-Singgah di Istana Sang Pangeran-
Cowok itu berjalan menyusuri trotoar yang cukup ramai sambil menggandeng tangan sang pacar, melewati beberapa toko dan orang-orang yang sesekali melirik ke arah mereka.
Si gadis berjalan anggun di sampingnya sambil menggenggam erat tangan cowok itu, sesekali menoleh ke belakang.
“Pangeran, ini bukan jalan menuju kediamanmu.”
“Bukan.”
“Lalu, kita hendak ke mana?”
“Ke rumah… ke kediaman utamaku.”
Langkah si gadis mendadak melambat.
“Kediaman utama?”
“Iya.”
Kini langkahnya benar-benar terhenti.
Matanya sedikit melebar.
“Jadi… kita akan ke istana kerajaanmu?”
“...Iya.”
“Oh…” gumamnya.
Tuan Putri itu terdiam, hanya menatap punggung tangan si cowok.
“Ini… pertama kalinya.”
Cowok itu menoleh ke belakang sekilas. Ia menyadari wajah pacarnya tampak sedikit tegang, dengan rona kemerahan di pipinya.
Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, ia kembali melanjutkan perjalanan.
Semakin jauh mereka berjalan, ia menyadari sesuatu.
Di belakang, pacarnya terus melihat ke kanan, lalu ke kiri.
Sesekali, cewek itu melihat ke belakang, memperhatikan orang-orang yang berjalan beberapa meter di belakang mereka.
Bahkan, ketika melewati sebuah persimpangan, ia sempat berhenti sebentar untuk memeriksa keadaan sekitar.
Cowok itu menghentikan langkahnya dan menghela napas.
“Kamu kenapa, sih?”
“Apa?”
“Dari tadi kamu celingak-celinguk… maksudku, terus melihat ke kanan-kiri begitu.”
“Aku sedang memastikan keadaan sekitar.”
“Hah?”
“Kamu lupa, ya? Aku sedang menyamar dalam pelarian.”
Tidak berkata apa-apa, si cowok hanya memejamkan mata sejenak.
Ia sudah menduga jawaban seperti itu.
Seperti baru saja disadarkan bahwa gadis itu tidak sedang bercanda dengan apa yang dikatakannya tadi di stasiun kereta bawah tanah.
“Aku tidak suka gaya bicaramu tadi.”
“Hah?”
“Kamu bahkan melupakan situasiku, padahal sudah kujelaskan beberapa menit lalu.”
“Bukan gitu—”
“Caramu memilih kata-kata, nada suaramu tadi, aku tidak suka. Apa ini? Terik matahari membakar
otakmu?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Ia menatap wajah pacarnya beberapa detik, mencoba menyusun kalimat yang sekiranya tidak akan membuat pembicaraan ini semakin panjang.
“Maaf.”
“Hanya itu?”
“Iya.”
Alis si gadis sedikit terangkat.
“...Aku kira belakangan kamu sudah pandai memilih kata-kata.”
Si cowok tidak membalas perkataan itu.
Ia hanya menatap lurus ke depan, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
“Cara kamu melihat ke kanan-kiri begitu malah bikin kamu kelihatan mencurigakan.”
Si cowok tetap berjalan, pandangannya tidak beralih sedikit pun.
“Jadi… jangan terlalu kelihatan.”
“Hm?”
“Lakukan saja dengan natural.”
Si gadis berkedip.
Ia memikirkan perkataan itu sejenak. Lalu, ekspresinya berubah.
“...Benar juga!”
Nada suaranya terdengar riang, seolah baru saja menemukan sebuah strategi yang sempurna.
“Kalau aku terlalu sering melihat ke segala arah, orang-orang justru akan menyadari bahwa aku sedang menghindari sesuatu.”
Si cowok mengangguk kecil.
“Ya.”
“Hmm…”
Si gadis kembali menatap lurus ke depan. Kali ini, langkahnya menjadi lebih tenang.
Tangannya masih mengunci tangan si cowok, berjalan di sampingnya tanpa lagi menunjukkan kegelisahan yang berlebihan.
“Sambil harus tetap waspada.”
“Ya.”
“Namun dengan cara yang lebih alami.”
“Ya.”
Gadis itu tersenyum kecil.
Langkahnya kini lebih tenang, dengan tangannya masih menggenggam erat tangan si cowok.
“Pangeran memang pintar.”
Si cowok meliriknya sekilas.
Akhirnya, pikirnya.
Mereka tampak seperti pasangan biasa yang sedang berjalan bersama.
“Pangeran.”
“Hm?”
“Apakah istanamu masih jauh dari sini?”
“Sudah dekat, kok.”
“Apakah ukurannya sangat besar?”
“Aku pikir lumayan. Tapi kalau dibandingkan dengan istanamu, tentu terlihat kecil.”
“Hmm… apakah di sana terdapat banyak pelayan?”
“...Tidak ada.”
“Jadi tidak akan ada yang menyambutku sebagai seorang tuan putri?”
“...Tidak ada. Ah, tapi adikku dan mamahku bisa memberikan sambutan hangat, kok.”
“Mamah dan adik kamu?!”
“Iya.”
“Ah, ya. Maksudku, kita akan ke kediamanmu, jadi tentu saja aku akan bertemu dengan keluargamu…”
Si cowok menatapnya sebentar.
“Kamu gugup?”
“...!”
Gadis itu kemudian melepaskan genggaman tangannya dan mulai mengoceh.
“Ya, begitulah. Maksudku, ini adalah pertama kalinya aku akan bertemu mereka. Tapi bukan masalah. Di perjalanan ini aku masih bisa mengambil napas dan menenangkan diri, jadi tidak perlu khawatir—”
Kedua tangannya bergerak ke sana kemari mengikuti ucapannya.
Si cowok hanya tersenyum kecil.
“Sayang sekali…”
“Kenapa?”
Si cowok berhenti di depan sebuah rumah.
“…”
Si gadis ikut berhenti.
Barulah ia menyadari bahwa sejak tadi mereka telah sampai di tempat tujuan.
“Kamu nggak punya waktu lagi.”
Ia menoleh kepada pacarnya.
“Kita sudah sampai di depan rumahku.”
“...!”
Mata si gadis membesar.
Ia menatap rumah di hadapannya, kemudian menoleh ke belakang, melihat jalan yang baru saja mereka lalui.
Benar-benar tidak sadar bahwa perjalanan mereka sudah berakhir.
“Sudah sampai…?”
Si cowok mengangguk.
Tuan Putri itu mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Matanya masih tertuju pada rumah tersebut.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain kendaraan yang sesekali melintas di jalan.
“Bagaimana kalau aku tidak memberikan kesan yang baik?”
“Jangan khawatir.”
“Jangan khawatir?”
“Iya.”
“Tapi ini keluargamu.”
“Hanya mamah dan adikku, bukan keluarga besar. Papahku juga sedang bekerja.”
“Tapi…”
“…Mamah sudah cukup kenal kamu, kok.”
“Ini pertama kalinya aku bertemu mereka. Bagaimana bisa?”
“Aku… aku sering cerita ke mamah dan papah soal kamu.”
“Kamu cerita soal diriku ke orang tua kamu? Soal apa?” tanya gadis itu dengan semangat.
“Banyak hal…”
“Seperti apa?”
Cowok itu memalingkan wajah ke samping.
“Pokoknya banyak hal… Kita juga sudah sering mengunggah foto bersama ke media sosial.
Mamah sudah kenal kamu, kok. Jadi, jangan khawatir.”
“Hmm…”
Cowok kemudian berbalik menghadap pintu rumah.
“Masuk?”
Si gadis tidak bergerak.
“…Tunggu.”
“Kamu sudah nggak gugup, kan?”
“Sedikit…”
Si gadis merapikan rambutnya.
Kemudian pakaiannya. Ia bahkan sempat memeriksa sepatu dan stocking-nya, memastikan tidak ada sesuatu yang terlihat berantakan.
Setelah itu, ia berdiri tegak. Senyumnya perlahan muncul.
“Baiklah.”
Ia kembali meraih tangan si cowok.
“Sekarang aku siap.”
Si cowok menatapnya.
“Yakin?”
“Tentu.”
Mereka berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia memasuki “istana kerajaan” sang pangeran.
Begitu mereka masuk, si cowok menutup pintu di belakang mereka.
Rumah itu cukup tenang. Tidak ada suara televisi dari ruang tengah, tidak ada percakapan yang terdengar dari lantai atas.
Si gadis berdiri di sampingnya. Ia menatap sekeliling dengan penuh perhatian.
“Ini… istana utama kerajaanmu?”
“…Rumah.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah ruang tengah.
“Abang, udah pulang? Cepet banget, kirain lagi ngedate bareng pacar—”
Seorang perempuan muncul dari balik pintu.
Ia berhenti ketika melihat si gadis berdiri di samping anaknya.
Matanya berpindah dari si cowok kepada tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Kemudian kembali kepada si gadis.
“Oh?”
Si cowok hanya diam.
Perempuan itu tersenyum.
“Selamat datang… Silakan masuk. Maaf kalau rumahnya berantakan.”
“Selamat siang, Tante.”
Jawabannya keluar sedikit terlalu cepat.
Si cowok meliriknya.
Sang ibu tersenyum semakin lebar.
“Wah…” ucap wanita itu melihat sang tuan putri dari atas hingga bawah.
“Ah, maaf. Yuk, masuk. Masuk.”
Ia kemudian berjalan kembali ke dalam rumah sambil memberikan isyarat agar mereka mengikuti.
Si gadis melangkah masuk dengan hati-hati. Sebelum melewati ambang pintu, ia sempat menoleh kepada si cowok.
“Pangeran.”
“Hm?”
“Apakah budaya di sini mengharuskanku melepas sepatu sebelum memasuki istana?”
Si cowok menatapnya sebentar.
“…Sayangnya, iya. Maaf.”
“Oh...”
Cowok itu membungkuk.
“Biar aku.”
“Terima kasih, Pangeran. Aku suka itu. Hehe…”
Ia melepas ikatan pita pada sepatu pacarnya.
Ikatannya terlihat rumit, tetapi ia sedikit terkejut ketika ternyata hanya dengan satu tarikan, tali itu langsung terlepas dan sepatu tersebut melonggar dengan sendirinya.
Gadis itu meletakkan salah satu tangannya di pundak si cowok ketika mengangkat sedikit kakinya untuk melepaskan sepatu.
Setelah itu, sepatu tersebut diletakkan di rak bersama sepatu miliknya.
Itu adalah momen kecil yang membuat wajah sang tuan putri tersenyum lebar.
Terbawa suasana, ia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya sempat beberapa kali mengelus rambut si cowok.
Mereka kemudian melangkah ke ruang tamu. Di sana, ibu si cowok berdiri sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.
“Mau mamah bikin minum apa, Bang?”
“Nanti aja, Mah. Aku yang buat. Aku… mau ngadem dulu bentar di kamar.”
“Oh, yaudah.”
Gadis itu sekali lagi bertukar senyum dengan wanita tersebut.
Mereka melanjutkan langkah, menaiki tangga, hingga akhirnya tiba di sebuah kamar.
“Maaf berantakan. Serius.”
Kamar itu sebenarnya tidak benar-benar berantakan. Justru, semuanya terlihat tertata—dalam arti harfiah.
“Ka-kamu… ini…”
Semua barang tertata rapi—di dalam kardus. Beberapa kardus yang ditumpuk itu tertutup rapat dan disusun sedemikian rupa, menyisakan ruang yang cukup di dalam kamar.
“Ah, iya…”
“Apa yang terjadi?!”
Si gadis menganga tidak percaya. Tangannya terangkat, menunjuk sebuah kasur tanpa rangka yang hanya tergeletak di lantai.
“...Jadi, gini—”
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu terdengar.
Cowok itu segera berbalik. Di sana, ibunya berdiri.
“Maaf ganggu…”
“Kenapa, Mah?”
“Kamu bisa jemput adik dulu sebentar? Di rumah temannya yang di belakang taman itu.”
...
Ia kemudian bertukar pandang dalam diam dengan sang pacar, sebelum kembali menoleh kepada ibunya.
“Yaudah. Kunci motornya di mana?”
“Di dekat TV. Mamah ambilin, ya.”
Begitu saja, sang ibu pergi meninggalkan mereka.
Menoleh kepada sang pacar, si cowok berkata, “Kamu bisa, kan, kalau aku tinggal sebentar sama Mamah?”
“...Tentu. Aku bakal jadi gadis baik dan menunggu dengan tenang di sini,” ucap si gadis dengan sedikit gemetar.
“...Jangan berbicara yang aneh-aneh, bisa?”
Kening sang tuan putri berkerut. “Hah?! ...Ah, eh, apa maksudnya itu? Kamu tidak percaya sama aku?”
“Bukan gitu, maksudku…”
“Aku paham, kok.”
Kali ini, si gadis menjawab dengan lebih mantap, wajahnya tampak serius.
...
“Kalau gitu, aku pergi dulu,” ucapnya sambil mengusap pelan kening gadis itu.
Ia segera keluar kamar, meninggalkan pacarnya yang terkejut hingga wajahnya memerah akibat tindakan mendadak tersebut.
Seolah dia sedang membalas saat kepalanya dielus ketika aku melepaskan sepatunya tadi, pikir si gadis.
Sementara itu, di ruang tamu, cowok itu menenteng helm dan kunci motor ketika hendak menuju pintu.
Namun, langkahnya terhenti.
Ia menoleh ke belakang.
“Mah…”
“Hmm?”
“Mamah tahu, kan, pacar aku itu… gitu… agak unik.”
“Tahu, kok. Kamu pernah cerita juga. Jadi bikin penasaran banget!”
Cowok itu menghela napas. “Aku udah duga Mamah bakal mikir gitu.”
“Udah, kamu berangkat aja. Tenang aja.”
“Aku cuma mau bilang, kalau Mamah mau ngajak dia ngobrol… silakan aja. Aku cuma ngingetin biar nggak kaget.”
“Iya, iya…”
“Yaudah, aku berangkat.”
“Hati-hati.”
Beberapa saat kemudian, motor yang ditungganginya mulai melaju.
Ia berusaha untuk tetap fokus dan berhati-hati di jalan. Namun, bukan terik matahari yang membuatnya khawatir.
Melainkan sang pacar.
Dan juga sang ibu.
Apa yang akan dikatakan sang tuan putri?
Apa yang akan dikatakan sang ibu?
Apa yang akan mereka bicarakan?
Namun, pikirannya tiba-tiba teralihkan oleh sesuatu yang dilihatnya di depan.
Di sebuah kafe, di kursi outdoor, duduk seseorang yang sangat dikenalnya.
Ia segera menepi dan menghentikan motornya.
“Bang Dami!”
Pria itu menoleh.
“Loh… Lo bukannya lagi ngedate sama pacar?”
Cowok itu turun dari motornya.
“Iya… Dia lagi di rumah. Ini gue mau jemput adek bentar.”
“Oh…”
“Nggak sama Mima?”
“Sama dia, kok. Lagi mesen tuh di dalam.”
“Oh…”
“Kenapa?”
“Singkat aja… gue cuma mau bilang makasih banget, Bang. Sama lo, sama Mima juga.”
“Ahaha… Santai aja kali.”
Pria yang diajak bicara itu ikut berdiri dan membantu menegakkan tubuh si cowok yang sedang membungkuk.
“Nggak bisa gitu, Bang… Kalau gue sendirian, mungkin nggak bakal bisa memenuhi semua permintaan pacar gue.”
“Seneng sih kalau emang ngebantu banget. Gue juga ngerti, kok. Sebagai sesama individu yang punya cewek unik…”
Pria itu tertawa tipis, lalu mengisyaratkan si cowok agar duduk.
“Ahahaha…”
“Bagaimanapun itu adalah salah satu sisi ‘charming’ paling kuat mereka, ada karakter. Hahaha,” ucap pria itu.
Ketika hendak duduk, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Felix!”
Terkejut, cowok itu segera menoleh ke belakang.
“Mima.”
Seorang perempuan datang dari belakang sambil membawa sepiring donat. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat dirinya sedikit terkejut.
“Lagi ngobrolin sesuatu?”
“Ah, nggak. Cuma mau bilang makasih sekali lagi karena udah dikenalin sama pemilik tempat sewa kuda dan udah dikenalin ke banyak tempat part-time…”
“Oh, itu? Ya, berterima kasihlah karena aku cewek yang punya banyak koneksi. Hahaha.”
“Mima…”
“Apa, Beb!? Puji aku dong!”
“Ya, ya, kamu hebat…”
“Suapin aku itu,” kata perempuan itu sambil menunjuk donat yang dibawanya.
“Yaudah, kalau gitu gue lanjut jalan lagi, ya. Sekali lagi, makasih.”
“Oke…”
“Oke! Hati-hati!”
Tak lama kemudian, sosok kedua orang yang dikenalnya itu semakin mengecil. Cowok itu—Felix—memperhatikan mereka melalui kaca spion sebelah kiri.
Pikirannya kembali melayang, tetapi kali ini dengan lebih santai.
Perkataan pria bernama Dami itu membuatnya berpikir bahwa memiliki pacar dengan karakter unik hanyalah salah satu sisi charming dari mereka.
Tidak banyak gadis seperti mereka di luar sana.
Di sisi lain, ada banyak pria yang justru merasa kesusahan memiliki pasangan seperti itu.
Di sisi lain juga, mungkin ada pula pria yang iri melihat hubungan mereka.
Memiliki pacar dengan karakter unik yang bisa membuat percakapan sederhana berkembang menjadi sesuatu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Terkadang melelahkan, terkadang membingungkan.
Namun, hanya salah satu sisi paling menarik dari mereka.
“Karakter, ya…”
Felix bergumam pelan sambil melajukan motornya.
Ia kemudian tersenyum ketika teringat sebuah momen di masa lalu—saat Dami dan Mima belum menjadi pasangan.
Mima adalah gadis populer yang terkenal nakal. Ia pernah mencoba menjadi gadis baik demi mendapatkan perhatian Dami, tetapi tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menjahili pria itu.
Meskipun situasinya mirip dengan yang dialami Felix sekarang, ia merasa keadaan Dami jauh lebih sulit. Bagaimanapun, Mima jauh lebih unik daripada sang tuan putrinya.
Comments
Post a Comment