh.


Jarinya mengarah ke atas, tepat ke arah pepohonan di kebun yang berada di samping lapangan.


Pepohonan itu hampir menempel pada bangunan kontrakan abu-abu.


Awalnya aku tidak melihat apa-apa.


Kemudian aku menyadarinya.


Ada sesuatu di atas pohon.


Sosok berwarna putih.


Aku tidak yakin apa yang kulihat waktu itu.


Pocong?


Kuntilanak?


Ingatanku tentang bentuknya sudah terlalu samar. Yang masih kuingat hanyalah warna putihnya dan keberadaannya di atas pepohonan.


Sosok itu diam di sana.


Kami semua terdiam selama beberapa saat.


Kemudian, bukannya lari, kami malah semakin heboh.


Kami menunjuk-nunjuk ke arahnya.


“Di situ!”


“Itu!”


“Keliatan banget!”


Kami memastikan satu sama lain bahwa tidak ada seorang pun yang sedang berhalusinasi.


Sosok itu juga seperti sedang memperhatikan kami.


Dari tempatnya di atas pohon, ia menghadap ke arah lapangan.


Ke arah kami.


Jaraknya cukup jauh.


Mungkin itu salah satu alasan kenapa kami tidak merasa takut.


Selain itu, kami juga ramai-ramai.


Rasa takut yang mungkin muncul sendirian terasa berbeda ketika berada di tengah sekelompok teman.


Kemudian seseorang mengambil sebuah senter.


Cahayanya diarahkan ke atas.


Kami mencoba menyorot sosok putih tersebut.


Aku masih ingat betapa hebohnya kami waktu itu.


Bukannya bersembunyi, kami malah seperti menemukan sesuatu yang menarik untuk diamati.


Kami menunjuk.


Kami berbicara.


Kami saling memastikan apa yang kami lihat.


Dan sosok itu tetap berada di sana.


Tidak mendekat.


Tidak turun.


Tidak melakukan apa-apa.


Hanya berada di atas pohon dan memperhatikan kami.


Aku tidak tahu berapa lama kami melihatnya.


Aku juga tidak ingat bagaimana akhirnya kejadian itu berakhir.


Mungkin kami bosan.


Mungkin kami akhirnya pulang.


Atau mungkin sosok itu menghilang ketika kami tidak lagi memperhatikannya.


Aku benar-benar tidak ingat.


Yang tersisa dalam ingatanku hanya sebuah gambaran sederhana.


Sekelompok anak kecil berdiri atau duduk di dekat lapangan pada malam hari, menunjuk-nunjuk ke atas pohon sambil menyorotkan senter kepada sesuatu yang seharusnya membuat mereka ketakutan.


Dan sesuatu itu...


Diam saja di sana.


Sampai sekarang aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya kami lihat malam itu.


Pocong?


Kuntilanak?


Atau hanya sesuatu yang terlihat seperti sosok manusia dari kejauhan?


Aku tidak tahu.


Yang jelas, kami semua melihatnya.


“...Gitu doang?” ucap temanku.


“Gitu doang.”


Entah merasa kecewa atau apa, ia langsung bangkit dan kembali berjalan.


Di belakangnya, aku berjalan, memikirkan kembali malam itu.


Memikirkan kembali masa-masa kecilku yang penuh cerita.


Sekarang, sudah lebih dari satu dekade. Tak satu pun dari teman masa kecilku yang masih bisa kutemui. Untuk menghubungi mereka pun aku tidak tahu.


Hubunganku dengan mereka meregang ketika lulus SD, terutama dengan S dan V.


Mereka yang dulu literally selalu bersamaku, sementara saat ini, aku bahkan tidak tahu medsos mereka.


“Lu itu, eh... anak indigo?”


Pertanyaan temanku itu membuatku sadar dari renungan.


“Bukan, sih... kayaknya,” jawabku.


“Sekarang, nih, belakangan nggak pernah lihat penampakan-penampakan lain?”


“Selain yang udah gua ceritain tadi, gua pernah nangkep penampakan sekilas kuntilanak pakai HP, tapi pas masih kecil juga,” kataku.


“Hah? Video?”


“Iya, video... tapi selain itu, gua nggak ingat lagi pernah ngalamin lihat penampakan lain.”


“Hmm...”


“Oh!”


“Apa?”


“Belum lama, beberapa tahun sebelumnya, gua pernah ngalamin ketindihan,” kataku.


“Serius?”


“Iya. Itu sih ngeri banget. Penampakannya kurang jelas, tapi efeknya bikin mau nangis. Badan basah keringetan...”


“Kenapa nggak ceritain itu!” kata temanku sambil menghentikan langkahnya.


“Ya, karena itu gua tahu ada penjelasannya, bukan pengalaman ganjil yang gua saksikan di lingkungan nyata. Jadi, ya... gitu,” jelasku sambil meninggalkannya di belakang.


“Hadeh...” kata temanku mendengus.


“Selain itu nggak ada lagi? Yang bener-bener serem? Yang kejadian baru-baru ini?”


Temanku menanyakan itu lagi.


“Nggak ada, cuma waktu kecil aja...” jawabku lagi.


Tanpa sadar, kami sudah keluar dari gang. Suara ramai jalan raya menyambut kami.


“Mungkin bener kali, ya, kata orang, kalau anak kecil lebih sensitif dengan hal-hal goib, supernatural gitu,” ucap temanku.


“Mungkin kali, ya...”


Di perjalanan, aku menyalakan HP dan membuka chrome.


Kuketik apa yang dikatakan temanku itu, dan ini jawaban yang kudapat:


‘Anak kecil sering dianggap lebih sensitif terhadap hal supranatural karena perkembangan kognitif mereka masih dalam tahap mencampuradukkan antara imajinasi dan kenyataan.’

Juga dijelaskan soal ‘teman imajinasi’.


Aku tidak punya pengalaman itu karena masa kecilku sudah sangat ramai teman, berbeda dengan… ketika sudah dewasa.


Aku scroll lebih dalam. Juga dijelaskan tentang ‘distorsi ingatan’.


Katanya,


‘Ingatan manusia bukan rekaman yang sempurna, melainkan seperti puzzle yang terus dirakit ulang. Setiap kali sebuah kejadian diingat atau diceritakan kembali, otak dapat menambahkan detail baru tanpa disadari, sehingga ingatan tersebut terasa semakin nyata dan meyakinkan.’


Scroll lagi, ada juga penjelasan fenomena false memory dan waking dream.


Namun, yang menurutku mungkin menjadi penjelasan paling masuk akal adalah fenomena distorsi ingatan itu.


Tapi, jujur, aku juga tidak 100% menerimanya. Bagaimanapun, ingatan-ingatan itu terlalu nyata.


Tidak hanya itu, menceritakannya kepada temanku bukan pertama kalinya aku merasa demikian.


Sudah cukup lama sejak kejadian-kejadian horor itu selalu kupikirkan, dan kurasa kejadiannya selalu sama.


Aku rasa begitu.


Kayaknya.


Mungkin.


Aku kemudian menutup HP-ku, disadarkan oleh klakson mobil di sampingku.


Temanku tidak berkata apa pun, bahkan ketika sudah hampir dekat rumahku.


Beberapa saat kemudian, aku masuk gang dan berjalan sedikit. Di ujung sana terdapat rumah berwarna hijau.


Rumahku.


Selesai melepas sepatu dan mencuci kaki, aku menjatuhkan diri di kasur.


Hari itu, hari yang cepat.


Setelah ini, aku tahu hari-hari monoton, namun melelahkan akan kembali datang.


Monoton yang terus berulang-ulang, yang kurasa mungkin perlahan mengiris kewarasanku.


Tapi, sekali lagi, aku tidak yakin.


Satu hal yang aku tahu, setiap kali hari akan berakhir, aku selalu merasa,


'Gitu doang?' 


Ya, gitu doang, kataku.


-Tamat-


Comments